Puasa 72 Jam Diklaim Bisa Mereset Sistem Imun, Ini Fakta Penelitian Ilmuwan University of Southern California

0
1793698783194-1

INTERNASIONAL – Klaim bahwa puasa selama 72 jam dapat membantu meremajakan sistem kekebalan tubuh atau sistem imun kembali menjadi perhatian. Penelitian ilmiah yang dipimpin Valter Longo dari University of Southern California (USC) pada 2014 memang menemukan potensi regenerasi sistem imun melalui mekanisme biologis yang berkaitan dengan puasa berkepanjangan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Cell Stem Cell tersebut mengungkap bahwa siklus puasa berkepanjangan dapat memengaruhi produksi dan regenerasi sel darah putih, terutama melalui aktivitas sel punca hematopoietik di sumsum tulang.

Namun, ada hal penting yang perlu dipahami: temuan regenerasi sistem imun secara kuat dalam penelitian tersebut terutama berasal dari percobaan terhadap hewan, bukan bukti bahwa manusia sehat dapat mereset seluruh sistem imunnya hanya dengan satu kali puasa 72 jam.

Bagaimana Puasa Memengaruhi Sistem Imun?

Dalam penelitian terhadap tikus, para ilmuwan mengamati efek siklus puasa berkepanjangan selama 2–4 hari yang dilakukan berulang kali.

Puasa tersebut menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih. Setelah periode puasa berakhir dan hewan kembali mendapatkan makanan, terjadi proses pemulihan yang melibatkan aktivitas sel punca hematopoietik.

Sel punca hematopoietik merupakan sel induk yang berperan menghasilkan berbagai jenis sel darah, termasuk sel darah putih yang menjadi bagian penting dari sistem pertahanan tubuh.

Peneliti juga menemukan keterlibatan dua jalur biologis penting, yaitu penurunan sinyal insulin-like growth factor 1 (IGF-1) dan aktivitas protein kinase A (PKA).

Perubahan sinyal tersebut berkaitan dengan proses pemeliharaan dan pembaruan sel punca, sehingga berpotensi mendukung regenerasi sistem pembentukan sel darah.

Potensi Perlindungan terhadap Efek Kemoterapi

Temuan lain yang menarik adalah potensi puasa berkepanjangan dalam membantu melindungi sistem pembentukan darah dari dampak kemoterapi.

Dalam penelitian praklinis, siklus puasa menunjukkan efek perlindungan terhadap sejumlah kerusakan yang berkaitan dengan kemoterapi.

Peneliti juga menemukan perubahan yang berkaitan dengan penurunan dampak penuaan terhadap sistem pembentukan sel darah.

Meski demikian, hasil penelitian pada hewan tidak dapat langsung dianggap berlaku sama pada manusia.

Bagaimana dengan Manusia?

Pada manusia, penelitian awal menunjukkan adanya kemungkinan manfaat puasa berkepanjangan dalam konteks tertentu.

Salah satu penelitian klinis fase awal yang melibatkan pasien kanker mengevaluasi puasa sekitar 72 jam di sekitar periode pemberian kemoterapi.

Hasilnya memberikan indikasi bahwa puasa berpotensi memengaruhi perubahan jumlah dan komposisi sel darah putih selama pengobatan.

Namun, penelitian tersebut masih bersifat pendahuluan dan melibatkan populasi pasien dengan kondisi medis tertentu.

Belum ada bukti kuat bahwa satu kali puasa 72 jam mampu meregenerasi seluruh sistem imun manusia sehat secara menyeluruh.

Valter Longo juga menekankan bahwa bukti regenerasi sistem imun secara lengkap jauh lebih kuat pada penelitian hewan dibandingkan penelitian manusia.

Puasa 72 Jam Tidak Sama dengan Puasa Intermiten

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara puasa intermiten biasa dan puasa berkepanjangan selama 72 jam.

Puasa selama tiga hari tanpa asupan kalori memberikan tekanan metabolik yang berbeda dibandingkan pola puasa harian seperti 16:8.

Puasa berkepanjangan juga memiliki risiko, termasuk dehidrasi, gangguan elektrolit, hipoglikemia, tekanan darah rendah, hingga gangguan kesehatan lainnya pada individu tertentu.

Karena itu, puasa selama 72 jam tidak boleh dianggap sebagai metode detoksifikasi atau terapi regenerasi imun yang bisa dilakukan sembarangan.

Orang dengan penyakit tertentu, pengguna obat-obatan, ibu hamil atau menyusui, serta mereka yang memiliki risiko gangguan gula darah perlu mendapatkan pertimbangan medis sebelum melakukan pembatasan makan berkepanjangan.

Fasting-Mimicking Diet sebagai Alternatif Penelitian

Menariknya, Valter Longo kemudian turut mengembangkan pendekatan yang dikenal sebagai fasting-mimicking diet (FMD), yaitu pola makan yang dirancang untuk meniru sebagian perubahan metabolik selama puasa tanpa harus sepenuhnya berhenti makan.

Pendekatan ini menjadi salah satu bidang penelitian dalam hubungan antara metabolisme, penuaan, dan kesehatan manusia.

Meski demikian, FMD juga bukan pengganti pengobatan medis dan manfaatnya masih terus diteliti dalam berbagai kondisi.

Kesimpulan

Penelitian tahun 2014 yang dipimpin Valter Longo memberikan perspektif menarik mengenai hubungan antara puasa berkepanjangan dan regenerasi sistem imun.

Namun, istilah populer “reset sistem imun dalam 72 jam” perlu dipahami secara hati-hati.

Bukti ilmiah menunjukkan adanya potensi mekanisme regenerasi pada hewan, sementara penelitian manusia masih terbatas dan belum membuktikan terjadinya pembaruan total sistem kekebalan tubuh.

Dengan demikian, puasa berkepanjangan bukanlah terapi ajaib. Keputusan untuk melakukannya harus mempertimbangkan kondisi kesehatan dan risiko medis masing-masing individu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *