Racun Lebah Madu Mengandung Melittin yang Mampu Merusak Sel Kanker Payudara, Ini Hasil Penelitiannya

0
1789229835635-1

JAKARTA — Racun lebah madu ternyata mengandung senyawa yang menarik perhatian para peneliti kanker. Senyawa tersebut bernama melittin, komponen utama dalam racun lebah madu yang dalam penelitian laboratorium menunjukkan kemampuan merusak sel kanker payudara tertentu.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari The University of Western Australia bersama Harry Perkins Institute of Medical Research tersebut diterbitkan dalam jurnal ilmiah npj Precision Oncology pada 2020.

Dalam penelitian itu, para peneliti menguji racun lebah madu dan melittin terhadap sejumlah subtipe kanker payudara.

Hasilnya menunjukkan bahwa melittin mampu menyebabkan kerusakan pada membran sel kanker secara cepat. Efek tersebut menjadi perhatian karena membran sel merupakan bagian penting yang menjaga struktur dan fungsi sel.

Penelitian menemukan bahwa efek melittin terlihat paling kuat pada kanker payudara triple-negative (TNBC) dan kanker payudara HER2-enriched, dua jenis kanker yang dikenal memiliki karakteristik biologis tertentu dan dapat menjadi tantangan dalam pengobatan.

Dalam pengujian laboratorium, melittin disebut mampu memberikan efek terhadap sel kanker dalam waktu relatif singkat, termasuk sekitar 60 menit pada kondisi eksperimen tertentu.

Temuan tersebut membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan komponen dari racun lebah sebagai bahan yang berpotensi dikembangkan dalam riset terapi kanker.

Namun, ada satu hal penting yang harus dipahami.

Penelitian tersebut belum membuktikan bahwa racun lebah madu atau melittin dapat menyembuhkan kanker payudara pada manusia.

Penelitian yang dilakukan pada 2020 tersebut merupakan penelitian laboratorium menggunakan sel kanker. Hasil pada kultur sel tidak otomatis berarti efek yang sama akan terjadi pada tubuh manusia.

Pengembangan obat kanker membutuhkan tahapan penelitian yang panjang, mulai dari penelitian praklinis, pengujian keamanan dan efektivitas, hingga uji klinis pada manusia sebelum suatu senyawa dapat dinyatakan sebagai terapi yang aman dan efektif.

Karena itu, temuan mengenai melittin tidak seharusnya dipahami sebagai anjuran untuk menggunakan sengatan lebah, racun lebah, atau produk berbahan racun lebah sebagai pengobatan kanker.

Sebaliknya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa komponen tertentu dalam racun lebah memiliki karakteristik biologis yang menarik untuk terus dipelajari secara ilmiah.

Kanker payudara sendiri memiliki berbagai subtipe dengan karakteristik molekuler yang berbeda. Karena itu, penelitian mengenai terapi kanker modern semakin diarahkan pada pendekatan yang lebih spesifik terhadap karakteristik sel kanker.

Temuan dari The University of Western Australia dan Harry Perkins Institute of Medical Research menjadi salah satu contoh bagaimana senyawa alami dapat diteliti sebagai kandidat untuk pengembangan terapi di masa depan.

Kesimpulannya, melittin memang menunjukkan kemampuan merusak sel kanker payudara tertentu dalam penelitian laboratorium, tetapi belum dapat disebut sebagai obat kanker untuk manusia. Penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengetahui keamanan, dosis, efektivitas dan kemungkinan penerapannya dalam terapi klinis.

Sumber: npj Precision Oncology, The University of Western Australia, dan Harry Perkins Institute of Medical Research.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *