Suhu Tubuh 37 Derajat Celsius Ternyata Jadi Benteng Alami Melawan Jamur, Ilmuwan Ungkap Ancaman Pemanasan Global
INTERNASIONAL – Tubuh manusia ternyata memiliki salah satu mekanisme perlindungan alami yang selama ini jarang disadari. Suhu tubuh yang berada di kisaran 37 derajat Celsius bukan sekadar indikator kondisi normal, tetapi juga menjadi salah satu benteng biologis yang membantu manusia terlindungi dari berbagai jenis jamur penyebab penyakit.
Fakta menarik ini berkaitan dengan kemampuan sebagian besar jamur yang tidak mampu tumbuh dengan baik pada suhu tinggi seperti suhu tubuh mamalia.
Di alam, terdapat jutaan spesies jamur yang hidup di berbagai lingkungan. Namun, hanya sebagian kecil yang mampu bertahan dan berkembang pada suhu tubuh manusia.
Artinya, suhu tubuh manusia memberikan hambatan alami bagi banyak spesies jamur yang berpotensi menjadi penyebab infeksi.
Penelitian Ilmuwan Ungkap Peran Suhu Tubuh Manusia
Penelitian yang dilakukan Vincent A. Robert dan Arturo Casadevall dan dipublikasikan dalam The Journal of Infectious Diseases pada 2009 menemukan bahwa sebagian besar jamur tidak mampu tumbuh pada suhu tubuh mamalia.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis 4.802 isolat jamur dari 144 genus.
Hasilnya menunjukkan bahwa setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celsius dalam rentang 30–40 derajat Celsius dapat menghambat pertumbuhan sekitar 6 persen isolat jamur tambahan.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kemampuan mamalia mempertahankan suhu tubuh relatif tinggi merupakan salah satu mekanisme perlindungan alami terhadap penyakit jamur.
Dengan kata lain, suhu tubuh manusia bukan hanya membantu menjaga fungsi organ, tetapi juga menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi sebagian besar jamur.
Mengapa Infeksi Jamur Serius Relatif Jarang?
Berbeda dengan bakteri dan virus, sebagian besar jamur lingkungan tidak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dan berkembang biak pada suhu tubuh manusia.
Inilah salah satu alasan mengapa hanya sebagian kecil spesies jamur yang mampu menjadi patogen bagi manusia.
Meski demikian, bukan berarti manusia sepenuhnya kebal terhadap infeksi jamur.
Risiko dapat meningkat pada orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, pasien yang menjalani perawatan intensif, maupun mereka yang memiliki kondisi medis tertentu.
Pemanasan Global Memunculkan Kekhawatiran Baru
Ancaman baru muncul ketika perubahan iklim dan peningkatan suhu lingkungan mulai menjadi perhatian para ilmuwan.
Salah satu kekhawatiran yang dikaji adalah kemungkinan sebagian spesies jamur mengalami adaptasi terhadap suhu lingkungan yang semakin tinggi.
Jika jamur mampu meningkatkan toleransi terhadap panas, kemampuan sebagian spesies untuk bertahan pada suhu tubuh mamalia juga berpotensi meningkat.
Arturo Casadevall bersama sejumlah peneliti pernah mengemukakan hipotesis bahwa perubahan iklim dapat berperan dalam munculnya jamur patogen baru.
Salah satu organisme yang menjadi perhatian adalah Candida auris.
Candida auris, Jamur yang Menjadi Perhatian Dunia
Candida auris merupakan jenis jamur patogen yang menjadi perhatian dunia kesehatan karena kemampuannya menyebabkan infeksi serius, terutama pada pasien dengan kondisi kesehatan rentan.
Jamur ini pertama kali diidentifikasi pada 2009 dan kemudian ditemukan di berbagai negara.
Salah satu karakteristik yang membuatnya mengkhawatirkan adalah kemampuannya bertahan pada suhu relatif tinggi serta resistensinya terhadap sejumlah obat antijamur.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal mBio pada 2019 oleh Arturo Casadevall, Dimitrios P. Kontoyiannis, dan Vincent Robert membahas kemungkinan hubungan antara pemanasan global dan kemunculan Candida auris.
Para peneliti mengajukan hipotesis bahwa perubahan suhu lingkungan mungkin memberikan tekanan evolusioner yang mendorong sebagian jamur menjadi lebih toleran terhadap panas.
Namun, mereka juga menegaskan bahwa pemanasan global bukan satu-satunya faktor yang mungkin berperan. Penggunaan obat antijamur, karakteristik biologis jamur, dan faktor lingkungan lainnya juga perlu diperhitungkan.
Suhu Tubuh Manusia Juga Mengalami Perubahan
Hal menarik lainnya adalah temuan penelitian mengenai perubahan rata-rata suhu tubuh manusia selama lebih dari satu abad.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal eLife pada 2020 menemukan bahwa rata-rata suhu tubuh orang dewasa di Amerika Serikat mengalami penurunan secara bertahap sejak abad ke-19.
Penurunan tersebut diperkirakan sekitar 0,03 derajat Celsius setiap dekade kelahiran.
Para peneliti mengaitkan perubahan tersebut dengan berbagai kemungkinan faktor, termasuk perubahan kondisi kesehatan, tingkat peradangan, metabolisme, dan lingkungan kehidupan.
Namun, belum ada bukti kuat bahwa penurunan rata-rata suhu tubuh manusia tersebut secara langsung menyebabkan peningkatan infeksi jamur.
Benteng Alami Tubuh Perlu Dipahami
Berbagai penelitian tersebut memperlihatkan bahwa suhu tubuh mamalia memiliki peran penting dalam membatasi kemampuan banyak jamur untuk menjadi penyebab penyakit.
Di tengah perubahan iklim, penelitian mengenai kemampuan adaptasi jamur menjadi semakin penting.
Ancaman seperti Candida auris menunjukkan bahwa dunia kesehatan perlu terus mengembangkan pengawasan, penelitian, serta strategi pengendalian infeksi.
Sebab, perubahan lingkungan bukan hanya berdampak terhadap cuaca, ekosistem, dan kehidupan manusia, tetapi juga berpotensi memengaruhi evolusi mikroorganisme yang hidup di sekitar kita.
Suhu tubuh manusia mungkin terlihat sebagai sesuatu yang sederhana. Namun, di balik angka sekitar 37 derajat Celsius, terdapat mekanisme pertahanan biologis yang terbentuk melalui proses evolusi panjang.
Sebuah pengingat bahwa tubuh manusia memiliki sistem perlindungan alami yang luar biasa, tetapi tetap membutuhkan lingkungan yang sehat dan sistem kesehatan yang kuat untuk menghadapi ancaman penyakit baru.
(Admin)
