Bahlil Siapkan Ekspor Batu Bara 60 Juta Ton Tanpa Transit Singapura, Danantara Mulai Bergerak 2027

0
1793701434666-1

JAKARTA – Pemerintah Indonesia menyiapkan perubahan besar dalam tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA), khususnya komoditas batu bara. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memerintahkan agar pengiriman komoditas strategis Indonesia dilakukan langsung ke negara tujuan tanpa melalui negara perantara.

Kebijakan tersebut menjadi perhatian setelah Kementerian ESDM mengungkap bahwa sekitar 50 juta hingga 60 juta ton batu bara asal Indonesia diperkirakan selama ini transit terlebih dahulu di Singapura sebelum dikirim kembali ke negara pembeli.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyampaikan perkiraan tersebut saat memberikan keterangan di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Menurut Tri, praktik transit tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai pencatatan asal komoditas dalam perdagangan internasional. Pasalnya, Singapura bukan negara penghasil batu bara, tetapi tercatat memiliki aktivitas perdagangan komoditas tersebut.

Bahlil Minta Ekspor Langsung ke Negara Tujuan

Instruksi penghentian pengiriman melalui negara perantara disampaikan Bahlil dalam pembukaan Minerba Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Bahlil menegaskan, apabila Indonesia mengirimkan batu bara ke China, pengiriman seharusnya dilakukan langsung dari Indonesia menuju negara pembeli tersebut.

Menurutnya, penggunaan negara perantara berpotensi membuat negara persinggahan memperoleh manfaat dari aktivitas perdagangan, termasuk pencatatan ekspor dan penerimaan ekonomi lainnya.

Pemerintah ingin memastikan komoditas yang berasal dari kekayaan alam Indonesia memberikan manfaat perdagangan secara lebih langsung bagi negara.

Kebijakan ini juga tidak hanya diarahkan pada batu bara. Bahlil menyebut pengiriman komoditas sektor energi dan mineral lainnya, termasuk gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG), perlu diupayakan langsung menuju negara tujuan.

Danantara Disiapkan Kelola Ekspor Satu Pintu

Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah menyiapkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai bagian dari skema ekspor satu pintu.

Bahlil menyampaikan bahwa sistem tersebut direncanakan mulai diterapkan pada 1 Januari 2027. Melalui skema ini, pengiriman komoditas strategis diharapkan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dan langsung menuju pembeli akhir.

Selain batu bara, skema yang disiapkan juga mencakup komoditas strategis lainnya, seperti minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan ferro alloy.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kendali nasional atas perdagangan komoditas strategis, meningkatkan optimalisasi penerimaan devisa, serta memperjelas pencatatan asal barang ekspor Indonesia.

Harga Batu Bara Menguat di Pasar Global

Di tengah rencana perubahan jalur ekspor tersebut, pasar komoditas global juga mencatat penguatan harga batu bara.

Harga batu bara Newcastle kontrak November 2026 dilaporkan mencapai US$152,45 per ton pada perdagangan 30 Oktober 2026. Kenaikan ini dikaitkan dengan meningkatnya permintaan batu bara setelah gangguan pasokan gas alam cair (LNG) di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.

Perubahan harga komoditas energi global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi prospek perdagangan batu bara Indonesia.

Namun, penguatan harga internasional tetap perlu diikuti pengelolaan produksi, efisiensi pengiriman, dan kebijakan perdagangan yang mampu memberikan manfaat optimal bagi perekonomian nasional.

MDKA Catat Penjualan Produk US$817,3 Juta

Sementara itu, di sektor pertambangan, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatatkan penjualan produk sebesar US$817,3 juta sepanjang kuartal III 2026.

Kinerja tersebut terutama ditopang oleh produk nikel, termasuk Nickel Pig Iron (NPI), bijih limonit, dan High Grade Nickel Matte (HGNM). Bisnis emas serta hilirisasi asam sulfat juga memberikan kontribusi terhadap penjualan perusahaan.

Pada periode yang sama, sektor emas MDKA mencatatkan penjualan sekitar US$72,9 juta. Produksi gabungan Tambang Emas Pani dan Tambang Emas Tujuh Bukit mencapai 50.142 ons.

Perusahaan juga terus mengembangkan kapasitas operasional Tambang Emas Pani sebagai bagian dari rencana pertumbuhan bisnis emasnya.

Tantangan Mengoptimalkan Kekayaan Alam Indonesia

Perubahan jalur ekspor batu bara dan penguatan industri pertambangan menunjukkan pentingnya tata kelola sumber daya alam yang memberikan manfaat maksimal bagi Indonesia.

Pemerintah tidak hanya menghadapi tantangan meningkatkan volume ekspor, tetapi juga memastikan nilai ekonomi dari perdagangan komoditas strategis dapat tercatat dan memberikan kontribusi bagi negara.

Ke depan, efektivitas kebijakan ekspor langsung melalui Danantara akan menjadi perhatian, terutama dalam hal transparansi, efisiensi biaya logistik, kepastian kontrak dagang, serta dampaknya terhadap penerimaan negara.

Dengan pengelolaan yang tepat, kekayaan alam Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi komoditas yang diperdagangkan di pasar global, tetapi juga menjadi sumber kekuatan ekonomi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *