NAZA Gegerkan Dunia: Film Dokumenter Dua Sineas Israel Ungkap Kesaksian 24 Tentara soal Perang Gaza

0
1789978157937-1

VENESIA — Film dokumenter NAZA karya sineas Israel Yuval Abraham dan Rachel Szor menjadi salah satu karya paling kontroversial yang mencuri perhatian pada Festival Film Venesia 2026.

Film yang diproduksi oleh The Guardian dan JW Films tersebut memenangkan Special Jury Prize pada Festival Film Venesia ke-83. NAZA sebelumnya ditayangkan dalam kompetisi resmi festival pada 10 September 2026.

Respons penonton setelah pemutaran film juga menjadi perhatian. Sejumlah laporan menyebut NAZA mendapatkan tepuk tangan berdiri selama sekitar 25 menit setelah pemutaran di Venesia.

Namun, penghargaan tersebut kemudian berkembang menjadi kontroversi politik yang jauh lebih besar di Israel.

Kesaksian dari Dalam Militer Israel

NAZA dibuat secara rahasia selama sekitar tiga tahun. Film tersebut menghadirkan kesaksian anonim dari 24 tentara dan personel intelijen Israel mengenai mekanisme operasi militer Israel di Gaza.

Menurut para pembuat film, kesaksian tersebut mengungkap bagaimana sistem penargetan, teknologi berbasis kecerdasan buatan, serta pertimbangan mengenai kemungkinan korban sipil digunakan dalam proses pengambilan keputusan militer.

Festival Film Venesia sendiri mendeskripsikan NAZA sebagai film yang berusaha mengungkap sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza. Para sutradara mengatakan mereka menggunakan posisi mereka sebagai warga Israel untuk menyelidiki sistem yang menurut mereka berkontribusi terhadap kematian warga Palestina.

Laporan Associated Press menyebut film tersebut menggunakan kesaksian orang dalam mengenai penggunaan sistem berbasis AI dan mekanisme penargetan dalam perang Gaza. Para sumber diwawancarai secara anonim untuk melindungi identitas mereka.

Judul NAZA sendiri merujuk pada istilah atau akronim militer yang digunakan dalam konteks perkiraan korban sipil yang dapat timbul akibat suatu serangan. New York Film Festival juga menjelaskan NAZA sebagai istilah militer yang merujuk pada jumlah korban sipil yang diperkirakan dalam sebuah serangan udara.

Pemerintah dan Militer Israel Membantah Tuduhan Film

Kontroversi tersebut tidak berhenti di dunia perfilman.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam film dan para pembuatnya. Reuters melaporkan Netanyahu menyatakan akan mendorong undang-undang yang memungkinkan pencabutan kewarganegaraan terhadap orang yang dianggap mencemarkan nama baik tentara Israel, sekaligus meningkatkan sanksi finansial dalam perkara pencemaran nama baik.

Pemerintah dan militer Israel menolak tuduhan yang disampaikan melalui film tersebut. Menurut laporan AP, Netanyahu dan Kepala Staf Umum militer Israel Letjen Eyal Zamir mengecam film itu dan menyebutnya menyesatkan serta antisemitik. Militer Israel juga menolak tuduhan bahwa pembunuhan warga sipil secara sistematis dijadikan bagian dari kebijakan penargetan.

Dengan demikian, berbagai kesaksian dalam NAZA merupakan materi investigasi yang menjadi dasar film, bukan dengan sendirinya merupakan putusan pengadilan yang telah menetapkan seluruh tuduhan tersebut sebagai fakta hukum.

Tekanan terhadap Para Pembuat Film

Setelah film tersebut mendapat penghargaan di Venesia, tekanan terhadap Yuval Abraham dan Rachel Szor meningkat.

Menteri Kebudayaan Israel Miki Zohar dilaporkan meminta aparat hukum dan keamanan mengkaji kemungkinan pencabutan kewarganegaraan kedua sineas tersebut serta meminta penyelidikan mengenai asal-usul materi rahasia yang digunakan dalam film.

Reuters juga melaporkan adanya rencana pemerintah untuk memperberat konsekuensi hukum bagi orang yang dianggap mencemarkan nama baik tentara Israel. Rencana tersebut menjadi bagian dari polemik yang lebih luas mengenai batas kebebasan berekspresi, keamanan negara, dan perlindungan terhadap institusi militer.

Tekanan tidak hanya datang melalui jalur politik. Jerusalem Post melaporkan adanya aksi protes di depan rumah orang tua Rachel Szor, dengan sejumlah demonstran menyebut para pembuat film sebagai pengkhianat dan menyerukan hukuman berat.

Film, Kesaksian dan Perdebatan Publik

NAZA pada akhirnya tidak hanya menjadi film dokumenter tentang perang Gaza.

Karya tersebut berubah menjadi arena perdebatan mengenai sejauh mana kesaksian orang dalam dapat membuka informasi mengenai operasi militer, bagaimana teknologi AI digunakan dalam perang, serta bagaimana sebuah negara merespons kritik dari warganya sendiri.

Bagi para pembuatnya, film tersebut merupakan upaya jurnalistik untuk membuka sistem yang mereka nilai perlu diperiksa secara lebih mendalam. Festival Venesia secara resmi mencatat bahwa film tersebut dibangun dari investigasi selama tiga tahun dan sejumlah temuannya sebelumnya telah diberitakan oleh The Guardian, +972 Magazine, dan Local Call.

Sementara itu, pemerintah Israel mempertahankan pandangan bahwa tuduhan tersebut menyesatkan dan merusak reputasi tentaranya.

Perbedaan tajam antara kedua posisi tersebut menjadikan NAZA bukan hanya sebuah karya sinema, tetapi juga bagian dari perdebatan internasional mengenai perang Gaza, kebebasan pers, perlindungan terhadap sumber anonim, dan pertanggungjawaban atas tindakan militer.

Film tersebut dijadwalkan melanjutkan perjalanan internasionalnya, termasuk pemutaran di New York Film Festival pada akhir September 2026.

Pada akhirnya, kontroversi NAZA memperlihatkan bahwa sebuah film dokumenter dapat melampaui layar bioskop ketika kesaksian yang dibawanya menyentuh persoalan perang, kekuasaan, kebebasan berekspresi, dan pertanggungjawaban publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *