Gus Dur Datang sebagai Presiden, Mbah Dullah Memintanya Lewat Pintu Belakang: “Kalau Datang sebagai Saudara”

0
1789977999395-1

PATI — Ada sebuah kisah dari Kajen, Pati, Jawa Tengah, yang hingga kini terus dikenang sebagai cerita tentang adab, kerendahan hati, dan bagaimana seseorang menempatkan jabatan pada tempatnya.

Kisah itu mempertemukan dua sosok penting dalam tradisi pesantren: KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang baru saja menjadi Presiden Republik Indonesia pada 1999, dan KH Abdullah Zain Salam atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Dullah Kajen.

Menurut riwayat yang dimuat PCNU Pati, Mbah Dullah termasuk sosok yang disowani Gus Dur pada masa-masa awal setelah Gus Dur menjadi presiden. Ketika mengetahui Gus Dur hendak datang, Mbah Dullah sempat keberatan karena Gus Dur ketika itu telah menjadi seorang umara atau penguasa.

Dari situlah muncul pesan yang kemudian menjadi bagian paling terkenal dari kisah tersebut.

“Kalau Gus Dur datang ke sini sebagai presiden, silakan lewat pintu depan. Kalau datang ke sini sebagai saudara, silakan lewat pintu belakang.”

Gus Dur kemudian dikisahkan memilih pintu belakang.

Bukan melalui jalur penyambutan resmi, tetapi melalui bagian belakang rumah Mbah Dullah, melewati dapur, jemuran, dan lingkungan sederhana pesantren. Ketika bertemu Mbah Dullah, Gus Dur disebut langsung bersimpuh dan mencium tangan sang kiai.

Menurut riwayat yang sama, Gus Dur kemudian memperkenalkan dirinya dengan bahasa Jawa halus:

“Niki kulo Durrohman, Mbah. Sanes presiden.”

Artinya, “Ini saya Durrohman, Mbah. Bukan presiden.”

Kalimat tersebut menjadi inti dari kisah yang menggambarkan bagaimana Gus Dur menempatkan dirinya ketika sedang sowan kepada seorang kiai yang dituakan.

Di satu tempat, ia adalah Presiden Republik Indonesia. Namun ketika berada di hadapan guru dan ulama, ia datang sebagai seorang santri yang meminta doa serta nasihat.

Ketika Jabatan Tidak Dibawa Masuk

Kisah pintu belakang tersebut menarik bukan semata-mata karena seorang presiden berjalan melewati lingkungan sederhana pesantren.

Maknanya justru terletak pada cara Gus Dur dan Mbah Dullah menempatkan hubungan antara kekuasaan dan adab.

Mbah Dullah tidak disebut meminta perlakuan khusus karena kedatangan seorang presiden. Sebaliknya, ia memberikan pilihan: jika Gus Dur datang dalam kapasitas kenegaraan, pintu depan terbuka sebagai jalur penghormatan kepada seorang kepala negara. Tetapi jika datang sebagai saudara dan santri, pintu belakang menjadi jalan untuk memasuki rumah sang kiai.

Gus Dur memilih jalan yang kedua.

Tidak ada persoalan dengan protokol kenegaraan. Namun konteks pertemuan itu adalah sowan kepada seorang kiai.

Karena itu, jabatan presiden tidak dijadikan alasan untuk meminta perlakuan istimewa.

Mbah Dullah, Ulama Sepuh Kajen

KH Abdullah Zain Salam dikenal sebagai salah satu ulama sepuh Kajen, Pati. Dalam tulisan PCNU Pati, Mbah Dullah disebut pernah belajar di Tebuireng kepada KH Hasyim Asy’ari, kemudian memperdalam ilmu qiraah kepada KH Arwani Amin di Kudus serta melanjutkan rihlah keilmuan kepada KH Abdul Hamid Pasuruan.

Namanya juga lekat dengan tradisi keilmuan Al-Qur’an dan kehidupan pesantren.

Dalam berbagai kisah yang beredar di lingkungan pesantren, Mbah Dullah digambarkan sebagai sosok yang sederhana dan menjaga jarak dari kemewahan kekuasaan.

Kisah pertemuannya dengan Gus Dur kemudian menjadi salah satu cerita yang sering digunakan untuk menggambarkan hubungan ideal antara seorang pemimpin dan guru spiritualnya.

Presiden yang Datang sebagai Santri

Ada sebuah gambaran sederhana tetapi kuat dalam kisah tersebut.

Seorang kepala negara berjalan memasuki lingkungan pesantren melalui bagian belakang. Di sekelilingnya bukan karpet merah atau panggung kehormatan, melainkan halaman rumah, jemuran pakaian dan gang-gang sederhana.

Namun justru di situlah pesan moralnya terasa.

Kedudukan seseorang tidak selalu menentukan bagaimana ia harus bersikap dalam setiap ruang.

Di Istana Negara, Gus Dur menjalankan tugas konstitusional sebagai Presiden Republik Indonesia.

Ketika sowan kepada seorang kiai, ia menjalankan adab seorang santri.

Keduanya tidak bertentangan.

Justru kemampuan menempatkan diri sesuai konteks itulah yang membuat kisah tersebut terus dikenang.

Jabatan Ada Masanya, Adab Harus Dijaga

Kisah Gus Dur dan Mbah Dullah juga menyimpan pelajaran yang relevan hingga sekarang.

Jabatan dapat berubah.

Kekuasaan dapat berpindah.

Gelar dapat datang dan pergi.

Tetapi penghormatan kepada guru, orang tua, ulama, dan sesama manusia merupakan nilai yang jauh lebih panjang umurnya.

Seseorang tidak menjadi kecil hanya karena mau duduk lesehan.

Seorang pejabat tidak kehilangan kehormatan hanya karena memilih berjalan melalui pintu belakang.

Dan seorang pemimpin tidak kehilangan kewibawaan hanya karena bersedia menjadi manusia biasa di hadapan orang yang ia hormati.

Justru dari sikap semacam itulah kewibawaan moral sering kali tumbuh.

Bukan Tentang Pintu Depan atau Pintu Belakang

Pada akhirnya, kisah ini bukan benar-benar tentang pintu depan atau pintu belakang.

Ini adalah kisah tentang pintu hati dan adab.

Pintu depan melambangkan kedudukan formal.

Pintu belakang menjadi simbol kedekatan seorang santri dengan gurunya.

Dan Gus Dur, menurut riwayat yang terus diwariskan tersebut, memilih pintu yang kedua.

Ia tidak datang untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah presiden.

Ia datang untuk menunjukkan bahwa di hadapan gurunya, ia tetap seorang santri.

Barangkali karena itulah kalimat sederhana:

“Niki kulo Durrohman, Mbah. Sanes presiden.”

tetap terasa kuat hingga hari ini.

Sebab di balik kalimat tersebut terdapat sebuah pesan yang sederhana: setinggi apa pun seseorang mencapai kedudukan, jangan sampai jabatan membuatnya lupa bagaimana cara menghormati guru.

Jabatan ada masanya.

Kekuasaan ada batasnya.

Tetapi adab dan kerendahan hati adalah warisan yang dapat terus hidup bahkan setelah seseorang meninggalkan jabatannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *