China dan “Matahari Buatan”: EAST Berhasil Menjaga Plasma Ekstrem, Teknologi Fusi Nuklir Terus Dikembangkan

0
1789144035131-1

SOROTAN PUBLIK — China kembali menjadi sorotan dunia melalui pengembangan teknologi fusi nuklir. Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian adalah EAST (Experimental Advanced Superconducting Tokamak), perangkat berbentuk menyerupai donat yang digunakan untuk menciptakan sekaligus mengendalikan plasma dalam kondisi ekstrem.

EAST kerap mendapat julukan “Matahari Buatan”. Namun, istilah tersebut bukan berarti China benar-benar menciptakan sebuah bintang mini di Bumi.

Julukan itu muncul karena penelitian EAST berupaya meniru proses dasar yang membuat Matahari menghasilkan energi, yakni fusi nuklir.

Dalam proses fusi, inti atom ringan digabungkan dalam kondisi temperatur ekstrem sehingga menghasilkan energi dalam jumlah sangat besar. Tantangan utama para ilmuwan adalah menciptakan kondisi tersebut sekaligus mempertahankan plasma agar tetap terkendali.

Di dalam EAST, plasma dapat dipanaskan hingga temperatur lebih dari 100 juta derajat Celsius. Pada Januari 2025, fasilitas tersebut mencatat pencapaian penting setelah berhasil mempertahankan plasma dalam mode high-confinement selama 1.066 detik atau sekitar 17 menit 46 detik.

Pencapaian tersebut menjadi bagian penting dari penelitian fusi nuklir karena kemampuan mempertahankan plasma bersuhu ekstrem secara stabil dalam waktu lama merupakan salah satu tantangan terbesar menuju pengembangan pembangkit listrik berbasis fusi.

China juga tidak berhenti pada EAST.

Negara tersebut tengah mengembangkan BEST (Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak), fasilitas generasi berikutnya yang diarahkan untuk membawa penelitian fusi lebih dekat menuju tahap demonstrasi pembangkitan energi.

China menargetkan demonstrasi pembangkitan listrik berbasis fusi sekitar 2030. Namun, target tersebut masih berada dalam tahap pengembangan teknologi dan menghadapi berbagai tantangan ilmiah serta rekayasa.

Fusi nuklir berbeda dengan pembangkit listrik tenaga nuklir konvensional. Pembangkit nuklir saat ini umumnya menggunakan proses fisi, yaitu pemecahan inti atom berat. Sementara itu, fusi berupaya menggabungkan inti atom ringan untuk menghasilkan energi.

Secara teori, fusi memiliki potensi menghasilkan energi dalam jumlah sangat besar dengan bahan bakar yang relatif melimpah. Proses fusi juga tidak menghasilkan emisi karbon secara langsung seperti pembakaran bahan bakar fosil.

Meski demikian, energi fusi belum dapat dianggap sebagai teknologi pembangkit listrik komersial yang siap digunakan secara luas. Para ilmuwan masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk menjaga kestabilan plasma, efisiensi energi, ketahanan material reaktor terhadap lingkungan ekstrem, serta kemampuan mengubah energi fusi menjadi listrik secara ekonomis.

Karena itu, istilah “Matahari Buatan” sebaiknya dipahami sebagai julukan populer untuk menggambarkan upaya manusia meniru mekanisme yang membuat Matahari bersinar, bukan penciptaan Matahari baru di Bumi.

Jika teknologi fusi akhirnya berhasil mencapai tahap komersial, sumber energi tersebut berpotensi mengubah peta energi dunia.

Perlombaan penelitian fusi pun bukan sekadar tentang siapa yang mampu mencapai temperatur tertinggi. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mempertahankan plasma secara stabil, menghasilkan energi secara efisien, dan pada akhirnya mengubahnya menjadi listrik yang dapat digunakan masyarakat secara luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *