Amplop Itu Ditolak Mbah Mangli, Padahal Pemberian Panitia Pengajian: “Honor” yang Jauh Lebih Berharga dari Uang
MAGELANG – Sebuah kisah tentang KH Hasan Asy’ari atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Mangli kembali menarik untuk direnungkan. Bukan tentang besarnya pengajian, banyaknya jamaah, maupun kemasyhuran seorang kiai, melainkan tentang sebuah amplop yang justru ditolak setelah beliau selesai menyampaikan dakwah.
Dalam kisah yang dimuat NU Online, Mbah Mangli disebut kerap menolak pemberian berupa amplop dari panitia pengajian. Sikap tersebut bukan karena beliau tidak membutuhkan uang atau hendak menunjukkan bahwa dirinya tidak memiliki kepentingan terhadap urusan dunia.
Ada alasan sederhana yang justru memiliki makna mendalam.
Bagi Mbah Mangli, sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang adalah ketika nasihat yang disampaikannya benar-benar diamalkan oleh jamaah.
Dengan demikian, dakwah tidak dipandang sebagai sebuah transaksi. Bukan sekadar datang, menyampaikan ceramah, menerima honor, kemudian selesai.
Lebih dari itu, keberhasilan dakwah diukur dari perubahan yang terjadi setelah jamaah meninggalkan tempat pengajian.
Orang yang sebelumnya malas menjalankan ibadah mulai memperbaiki diri. Mereka yang mudah marah mulai belajar menahan emosi. Orang yang gemar bertengkar mulai belajar memaafkan. Mereka yang sebelumnya jauh dari masjid kembali mendekat kepada kegiatan keagamaan.
Dalam perspektif itulah, “honor” yang diharapkan Mbah Mangli bukan semata-mata sesuatu yang dapat diterima dalam bentuk uang.
Honor tersebut adalah perubahan perilaku dan amal baik yang lahir dari nasihat yang disampaikan.
Kisah tersebut menjadi semakin menarik karena Mbah Mangli dikenal sebagai salah satu tokoh ulama yang memiliki pengaruh dalam perkembangan dakwah Islam di kawasan Magelang dan sekitarnya.
Pesantren Mangli berkembang menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Dakwah Mbah Mangli juga dikenal menjangkau berbagai daerah dengan jamaah yang cukup besar.
Sejumlah kisah tentang kehidupan Mbah Mangli menggambarkan sosok yang sederhana meskipun dirinya disebut memiliki aktivitas usaha dan kehidupan ekonomi yang baik.
Hal tersebut kemudian melahirkan pelajaran lain mengenai hubungan manusia dengan harta.
Memiliki kekayaan tidak selalu berarti seseorang mencintai kekayaan tersebut. Demikian pula, hidup sederhana tidak otomatis berarti seseorang terbebas dari kecintaan terhadap dunia.
Persoalannya bukan hanya seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi bagaimana seseorang menempatkan harta tersebut di dalam kehidupannya.
Dalam kisah Mbah Mangli, harta tidak ditempatkan sebagai ukuran utama keberhasilan dakwah.
Ada pula berbagai cerita yang berkembang di masyarakat mengenai cara Mbah Mangli menyampaikan pengajian. Salah satunya adalah kesaksian mengenai beliau yang disebut tidak menggunakan pengeras suara ketika berdakwah meskipun jumlah jamaah yang hadir sangat banyak.
Kisah semacam itu kemudian berkembang menjadi bagian dari cerita masyarakat mengenai karamah Mbah Mangli.
Namun, di balik berbagai cerita tersebut, terdapat hal yang lebih substansial untuk direnungkan, yakni pesan dakwah yang disampaikannya.
Sebab suara yang keras tidak selalu membuat seseorang berubah. Sebaliknya, nasihat yang disampaikan dengan ketulusan dapat meninggalkan kesan mendalam dalam hati seseorang.
Dakwah Mbah Mangli juga berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang menghadapi berbagai persoalan sosial pada masanya.
Sejumlah sumber yang mengisahkan perjalanan dakwah Mbah Mangli menyebut kondisi masyarakat sekitar Mangli ketika itu masih menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sosial dan keagamaan.
Karena itu, membangun kehidupan keagamaan masyarakat bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan hanya melalui satu kali pengajian.
Diperlukan kesabaran, ketelatenan dan keteladanan.
Dakwah juga menuntut kemampuan untuk menghadapi manusia dengan berbagai karakter dan latar belakang. Tujuannya bukan memenangkan perdebatan, melainkan mengajak manusia semakin dekat kepada kebaikan dan kepada Allah SWT.
Pelajaran tersebut terasa relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Di tengah kebiasaan mengukur hampir segala sesuatu melalui angka, keberhasilan seseorang terkadang dinilai berdasarkan jumlah uang, jumlah pengikut, jumlah penonton, jumlah orang yang hadir atau banyaknya pujian.
Tidak terkecuali dalam aktivitas dakwah.
Padahal, jumlah jamaah tidak selalu menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah nasihat.
Bisa jadi hanya satu orang yang benar-benar tersentuh, kemudian mengubah kehidupannya. Dari perubahan satu orang tersebut lahir keluarga yang lebih baik. Dari keluarga yang lebih baik, kemudian tumbuh lingkungan yang lebih baik.
Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui sejauh mana sebuah nasihat akan berkembang setelah disampaikan.
Karena itu, kisah Mbah Mangli tentang amplop tersebut dapat dipahami sebagai sebuah pengingat bahwa kebaikan tidak selalu harus diukur dengan imbalan materi.
Seorang ayah mungkin belum melihat hasil dari nasihat yang diberikan kepada anaknya.
Seorang guru mungkin belum mengetahui dampak pelajaran yang diberikan kepada muridnya.
Seorang dai mungkin tidak pernah mengetahui sejauh mana nasihatnya mengubah kehidupan seseorang.
Namun, menyampaikan kebaikan, memberikan teladan dan mengajak kepada jalan yang benar tetap merupakan bagian dari ikhtiar manusia.
Hasil akhirnya berada di luar kendali manusia.
Dari sinilah kisah amplop Mbah Mangli menjadi sebuah renungan.
Bagi panitia, amplop mungkin merupakan bentuk penghormatan dan tanda terima kasih kepada seorang kiai.
Namun bagi Mbah Mangli, ada bentuk penghormatan yang dinilai jauh lebih berarti: ketika ilmu yang disampaikan tidak berhenti sebagai kata-kata, tetapi diwujudkan dalam kehidupan.
Uang dapat habis.
Amplop dapat kosong.
Pujian dapat dilupakan.
Tetapi kebaikan yang benar-benar diamalkan seseorang dapat terus memberikan manfaat.
Barangkali itulah makna “honor” yang jauh lebih berharga daripada uang sebagaimana tergambar dalam kisah Mbah Mangli.
Honor yang pertama mungkin diberikan manusia di dunia.
Sementara honor yang kedua adalah pahala yang diharapkan dari Allah SWT.
Semoga Allah SWT merahmati KH Hasan Asy’ari atau Mbah Mangli, serta memberikan keberkahan atas ilmu dan dakwah yang telah beliau perjuangkan.
Al-Fatihah.
