Rizkan Al Mubarok: Dari Maulid Muslimat NU, Kita Belajar bahwa Perempuan Bukan Sekadar Pendamping, tetapi Pilar Peradaban

0
1789980171921

JOMBANG — Kehadiran Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid dalam kegiatan Maulid Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum penting untuk kembali memahami makna keteladanan keluarga Rasulullah SAW dalam kehidupan umat, khususnya dalam membangun keluarga dan mendidik generasi.

Ketua Dewan Perwakilan AWNI Sumatera Raya sekaligus Ketua AWNI Provinsi Jambi, Rizkan Al Mubarok, menilai pesan Maulid tidak seharusnya berhenti pada seremoni, tetapi harus diterjemahkan menjadi nilai kehidupan sehari-hari.

Menurut Rizkan, menjadikan istri-istri Rasulullah SAW sebagai teladan berarti belajar tentang kesetiaan, keteguhan iman, kecerdasan, kesabaran, pengorbanan, kasih sayang, sekaligus keberanian menjalankan amanah.

“Bagi saya, Maulid bukan hanya tentang mengenang sejarah kelahiran Rasulullah SAW. Maulid adalah momentum untuk bertanya kepada diri kita: sudah sejauh mana akhlak Rasulullah dan keluarganya kita hadirkan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat?”

Rizkan menilai perempuan memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun masa depan bangsa. Rumah tangga merupakan salah satu ruang pertama tempat seorang anak mengenal nilai agama, kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab dan penghormatan terhadap sesama.

Karena itu, menurutnya, perempuan tidak tepat jika hanya dipandang dari sisi peran domestik semata.

“Perempuan adalah salah satu pilar peradaban. Dari rahim seorang ibu lahir generasi. Dari pendidikan seorang ibu, karakter anak dibentuk. Dan dari keluarga yang baik, insyaallah lahir masyarakat yang baik.”

Rizkan juga memberikan penghormatan terhadap kehadiran Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid yang merupakan putri sulung KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu tokoh penting dalam sejarah berdirinya NU dan Pahlawan Nasional.

Jejak keluarga KH Abdul Wahab Chasbullah, menurut Rizkan, memperlihatkan bahwa perjuangan ulama tidak hanya berbicara tentang dakwah di mimbar, tetapi juga pendidikan, organisasi, keluarga, kebangsaan dan pengabdian kepada masyarakat.

NU Online mencatat Nyai Hj. Machfudhoh sebagai putri sulung KH Abdul Wahab Chasbullah. Pada Agustus 2026, beliau juga masih terlihat aktif mengikuti secara langsung rangkaian Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang.

Rizkan melihat kesinambungan tersebut sebagai pesan penting bagi generasi muda.

“Yang harus kita wariskan kepada generasi muda bukan hanya nama besar ulama, tetapi nilai perjuangannya. Jangan hanya mengenal siapa Mbah Wahab, siapa para ulama kita, tetapi pelajari bagaimana mereka membangun umat, mendidik generasi dan mengabdi kepada bangsa.”

Ia juga menilai keteladanan Sayyidah Khadijah RA dapat menjadi salah satu inspirasi penting dalam memahami posisi perempuan dalam keluarga Rasulullah SAW.

Khadijah RA bukan hanya dikenal sebagai istri Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai sosok yang memberikan dukungan besar pada fase awal dakwah Rasulullah. Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa hubungan suami-istri idealnya dibangun atas dasar saling menguatkan dalam kebaikan.

“Istri bukan sekadar pendamping ketika suami berada dalam keadaan mudah. Istri adalah teman perjuangan dalam kebaikan, penjaga keluarga, pendidik generasi dan tempat menghadirkan ketenangan,” ujar Rizkan.

Menurut Rizkan, pesan tersebut relevan dengan tantangan keluarga pada zaman sekarang. Kemajuan teknologi dan perubahan sosial membawa banyak manfaat, tetapi keluarga juga menghadapi tantangan dalam menjaga komunikasi, pendidikan karakter dan ketahanan moral anak.

Karena itu, Maulid dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah SAW di dalam rumah.

“Kalau kita ingin Indonesia memiliki generasi yang kuat, jangan hanya bicara tentang pembangunan gedung, ekonomi dan teknologi. Bangun juga manusianya. Dan pembangunan manusia dimulai dari keluarga.”

Rizkan berharap kegiatan keagamaan seperti Maulid Muslimat NU terus menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah, pendidikan keluarga, kepedulian sosial dan keteladanan.

Ia menutup tanggapannya dengan pesan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW harus terlihat dalam akhlak dan tindakan.

“Mencintai Rasulullah bukan hanya dengan bershalawat dan memuji beliau. Bukti cinta itu adalah berusaha meneladani akhlaknya. Keluarga yang penuh kasih sayang, ibu yang mendidik dengan keteladanan, ayah yang bertanggung jawab, dan anak yang berakhlak—itulah sebagian kecil dari perjuangan membangun peradaban.”

Bagi Rizkan, ketika keluarga kuat, perempuan dimuliakan, anak-anak dididik dengan akhlak, dan nilai-nilai agama hidup dalam masyarakat, maka bangsa pun memiliki fondasi yang lebih kuat.

“Mimpi kita sama: kejayaan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dan jalan menuju ke sana tidak hanya dibangun oleh kebijakan negara, tetapi juga oleh keluarga-keluarga Indonesia yang beriman, berilmu, berakhlak dan saling menguatkan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *