Rizkan Al Mubarrok: Jadilah Pribadi yang Kuat dan Bijaksana, Tegas Tanpa Kehilangan Empati
SOROTAN PUBLIK — Ketua Dewan Perwakilan AWNI Sumatera Raya, Rizkan Al Mubarrok, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya membangun karakter yang kuat sekaligus bijaksana di tengah kehidupan sosial yang semakin kompleks.
Menurut Rizkan, menjadi pribadi yang kuat tidak identik dengan bersikap kasar, keras, atau selalu memenangkan perdebatan. Kekuatan yang sesungguhnya justru terlihat dari kemampuan seseorang mengendalikan diri, mempertahankan prinsip, serta tetap memiliki empati tanpa kehilangan harga diri.
Pandangan tersebut berangkat dari sebuah pesan reflektif yang mengingatkan bahwa manusia perlu memiliki keseimbangan dalam menjalani kehidupan: kuat tetapi tidak kasar, baik tetapi tidak mudah dimanfaatkan, rendah hati tetapi tidak merendahkan diri, sabar tetapi tidak membiarkan dirinya terus disakiti, serta tegas tanpa menjadi sombong.
“Bagi saya, menjadi kuat bukan berarti kita harus menjadi keras kepada semua orang. Kekuatan justru terlihat ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya saat memiliki alasan untuk marah, tetap rendah hati ketika memiliki alasan untuk menyombongkan diri, dan tetap berbuat baik tanpa membiarkan dirinya diperlakukan semena-mena,” ujar Rizkan dalam pandangannya.
Rizkan menilai kehidupan tidak selalu memberikan manusia pilihan antara menjadi baik atau menjadi kuat. Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana seseorang dapat menjadi baik sekaligus memiliki batas yang sehat, menjadi pemaaf tanpa mengabaikan pengalaman, serta menjadi rendah hati tanpa kehilangan martabat.
Menurutnya, kebaikan tanpa kebijaksanaan dapat membuat seseorang mudah dimanfaatkan. Sebaliknya, ketegasan tanpa empati dapat berubah menjadi kekerasan. Karena itu, karakter yang matang membutuhkan keseimbangan antara hati dan akal.
“Jadilah baik, tetapi jangan kehilangan batas. Jadilah pemaaf, tetapi jangan memberikan ruang yang sama kepada orang yang berulang kali menyakiti. Jadilah tegas, tetapi jangan kehilangan kemanusiaan,” katanya.
Kekuatan Sejati Dimulai dari Kemampuan Mengendalikan Diri
Dalam perspektif filsafat kehidupan, Rizkan memandang bahwa manusia tidak selalu dapat mengendalikan keadaan, tetapi memiliki ruang untuk menentukan bagaimana dirinya merespons keadaan tersebut.
Kemampuan mengendalikan respons menjadi salah satu bentuk kedewasaan. Seseorang yang mampu menahan amarah bukan berarti lemah. Begitu pula seseorang yang memilih diam dalam situasi tertentu bukan berarti tidak memiliki keberanian.
Justru, kemampuan menentukan kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus memaafkan, dan kapan harus mengambil sikap menjadi bagian dari kecerdasan emosional dan kematangan karakter.
Rizkan mengatakan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk perlawanan terbuka. Dalam banyak keadaan, keberanian dapat muncul dalam bentuk keteguhan mempertahankan prinsip ketika tekanan datang dari berbagai arah.
“Berani bukan berarti gegabah. Tegas bukan berarti sombong. Sabar bukan berarti membiarkan diri terus-menerus disakiti. Kita harus mampu membedakan antara kesabaran dan membiarkan ketidakadilan,” ujarnya.
Pandangan tersebut menempatkan karakter manusia bukan semata-mata pada bagaimana seseorang memperlakukan orang lain ketika berada dalam posisi kuat, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri ketika menghadapi tekanan.
Rendah Hati Bukan Berarti Rendah Diri
Rizkan juga menyoroti pentingnya membedakan rendah hati dengan rendah diri. Menurutnya, kedua sikap tersebut memiliki makna yang sangat berbeda.
Rendah hati merupakan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan selalu memiliki ruang untuk belajar. Sementara rendah diri adalah ketika seseorang kehilangan keyakinan terhadap nilai dan kemampuan dirinya sendiri.
Dalam kehidupan sosial, seseorang perlu mampu menghargai orang lain tanpa harus merendahkan dirinya sendiri.
“Rendah hati itu kekuatan. Kita tidak perlu merasa paling hebat hanya karena memiliki pencapaian tertentu. Tetapi pada saat yang sama, jangan pula membiarkan orang lain membuat kita percaya bahwa diri kita tidak memiliki nilai,” kata Rizkan.
Ia menilai prinsip tersebut semakin penting di tengah era media sosial ketika penilaian terhadap seseorang sering kali dibentuk oleh persepsi, popularitas, jumlah pengikut, maupun komentar publik.
Menurutnya, manusia tidak seharusnya menggantungkan seluruh nilai dirinya pada pengakuan orang lain. Harga diri harus dibangun dari integritas, kerja nyata, tanggung jawab, dan konsistensi terhadap prinsip.
Sukses Harus Berjalan Bersama Rasa Syukur
Rizkan kemudian mengaitkan karakter dengan makna kesuksesan. Baginya, keberhasilan tidak semestinya hanya diukur dari kekayaan, jabatan, popularitas, atau seberapa tinggi seseorang berada dalam hierarki sosial.
Kesuksesan yang kehilangan rasa syukur berpotensi berubah menjadi perlombaan tanpa akhir. Seseorang terus mengejar sesuatu yang lebih tinggi tanpa pernah merasa cukup.
“Jadilah sukses, tetapi jangan lupa bersyukur. Karena kalau seluruh hidup hanya digunakan untuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki, kita bisa lupa menghargai apa yang sebenarnya sudah ada di hadapan kita,” tuturnya.
Ia berpandangan bahwa rasa syukur tidak berarti berhenti berusaha. Sebaliknya, rasa syukur dapat menjadi fondasi agar ambisi tidak berubah menjadi keserakahan dan keberhasilan tidak berubah menjadi kesombongan.
Dalam konteks tersebut, kehidupan membutuhkan keseimbangan: bekerja keras tanpa kehilangan kemanusiaan, mengejar cita-cita tanpa mengorbankan prinsip, membantu orang lain tanpa menghapus batas diri, serta membangun keberhasilan tanpa melupakan mereka yang berada di sekitar.
Karakter Lebih Besar daripada Sekadar Pencitraan
Bagi Rizkan, karakter pada akhirnya tidak dibentuk oleh kata-kata yang indah, melainkan oleh kebiasaan dan keputusan yang dilakukan seseorang ketika tidak sedang diawasi.
Seseorang dapat berbicara tentang kebaikan, tetapi karakter akan terlihat ketika ia menghadapi orang yang tidak dapat memberikan keuntungan kepadanya. Seseorang dapat berbicara tentang keberanian, tetapi keberanian akan diuji ketika mempertahankan prinsip memiliki konsekuensi.
Karena itu, menurut Rizkan, menjadi manusia yang kuat dan bijaksana merupakan perjalanan panjang yang tidak selesai hanya karena seseorang mencapai usia tertentu, memperoleh jabatan, memiliki pendidikan tinggi, atau mendapatkan pengakuan sosial.
“Pada akhirnya, karakter bukan tentang bagaimana kita ingin dilihat oleh dunia. Karakter adalah siapa diri kita ketika tidak ada tepuk tangan, tidak ada kamera, dan tidak ada orang yang sedang menilai,” ujarnya.
Rizkan menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan lebih banyak pribadi yang mampu menggabungkan ketegasan dengan kebijaksanaan, keberanian dengan tanggung jawab, serta kebaikan dengan kemampuan menjaga batas.
Menurutnya, dunia tidak kekurangan orang yang ingin terlihat kuat. Tantangan yang lebih besar adalah melahirkan manusia yang benar-benar kuat tanpa kehilangan hati.
Kekuatan semacam itu bukanlah kekuatan untuk menundukkan orang lain, melainkan kekuatan untuk menundukkan ego diri sendiri.
Pada titik itulah, menjadi kuat menemukan makna yang lebih dalam: bukan menjadi manusia yang paling keras, melainkan menjadi manusia yang tetap memiliki prinsip ketika keadaan sulit; tetap memiliki empati ketika memiliki kekuasaan; tetap rendah hati ketika berhasil; dan tetap mampu menjaga martabat tanpa harus merendahkan siapa pun.
Bagi Rizkan Al Mubarrok, kehidupan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang dapat mencapai puncak, tetapi juga tentang bagaimana ia berjalan menuju puncak tersebut dan siapa saja yang tetap dihargainya sepanjang perjalanan.
