Mike Tyson Pernah Sumbang US$250 Ribu untuk Pembangunan Masjid di Las Vegas, Kisah Amal Sang Legenda Tinju
LAS VEGAS — Nama Mike Tyson dikenal dunia sebagai salah satu legenda tinju kelas berat. Namun, di balik perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku, Tyson juga memiliki kisah tentang kedekatannya dengan komunitas Muslim di Amerika Serikat.
Salah satu catatan yang menarik perhatian adalah sumbangan sebesar US$250.000 yang diberikan Tyson untuk membantu pembangunan sebuah masjid di Las Vegas pada 1997.
Masjid tersebut adalah Masjid As-Sabur. Dalam catatan sejarah yang dipublikasikan pihak masjid, donasi Tyson mencapai lebih dari separuh biaya pembangunan gedung yang kemudian digunakan oleh komunitas Muslim setempat.
Kisah tersebut juga dicatat oleh Religion News Service. Menurut laporan tersebut, Tyson menyumbangkan US$250.000 untuk pembangunan bangunan Masjid As-Sabur pada 1997, sementara legenda tinju lainnya, Muhammad Ali, turut membantu penggalangan dana.
Sumbangan tersebut diberikan beberapa tahun setelah Tyson memeluk Islam ketika menjalani hukuman penjara pada awal 1990-an.
Kedekatan Tyson dengan komunitas Masjid As-Sabur kemudian tidak hanya berkaitan dengan materi. Religion News Service mencatat bahwa Tyson dikenal pernah membantu pekerjaan sederhana di masjid, termasuk membersihkan karpet untuk keperluan ibadah.
Pernah Terjadi Persoalan soal Dana
Di balik kisah donasi tersebut, terdapat pula bagian sejarah yang tidak kalah menarik.
Pada 1997, Tyson sempat mengeluhkan bahwa dana US$250.000 yang ia berikan untuk pembangunan masjid tidak segera menghasilkan bangunan baru seperti yang ia harapkan.
Los Angeles Times pada Juni 1997 melaporkan bahwa Tyson mengatakan dirinya merasa telah memberikan uang kepada kelompok Muslim di Las Vegas untuk membantu pembangunan masjid, tetapi pembangunan belum terwujud sebagaimana yang ia bayangkan.
Pihak Masjid As-Sabur saat itu membantah tudingan bahwa dana tersebut disalahgunakan. Dalam laporan Las Vegas Sun, pengelola masjid menyatakan dana Tyson tetap berada dalam rekening dana pembangunan dan proses pembangunan mengalami keterlambatan akibat perubahan kepemimpinan serta persoalan administratif.
Dengan demikian, kisah US$250.000 tersebut memang memiliki catatan sejarah yang cukup jelas, tetapi narasi bahwa Tyson “baru-baru ini” menyumbangkan uang untuk membangun masjid tidak tepat. Peristiwa yang terdokumentasi terjadi hampir tiga dekade lalu, yakni pada 1997.
Lebih dari Sekadar Nominal
Kisah Tyson menarik bukan semata karena jumlah uang yang disumbangkan.
Perjalanan hidupnya menunjukkan perubahan besar dalam cara ia memandang kehidupan dan spiritualitas. Dari seorang petinju yang pernah berada di puncak dunia, Tyson kemudian melalui masa-masa sulit dan menjalani kehidupan yang jauh dari sorotan olahraga.
Dalam konteks komunitas Muslim Las Vegas, sumbangan tersebut menjadi bagian dari sejarah pembangunan Masjid As-Sabur.
Masjid itu kemudian berkembang bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas komunitas. Sumber mengenai Masjid As-Sabur mencatat keberadaan berbagai kegiatan pendidikan dan pelayanan sosial yang dijalankan komunitas tersebut.
Kisah tersebut memberikan satu pelajaran sederhana: kebaikan tidak selalu harus dilihat dari siapa yang memberikannya atau seberapa besar nominalnya, tetapi juga dari manfaat yang kemudian dirasakan oleh masyarakat.
Bagi Tyson, US$250.000 pada masa itu bukan sekadar angka. Dana tersebut diarahkan untuk mendukung sebuah tempat ibadah dan komunitas Muslim yang sedang membangun kehidupan bersama di Las Vegas.
Dari Perjalanan Hidup ke Sebuah Warisan
Perjalanan Mike Tyson juga menunjukkan bahwa kehidupan seseorang tidak berhenti pada masa lalu.
Ia pernah berada di titik tertinggi sebagai juara dunia, kemudian menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya. Namun, keterlibatannya dengan komunitas Muslim dan kontribusinya terhadap Masjid As-Sabur menjadi salah satu bagian lain dari perjalanan hidupnya.
Karena itu, kisah donasi tersebut lebih tepat dikenang sebagai salah satu episode dalam perjalanan panjang Tyson setelah menemukan kedekatan dengan Islam.
Bukan tentang siapa yang paling banyak memberi.
Bukan pula tentang seberapa besar angka yang tercatat.
Melainkan tentang bagaimana seseorang menggunakan sebagian rezekinya untuk membantu membangun tempat yang menjadi ruang ibadah, pendidikan, dan kebersamaan masyarakat.
Kisah Mike Tyson dan Masjid As-Sabur menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup manusia dapat berubah, dan kebaikan yang dilakukan pada satu masa dapat meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.
