Krisis Kepunahan Massal Mengancam Bumi, Hilangnya Spesies Bisa Jadi Ancaman bagi Masa Depan Manusia
JAKARTA — Bumi tengah menghadapi krisis keanekaragaman hayati yang semakin serius. Kepunahan spesies yang terjadi akibat aktivitas manusia menjadi salah satu ancaman lingkungan terbesar selain perubahan iklim, pencemaran, serta kerusakan ekosistem.
Perubahan fungsi hutan, perburuan dan perdagangan satwa liar, pencemaran, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan hingga perubahan iklim telah memberikan tekanan besar terhadap berbagai spesies di darat maupun laut.
Persoalannya bukan hanya mengenai hilangnya satu jenis hewan atau tumbuhan.
Ketika sebuah spesies menghilang, jaringan ekologis yang terbentuk selama ribuan bahkan jutaan tahun dapat ikut terganggu. Dalam skala besar, kerusakan tersebut berpotensi memengaruhi sistem pangan, ketersediaan air, penyerbukan tanaman, kualitas tanah hingga berbagai sumber bahan yang digunakan manusia untuk kebutuhan kesehatan.
Kepunahan Berlangsung Jauh Lebih Cepat
Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa laju kepunahan modern jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat kepunahan alami yang berlangsung tanpa tekanan manusia.
Salah satu kajian yang banyak dirujuk memperkirakan bahwa laju kepunahan saat ini berada sekitar 100 hingga 1.000 kali lebih tinggi dibandingkan tingkat kepunahan alami pada periode sebelum tekanan manusia menjadi faktor dominan.
Angka tersebut menggambarkan besarnya tekanan yang diberikan aktivitas manusia terhadap keanekaragaman hayati.
Namun, klaim bahwa “setidaknya satu spesies punah setiap hari” tidak seharusnya dipahami sebagai jumlah kepunahan yang dapat dihitung secara langsung setiap 24 jam. Banyak spesies mengalami penurunan populasi dan bahkan kemungkinan telah punah sebelum kepunahannya dapat didokumentasikan secara resmi.
Hal tersebut terjadi karena dunia belum memiliki data lengkap mengenai seluruh spesies yang hidup di planet ini.
Para ilmuwan bahkan memperkirakan masih terdapat jutaan spesies yang belum berhasil diidentifikasi dan dideskripsikan secara ilmiah.
Kondisi tersebut membuat krisis kepunahan modern sering disebut sebagai krisis yang berlangsung secara senyap.
Spesies dapat menghilang dari habitatnya secara perlahan tanpa pernah menjadi berita besar.
Gajah, Harimau dan Orangutan Menghadapi Tekanan
Sejumlah satwa ikonik Indonesia maupun dunia menjadi contoh nyata bagaimana aktivitas manusia dapat mengubah masa depan suatu spesies.
Gajah membutuhkan kawasan jelajah yang luas. Ketika habitatnya terfragmentasi akibat pembukaan lahan dan pembangunan, konflik antara manusia dan satwa dapat meningkat.
Harimau juga menghadapi persoalan serupa. Hilangnya habitat, berkurangnya mangsa serta perburuan ilegal menjadi tekanan yang dapat mengancam keberlangsungan populasi.
Orangutan menghadapi ancaman dari hilangnya habitat hutan serta berbagai aktivitas manusia lainnya.
Di wilayah laut, persoalan tidak kalah serius.
Penyu menghadapi ancaman dari perburuan, perdagangan ilegal, kerusakan habitat pantai, tangkapan sampingan dalam aktivitas perikanan hingga pencemaran plastik.
Sementara itu, ekosistem terumbu karang menghadapi tekanan akibat kenaikan suhu laut, pengasaman laut, pencemaran, sedimentasi serta aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan.
Artinya, krisis keanekaragaman hayati bukan persoalan yang hanya terjadi jauh dari kehidupan manusia.
Dampaknya dapat muncul di sekitar kita melalui berkurangnya populasi ikan, rusaknya kawasan pesisir, menurunnya kualitas tanah, berkurangnya sumber air hingga meningkatnya risiko bencana ekologis.
Ketika Alam Rusak, Manusia Ikut Menanggung Akibatnya
Keanekaragaman hayati sebenarnya merupakan bagian dari sistem pendukung kehidupan manusia.
Hutan membantu mengatur siklus air dan menyimpan karbon. Serangga serta hewan lainnya berperan dalam proses penyerbukan. Ekosistem laut menyediakan sumber pangan sekaligus membantu menjaga keseimbangan ekologis.
Berbagai tumbuhan dan organisme juga memiliki potensi sebagai sumber bahan obat serta penelitian medis.
Karena itu, hilangnya keanekaragaman hayati bukan hanya persoalan konservasi.
Ia juga merupakan persoalan ekonomi, kesehatan, pangan dan keamanan manusia.
Jika ekosistem terus mengalami degradasi, biaya yang harus ditanggung masyarakat dapat semakin besar.
Pemulihan ekosistem yang rusak juga sering kali membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun, sementara beberapa kerusakan tidak dapat dikembalikan sepenuhnya.
Harapan Masih Ada, Tetapi Waktunya Tidak Tak Terbatas
Krisis kepunahan bukan berarti manusia tidak memiliki pilihan.
Perlindungan kawasan konservasi, penghentian perburuan dan perdagangan satwa liar, pemulihan habitat, pengelolaan hutan secara berkelanjutan, perlindungan ekosistem laut, pengurangan pencemaran serta pengendalian emisi gas rumah kaca dapat menjadi bagian dari solusi.
Pemerintah memiliki peran besar melalui kebijakan dan penegakan hukum.
Dunia usaha juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan aktivitas ekonomi tidak mengorbankan ekosistem secara permanen.
Masyarakat dapat berkontribusi melalui konsumsi yang lebih bertanggung jawab, tidak membeli satwa liar ilegal, mengurangi sampah serta menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal.
Yang tidak kalah penting adalah memperkuat penelitian.
Spesies yang belum diketahui keberadaannya tidak mungkin dilindungi apabila manusia bahkan belum mengetahui bahwa spesies tersebut ada.
Karena itu, investasi pada ilmu pengetahuan, pemantauan populasi satwa, pemetaan habitat dan teknologi konservasi menjadi bagian penting dalam menghadapi krisis biodiversitas.
Bumi tidak membutuhkan manusia untuk terus-menerus memilih antara ekonomi dan lingkungan.
Yang dibutuhkan adalah model pembangunan yang memahami bahwa ekonomi manusia sendiri bergantung pada alam.
Jika hutan hilang, sungai tercemar, laut rusak dan spesies terus menghilang, pada akhirnya manusia juga akan menghadapi konsekuensinya.
Krisis kepunahan massal mungkin berlangsung tanpa suara ledakan atau sirene.
Namun setiap habitat yang hilang, setiap populasi yang menyusut dan setiap spesies yang benar-benar lenyap merupakan bagian dari alarm yang semakin keras.
Pertanyaannya sekarang bukan apakah manusia mampu menyelamatkan seluruh spesies.
Pertanyaannya adalah berapa banyak yang masih dapat kita selamatkan sebelum kesempatan itu benar-benar tertutup.
