Estafet Kursi Gubernur Kalteng: Ketika Sang Adik Lebih Dulu Memimpin, Sang Kakak Melanjutkan

0
1788951595831

PALANGKA RAYA — Lanskap politik daerah Indonesia mencatat sebuah konfigurasi kepemimpinan yang menarik di Kalimantan Tengah. Untuk dua periode kepemimpinan yang berurutan, kursi Gubernur Kalimantan Tengah ditempati oleh dua kakak beradik dari keluarga Sabran.

Yang membuat kisah ini semakin unik bukan hanya hubungan darah keduanya, melainkan arah estafet kekuasaannya. Dalam kasus ini, sang adik justru lebih dahulu menduduki kursi gubernur, sebelum kemudian kepemimpinan beralih kepada sang kakak.

Sugianto Sabran Membuka Jalan

Jejak keluarga Sabran di puncak pemerintahan Kalimantan Tengah dimulai dari Sugianto Sabran.

Lahir di Sampit pada 5 Juli 1973, Sugianto terlebih dahulu memenangkan kontestasi politik untuk memimpin Kalimantan Tengah. Ia kemudian dilantik sebagai Gubernur Kalimantan Tengah pada 2016.

Dalam pemilihan berikutnya, Sugianto kembali memperoleh mandat dan melanjutkan kepemimpinannya untuk periode kedua hingga 2025.

Hampir satu dekade, nama Sugianto menjadi bagian penting dari perjalanan pemerintahan Kalimantan Tengah. Dari sinilah jalur politik keluarga Sabran di tingkat eksekutif provinsi terbentuk.

Namun, ketika masa jabatan Sugianto berakhir, estafet tersebut tidak berhenti.

Ia justru berlanjut kepada kakak kandungnya.

Agustiar Sabran Melanjutkan Estafet

Agustiar Sabran, yang lahir pada 17 Agustus 1972, kemudian tampil sebagai penerus di kursi gubernur.

Sebelum memasuki pemerintahan provinsi, Agustiar telah memiliki pengalaman politik di tingkat nasional. Ia pernah menjadi anggota DPR RI periode 2019–2024 serta aktif dalam berbagai aktivitas organisasi dan kemasyarakatan di Kalimantan Tengah.

Pada Pilkada Kalimantan Tengah 2024, Agustiar berpasangan dengan Edy Pratowo. Pasangan tersebut memenangkan kontestasi dan kemudian dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah periode 2025–2030 pada 20 Februari 2025.

Dengan demikian, terjadi sebuah pola suksesi yang tidak lazim dalam perspektif hubungan kekerabatan politik: adik terlebih dahulu menjadi gubernur, kemudian kakak melanjutkan kepemimpinan pada periode berikutnya.

Keduanya tidak memimpin secara bersamaan. Sugianto menyelesaikan masa jabatannya terlebih dahulu, kemudian Agustiar mengambil alih melalui mekanisme pemilihan kepala daerah.

Bukan Pergantian Biasa, Melainkan Fenomena Politik Keluarga

Hubungan keluarga antara keduanya membuat pergantian kepemimpinan tersebut memiliki dimensi yang berbeda dari suksesi politik pada umumnya.

Di satu sisi, fakta bahwa dua bersaudara pernah menjadi gubernur secara berurutan merupakan fenomena yang menarik untuk dicermati. Di sisi lain, penting untuk membedakan antara fakta hubungan kekerabatan dengan penilaian mengenai proses politik yang mengantarkan seseorang ke jabatan publik.

Agustiar dan Sugianto memiliki perjalanan politik masing-masing. Keduanya memperoleh jabatan melalui kontestasi dan mekanisme politik yang berbeda pada waktunya.

Karena itu, sejarah tersebut lebih tepat dibaca sebagai fenomena politik keluarga yang menarik, bukan semata-mata sebagai pergantian jabatan dari satu anggota keluarga kepada anggota keluarga lainnya.

Dua Saudara, Dua Periode, Satu Panggung Sejarah

Di luar aktivitas pemerintahan, kehidupan keluarga keduanya juga beberapa kali menjadi perhatian publik ketika mereka tampil bersama pasangan masing-masing.

Agustiar Sabran diketahui didampingi Aisyah Thisia Bianty, yang dikenal sebagai Thisia Halijam. Sementara Sugianto Sabran didampingi Yulistra Ivo Azhari.

Kehadiran mereka dalam berbagai dokumentasi publik memperlihatkan sebuah fakta yang sulit diabaikan dalam sejarah politik Kalimantan Tengah: dua saudara kandung dari keluarga yang sama pernah berada di puncak eksekutif provinsi tersebut dalam periode yang berbeda.

Pola ini menjadi semakin menarik karena urutannya tidak mengikuti pola yang lazim dibayangkan. Bukan kakak yang membuka jalan bagi adik, melainkan adik yang lebih dahulu memimpin, kemudian kakak meneruskan estafet.

Pada akhirnya, perjalanan Sugianto dan Agustiar Sabran memberikan warna tersendiri dalam sejarah politik Kalimantan Tengah.

Bagi publik, fenomena tersebut bukan hanya soal siapa yang menduduki kursi gubernur, tetapi juga tentang bagaimana sejarah politik sebuah daerah dapat mempertemukan hubungan keluarga, kontestasi demokratis, dan pergantian kepemimpinan dalam satu rangkaian waktu.

Sang adik membuka jalan. Sang kakak melanjutkan. Dan Kalimantan Tengah mencatatnya sebagai sebuah bab unik dalam sejarah pemerintahan daerah Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *