Gubernur Anwar Hafid Buka Dialog Usai Subuh, Warga Palu Bisa Sampaikan Keluhan Tanpa Janji
PALU — Ada cara berbeda yang dilakukan Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid untuk mendekatkan pelayanan pemerintahan kepada masyarakat. Di sejumlah masjid di wilayah Kota Palu, ia rutin membuka ruang dialog bersama warga setelah salat Subuh.
Dalam momentum tersebut, masyarakat dapat bertemu dan menyampaikan berbagai persoalan secara langsung kepada orang nomor satu di Sulawesi Tengah itu. Tidak harus melalui agenda pertemuan formal atau menunggu seremoni pemerintahan.
Warga dapat menyampaikan keluhan, masukan maupun aspirasi yang berkaitan dengan kondisi daerah secara langsung dalam suasana yang lebih terbuka.
Dari Kebiasaan Saat Menjadi Bupati hingga Gubernur
Kebiasaan berdialog dengan masyarakat setelah salat Subuh bukan sesuatu yang baru bagi Anwar Hafid.
Pola komunikasi tersebut disebut telah ia lakukan sejak masih menjabat sebagai Bupati Morowali. Tradisi itu kemudian dibawa ke level pemerintahan provinsi setelah dirinya dipercaya memimpin Sulawesi Tengah.
Masjid pun tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara pemimpin daerah dan masyarakat.
Bagi warga, suasana setelah salat Subuh memberikan ruang komunikasi yang relatif sederhana. Tidak ada panggung besar, seremoni panjang, maupun jarak formal yang biasanya melekat dalam pertemuan pejabat dan masyarakat.
Persoalan yang disampaikan pun beragam, mulai dari kebutuhan masyarakat hingga aspirasi mengenai pembangunan daerah.
Kepemimpinan Dekat dengan Rakyat
Gaya komunikasi tersebut mendapat perhatian dari warganet. Sebagian menilai kebiasaan membuka dialog langsung dapat menjadi bentuk kepemimpinan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Namun, nilai utama dari pola tersebut bukan semata-mata soal tampil di tengah warga. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana keluhan dan aspirasi yang diterima dapat diteruskan menjadi kebijakan serta penyelesaian konkret.
Di sinilah komunikasi langsung antara pemimpin dan masyarakat memiliki arti penting. Pemerintah memperoleh informasi dari lapangan, sementara warga mendapatkan kesempatan menyampaikan persoalan tanpa harus selalu melewati jalur birokrasi yang panjang.
Model seperti ini juga sejalan dengan gagasan pemerintahan yang responsif: mendengar persoalan masyarakat secara langsung sebelum mengambil keputusan.
Beasiswa hingga Pendidikan Tinggi
Kedekatan dengan masyarakat juga menjadi bagian dari citra kepemimpinan Anwar Hafid yang menempatkan pendidikan sebagai salah satu perhatian pemerintahannya.
Program beasiswa pendidikan menjadi salah satu kebijakan yang mendapat perhatian, termasuk dukungan pendidikan mulai jenjang sarjana hingga pendidikan pascasarjana S2 dan S3.
Jika dialog di masjid menjadi ruang untuk mendengar suara masyarakat, maka program pendidikan menjadi salah satu instrumen untuk memperluas kesempatan masyarakat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dua pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan publik tidak selalu harus berlangsung di balik meja kantor pemerintahan.
Ada kalanya seorang pemimpin perlu keluar dari ruang birokrasi, hadir di tengah masyarakat, mendengar langsung persoalan yang mereka hadapi, kemudian memastikan aspirasi tersebut masuk ke dalam proses pemerintahan.
Dari masjid setelah Subuh, suara warga bertemu dengan pemimpinnya. Dari ruang dialog itulah publik menunggu satu hal yang lebih penting: sejauh mana aspirasi yang disampaikan benar-benar berubah menjadi kebijakan dan solusi.
