B50 Hemat Devisa Rp170 Triliun per Tahun, Prabowo: Petani Sawit Harus Jadi yang Paling Diuntungkan

0
IMG-20260711-WA0016

Karawang – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa penerapan mandatori biodiesel B50 akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun atau sekitar 10 miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat meluncurkan program Mandatori Biodiesel B50 di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Menurutnya, penghematan devisa dari B50 meningkat dibandingkan kebijakan B40 yang sebelumnya mampu menghemat sekitar Rp133,3 triliun per tahun.

“Kita sekarang sudah bisa menghemat devisa uang keluar Rp170 triliun. Sepuluh miliar dolar Amerika Serikat kita hemat,” ujar Prabowo.

Selain mengurangi impor bahan bakar fosil, implementasi B50 diperkirakan meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dari sekitar Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun. Program ini juga diproyeksikan mampu menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO₂ sepanjang 2026.

Presiden menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi industri sawit harus memberikan manfaat terbesar bagi para petani sebagai produsen utama bahan baku biodiesel. Menurutnya, tujuan utama pembangunan bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

“Petani kita harus menjadi pihak yang paling diuntungkan. Kita akan berhasil ketika petani memiliki kehidupan yang lebih baik,” tegas Prabowo.

Ia mengungkapkan telah menerima laporan dari berbagai daerah yang menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat, khususnya petani sawit. Indikator tersebut terlihat dari meningkatnya pembelian kendaraan bermotor, kemampuan menjalankan ibadah umrah, hingga meningkatnya jumlah masyarakat yang mampu membeli hewan kurban saat Iduladha.

Program B50 juga dinilai mampu menjaga stabilitas harga tandan buah segar (TBS) sawit melalui meningkatnya kebutuhan bahan baku biodiesel di dalam negeri. Di sisi lain, penggunaan biodiesel dinilai lebih ramah lingkungan karena mampu menekan emisi karbon dibandingkan penggunaan solar berbasis fosil.

Presiden turut mendorong kalangan akademisi, peneliti, dan industri untuk terus mengembangkan teknologi biofuel nasional agar Indonesia tidak berhenti pada implementasi B50.

“Saya berterima kasih kepada para ilmuwan, perguruan tinggi, Pertamina, dan seluruh pihak yang telah bekerja keras. Jangan berhenti di B50. Kalau memungkinkan, lanjutkan menuju B60,” kata Prabowo.

Pemerintah berharap implementasi B50 menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian energi nasional, meningkatkan nilai tambah industri sawit, memperluas lapangan kerja, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan kesejahteraan jutaan petani sawit di seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *