Dari Rumah Susun dan Membantu Ibunda Berjualan, Halimah Yacob Menembus Istana Presiden Singapura

0
1789515124021-1

SINGAPURA – Kisah perjalanan hidup Halimah Yacob menjadi salah satu cerita tentang perjuangan pendidikan, kerja keras dan pengabdian publik di Singapura. Berasal dari keluarga sederhana, Halimah kemudian menempuh pendidikan hukum, berkarier di gerakan buruh, masuk parlemen, menjadi Ketua Parlemen, hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden Singapura ke-8 pada 2017.

Masa kecil Halimah tidak berlangsung dalam kondisi ekonomi yang mudah. Dalam sejumlah catatan resmi Singapura, perjalanan hidupnya digambarkan sebagai perjalanan dari keluarga dengan latar belakang sederhana hingga menduduki jabatan tertinggi negara.

Perdana Menteri Lee Hsien Loong saat upacara pelantikan Halimah sebagai Presiden pada 2017 juga menyinggung masa kecilnya yang penuh keterbatasan. Ia menyebut Halimah tidak melupakan pengalaman hidup dalam kemiskinan dan kemudian menggunakan kesempatan yang diperolehnya untuk membantu masyarakat lain.

Dari Kehidupan Sederhana ke Pendidikan Tinggi

Keterbatasan ekonomi tidak menghentikan langkah Halimah untuk memperoleh pendidikan.

Ia kemudian berhasil menempuh pendidikan hukum dan memperoleh gelar Master of Laws dari National University of Singapore. Universitas tersebut juga memberikan gelar doktor kehormatan kepadanya pada 2016.

Perjalanan pendidikannya menjadi salah satu bagian penting dalam kisah hidupnya. Dari keluarga sederhana, Halimah mampu membangun karier profesional dan memasuki dunia pelayanan publik.

Memulai Karier dari Gerakan Buruh

Setelah menyelesaikan pendidikan hukumnya, Halimah memulai karier di National Trades Union Congress (NTUC) pada 1978.

Selama lebih dari tiga dekade berada dalam gerakan buruh, ia menduduki berbagai posisi, termasuk Direktur Departemen Layanan Hukum, Direktur Women’s Development Secretariat, Direktur Singapore Institute of Labour Studies serta Executive Secretary United Workers of Electrical and Electronic Industries.

Halimah kemudian dipercaya menjadi Deputy Secretary-General NTUC. Pemerintah Singapura mencatat pengabdiannya dalam gerakan buruh berlangsung selama 33 tahun.

Selain itu, ia juga menjadi orang Singapura pertama yang terpilih masuk Governing Body International Labour Organization (ILO) dan menjalankan peran tersebut selama bertahun-tahun.

Masuk Parlemen pada 2001

Perjalanan Halimah di dunia politik dimulai pada 2001 ketika ia terpilih sebagai anggota parlemen untuk Jurong Group Representation Constituency (GRC).

Perdana Menteri Lee Hsien Loong dalam suratnya kepada Halimah menyebutnya sebagai perempuan Melayu pertama yang menjadi anggota parlemen sejak kemerdekaan Singapura.

Catatan resmi Istana Singapura juga menyebut Halimah kemudian menjalani empat masa jabatan sebagai anggota parlemen sebelum akhirnya menduduki sejumlah posisi pemerintahan. Ia pernah menjadi Menteri Negara di Ministry of Community Development, Youth and Sports serta Ministry of Social and Family Development.

Karier politiknya kemudian mencapai posisi penting ketika ia terpilih menjadi Speaker of Parliament pada 2013. Halimah tercatat sebagai perempuan pertama yang memegang jabatan tersebut di Singapura.

Dari Speaker hingga Presiden Singapura

Pada 2017, Halimah mengakhiri masa jabatannya sebagai Speaker dan maju dalam pemilihan presiden.

Pada 14 September 2017, ia resmi dilantik sebagai Presiden Singapura ke-8 dan tercatat sebagai perempuan pertama yang menjadi Presiden Singapura.

Pemerintah Singapura kemudian mencatat sejumlah pencapaian Halimah sebagai salah satu figur yang membuka jalan bagi perempuan dan komunitas Melayu. Dalam penghargaan Order of Temasek pada 2023, ia disebut sebagai perempuan Melayu pertama yang terpilih menjadi anggota parlemen, perempuan pertama yang menjadi Speaker Parlemen, serta perempuan pertama yang menduduki jabatan Presiden Singapura.

Kisah yang Menunjukkan Panjangnya Sebuah Perjalanan

Perjalanan Halimah Yacob memperlihatkan perubahan besar dalam kehidupan seseorang: dari keluarga sederhana, menjalani pendidikan dengan berbagai tantangan, kemudian bekerja dalam gerakan buruh, masuk parlemen, memimpin parlemen, hingga menjadi kepala negara.

Saat menyampaikan pidato perpisahan untuk Halimah pada 2023, Lee Hsien Loong kembali menggambarkan perjalanan tersebut sebagai kisah seorang perempuan dari komunitas minoritas dengan latar belakang keluarga sederhana yang berhasil memperoleh pendidikan hukum, mengabdi dalam gerakan buruh dan politik, hingga akhirnya menduduki jabatan tertinggi negara.

Halimah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Presiden pada 2023. Namun, perjalanan hidupnya tetap menjadi bagian dari sejarah politik dan sosial Singapura, khususnya dalam perjalanan perempuan dan komunitas Melayu di negara tersebut.

Kisah tersebut juga memperlihatkan bahwa latar belakang keluarga tidak selalu menentukan sejauh mana seseorang dapat melangkah. Pendidikan, kesempatan, kerja keras dan pengabdian publik menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membawa Halimah Yacob dari kehidupan sederhana menuju Istana Presiden Singapura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *