Setelah 19 Tahun Vakum, Kenduri Sko Kerinci Kembali Digelar, Gubernur Jambi Apresiasi Pelestarian Adat
SUNGAI PENUH – Tradisi adat Kenduri Sko yang menjadi warisan budaya masyarakat Kerinci kembali digelar setelah vakum selama 19 tahun. Momentum bersejarah tersebut mendapat apresiasi dari Gubernur Jambi Al Haris saat menghadiri Kenduri Sko Enam Luhah di Tanah Mendapo, Kota Sungai Penuh, Sabtu (4/7/2026).
Dalam kesempatan itu, Gubernur Al Haris menegaskan bahwa Kenduri Sko bukan sekadar seremoni adat, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Kerinci yang mengandung nilai-nilai luhur tentang kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Menurut Al Haris, penyelenggaraan Kenduri Sko tahun ini memiliki makna istimewa karena menjadi pelaksanaan pertama sejak Kota Sungai Penuh resmi berdiri sebagai daerah otonom. Ia berharap kebangkitan kembali tradisi tersebut mampu memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal sekaligus menjadi benteng menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi.
“Kenduri Sko mengajarkan nilai-nilai luhur yang tidak boleh pudar. Ini adalah identitas kita yang harus diwariskan kepada generasi penerus,” ujar Al Haris.
Gubernur juga mendorong agar rumah adat beserta simbol-simbol budaya dikelola secara berkelanjutan oleh Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci. Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, lembaga adat, dan masyarakat sangat penting untuk menjaga kelestarian budaya sekaligus mengembangkan potensi pariwisata berbasis kearifan lokal.
Sementara itu, Wali Kota Sungai Penuh Alfin Bakar menegaskan komitmennya mendukung Kenduri Sko sebagai salah satu agenda budaya unggulan daerah. Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya memperkuat identitas masyarakat Kerinci, tetapi juga menumbuhkan nilai gotong royong, musyawarah, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.
Selain memiliki nilai budaya yang tinggi, Kenduri Sko juga dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Sungai Penuh serta Kabupaten Kerinci melalui promosi budaya lokal kepada masyarakat luas.
Kembalinya Kenduri Sko setelah hampir dua dekade menjadi harapan baru bagi pelestarian budaya di Provinsi Jambi. Dengan dukungan pemerintah, lembaga adat, dan masyarakat, tradisi tersebut diharapkan dapat kembali menjadi agenda rutin yang mampu menjaga warisan leluhur sekaligus memberikan manfaat bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
