Nanik S. Deyang Tak Kuasa Menangis, Sebut Prabowo Seolah Bekerja Sendirian: “Kasihan Presiden, Disalahkan Sendiri”
JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, mengungkapkan kesedihan saat membahas berbagai polemik yang mengiringi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai Presiden Prabowo Subianto tidak seharusnya menanggung kritik dan kesalahan seorang diri ketika program pemerintah tersebut menghadapi persoalan dalam pelaksanaannya.
Dalam sebuah podcast, Nanik menyampaikan pandangannya mengenai niat Presiden Prabowo menjalankan program MBG. Menurutnya, program tersebut bertujuan membantu anak-anak Indonesia memperoleh asupan gizi yang layak, bukan semata-mata untuk kepentingan politik ataupun Pemilu 2029.
Nanik mengaku tidak tega melihat program yang diyakininya memiliki tujuan baik justru diwarnai persoalan akibat dugaan penyalahgunaan amanah oleh oknum tertentu.
Ia menilai tindakan individu yang tidak menjalankan tanggung jawab dengan baik dapat berdampak terhadap kepercayaan masyarakat kepada program pemerintah dan kepemimpinan presiden.
Nanik Singgung Kinerja Kabinet Prabowo
Nanik juga menceritakan percakapannya dengan seorang kawan pada malam sebelum menyampaikan pernyataan tersebut. Dalam percakapan itu, kawannya menilai kabinet Prabowo seolah tidak berfungsi optimal sehingga presiden terkesan harus menanggung kesalahan seorang diri.
Menanggapi pandangan tersebut, Nanik mengaku tidak ingin menggeneralisasi kinerja seluruh jajaran pemerintah. Ia menyebut masih ada pihak yang bekerja dengan baik, meskipun menurutnya sebagian lainnya belum menunjukkan kinerja optimal.
“Ada yang kerja bagus, hanya memang ada yang belum optimal,” demikian jawaban Nanik sebagaimana dikutip dalam bahan pernyataan yang beredar.
Pernyataan itu menyoroti pentingnya tanggung jawab kolektif dalam menjalankan pemerintahan. Menurut pandangan tersebut, keberhasilan maupun kegagalan program tidak semestinya hanya dikaitkan dengan satu orang, melainkan juga harus dilihat dari pelaksanaan tugas seluruh jajaran yang terlibat.
Mengaku Telah Mendukung Prabowo Selama 14 Tahun
Nanik turut mengungkapkan bahwa dirinya telah mengikuti dan mendukung Prabowo selama kurang lebih 14 tahun. Pengalaman tersebut, menurutnya, membuat ia memahami karakter dan komitmen Prabowo dalam membangun Indonesia.
Ia mengajak masyarakat untuk melihat tujuan program pemerintah secara menyeluruh, sekaligus tetap memberikan perhatian terhadap persoalan yang muncul dalam pelaksanaannya.
Namun, dukungan terhadap tujuan program tetap perlu berjalan beriringan dengan evaluasi, pengawasan, dan penegakan aturan. Program yang menyangkut pemenuhan gizi anak membutuhkan pengelolaan yang transparan, standar pelayanan yang jelas, serta pertanggungjawaban apabila ditemukan pelanggaran.
Dengan demikian, upaya menjaga kepercayaan masyarakat tidak hanya bergantung pada niat pemimpin, tetapi juga pada kualitas pelaksanaan kebijakan di lapangan.
Nanik Sebut Gibran Tetap Bekerja
Dalam keterangannya, Nanik juga menyinggung peran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia menyebut Gibran tetap menjalankan tugas meskipun aktivitasnya tidak selalu menjadi sorotan publik.
Nanik juga mengungkapkan bahwa Gibran pernah menyampaikan tidak ingin menjadi “matahari kembar”, istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan dua pusat kekuasaan yang berjalan bersamaan dalam satu pemerintahan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks pembahasan mengenai pembagian peran antara presiden dan wakil presiden. Meski demikian, penilaian mengenai kinerja masing-masing pejabat perlu didasarkan pada tugas, program, dan hasil kerja yang dapat ditelusuri secara terbuka.
Polemik MBG Jadi Ujian Pelaksanaan Program Pemerintah
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo Subianto. Pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak sehingga koordinasi, pengawasan, dan evaluasi menjadi faktor penting untuk memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Ketika muncul persoalan dalam pelaksanaan program, pemerintah perlu memberikan penjelasan yang terbuka serta memastikan setiap dugaan pelanggaran diperiksa berdasarkan bukti.
Di satu sisi, tujuan meningkatkan pemenuhan gizi anak perlu didukung. Di sisi lain, kritik masyarakat terhadap kualitas pelaksanaan, tata kelola anggaran, dan dugaan penyimpangan juga harus ditanggapi secara serius.
Pernyataan Nanik memperlihatkan keprihatinannya terhadap beban politik yang menurutnya ditanggung Presiden Prabowo. Pada saat yang sama, polemik MBG menjadi pengingat bahwa keberhasilan program nasional membutuhkan kerja bersama, integritas pelaksana, serta tanggung jawab yang jelas di setiap tingkatan.
Pada akhirnya, kepercayaan publik terhadap pemerintah akan ditentukan bukan hanya oleh niat baik pemimpinnya, tetapi juga oleh hasil kerja nyata, keterbukaan, dan kesungguhan seluruh jajaran dalam memperbaiki kekurangan.
