6 Stasiun Kereta Tertua di Indonesia yang Masih Beroperasi Sejak Abad ke-19, Saksi Bisu Sejarah Perkeretaapian Nasional
JAKARTA – Indonesia memiliki sejarah panjang dalam dunia perkeretaapian. Jauh sebelum kemerdekaan, pemerintah kolonial Belanda telah membangun jaringan rel dan stasiun kereta api untuk mendukung mobilitas penumpang serta distribusi hasil perkebunan menuju pelabuhan. Menariknya, sejumlah stasiun yang dibangun sejak abad ke-19 masih berdiri kokoh dan tetap melayani masyarakat hingga saat ini.
Selain menjadi simpul transportasi, stasiun-stasiun bersejarah tersebut juga merupakan warisan budaya yang mencerminkan perkembangan teknologi, arsitektur, dan ekonomi Indonesia pada masa kolonial. Berikut enam stasiun kereta api tertua di Indonesia yang hingga kini masih beroperasi.
1. Stasiun Semarang Tawang (1867)
Stasiun Semarang Tawang merupakan salah satu stasiun tertua yang masih aktif di Indonesia. Diresmikan pada 10 Agustus 1867 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), stasiun ini menjadi titik awal jalur kereta api pertama di Indonesia yang menghubungkan Semarang dengan Tanggung, kemudian diperpanjang hingga Surakarta. Arsitektur kolonial yang megah menjadikan Semarang Tawang sebagai salah satu ikon sejarah Kota Semarang.
2. Stasiun Tanggung (1867)
Terletak di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Stasiun Tanggung menjadi stasiun aktif tertua di Indonesia yang masih melayani perjalanan kereta api. Dibangun bersamaan dengan jalur pertama Semarang–Tanggung pada tahun 1867, stasiun ini menjadi saksi awal perkembangan transportasi rel di Nusantara dan kini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.
3. Stasiun Alastua (1873)
Stasiun Alastua di Kota Semarang mulai beroperasi pada tahun 1873. Pada masa kolonial, stasiun ini memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas perdagangan dan pengangkutan hasil perkebunan dari wilayah pedalaman menuju kawasan pelabuhan. Hingga kini, Stasiun Alastua masih melayani perjalanan kereta api komuter dan angkutan barang.
4. Stasiun Surabaya Kota (1878)
Dikenal juga sebagai Stasiun Semut, Stasiun Surabaya Kota menjadi salah satu bangunan bersejarah di Jawa Timur. Dibangun pada akhir abad ke-19, stasiun ini memiliki gaya arsitektur kolonial yang khas dan pernah menjadi pusat aktivitas transportasi kereta api di Surabaya. Sampai sekarang, stasiun ini masih melayani sejumlah perjalanan kereta api penumpang.
5. Stasiun Lawang (1879)
Stasiun Lawang di Kabupaten Malang merupakan bagian penting dari jalur kereta api Surabaya–Malang. Bangunan bergaya kolonial dengan ventilasi besar dan atap tinggi masih dipertahankan hingga sekarang. Selain melayani perjalanan penumpang, stasiun ini menjadi salah satu bangunan bersejarah yang menggambarkan perkembangan jaringan rel di Jawa Timur.
6. Stasiun Lempuyangan (1878)
Stasiun Lempuyangan di Kota Yogyakarta merupakan salah satu stasiun tertua yang masih aktif beroperasi. Selama lebih dari satu abad, stasiun ini menjadi pusat keberangkatan berbagai kereta api, terutama kelas ekonomi dan layanan komuter. Keberadaannya menjadi bagian penting dalam sejarah transportasi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Lebih dari sekadar tempat naik dan turun penumpang, keenam stasiun tersebut merupakan saksi perjalanan panjang sejarah Indonesia. Bangunan-bangunan berusia lebih dari 140 tahun itu tetap berfungsi di tengah modernisasi sistem perkeretaapian nasional dan menjadi bukti bahwa warisan sejarah dapat terus dimanfaatkan tanpa kehilangan nilai budaya.
Pelestarian stasiun-stasiun bersejarah menjadi tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap dapat mengenal jejak perkembangan transportasi nasional. Dengan menjaga aset bersejarah tersebut, Indonesia tidak hanya mempertahankan identitas masa lalu, tetapi juga memperkuat fondasi sejarah bagi pembangunan transportasi masa depan.
