Soedharmono, Wakil Presiden yang Bekerja dalam Senyap: Dari Perjuangan hingga Puncak Kekuasaan

0
1788171108021

SOROTAN PUBLIK — Ia pernah berada di salah satu puncak kekuasaan Republik Indonesia, tetapi namanya tidak selalu menjadi sorotan utama. Soedharmono, S.H. adalah sosok yang menapaki perjalanan panjang dari masa perjuangan kemerdekaan hingga menduduki kursi Wakil Presiden Republik Indonesia.

Lahir di Cerme, Gresik, pada 12 Maret 1927, Soedharmono tumbuh di tengah masa penuh pergolakan. Ia turut terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan sebelum kemudian menjalani perjalanan panjang di dunia militer, hukum, birokrasi, dan pemerintahan.

Kariernya perlahan menanjak. Ia pernah dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk Sekretaris Kabinet, Menteri Sekretaris Negara, serta Ketua Umum Golkar.

Puncak perjalanan politiknya terjadi pada 11 Maret 1988 ketika Soedharmono dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Presiden Soeharto.

Bekerja Tanpa Banyak Sorotan

Meski berada di lingkaran kekuasaan, Soedharmono dikenal lebih banyak bekerja daripada berbicara.

Salah satu langkah yang dikenang dari masa pengabdiannya sebagai Wakil Presiden adalah pembukaan Tromol Pos 5000. Sarana tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan pengawasan, laporan, maupun masukan kepada pemerintah.

Ia juga mengawali kegiatan kunjungan kerja Wakil Presiden ke berbagai provinsi, departemen, kantor negara, dan lembaga pemerintahan.

Langkah tersebut memperlihatkan pendekatan bahwa jabatan publik bukan sekadar berada di balik meja pemerintahan, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana roda pemerintahan berjalan dan bagaimana masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.

Di Balik Kekuasaan, Ada Keluarga

Di balik kesibukannya sebagai pejabat negara, Soedharmono memiliki kehidupan keluarga bersama istrinya, Ratu Emma Norma Soedharmono.

Keduanya menikah pada 1951. Ketika karier Soedharmono terus meningkat hingga mencapai posisi Wakil Presiden, Emma tetap menjalankan perannya dalam keluarga sekaligus aktif dalam berbagai kegiatan sosial.

Bagi keluarga, Emma dikenal sebagai sosok ibu yang penuh perhatian. Kesibukan suaminya sebagai pejabat tinggi negara tidak membuat perhatian terhadap keluarga ditinggalkan.

Kisah tersebut memperlihatkan sisi lain kehidupan seorang pejabat tinggi negara. Di luar rumah, Soedharmono adalah Wakil Presiden Republik Indonesia. Namun ketika berada bersama keluarga, ia tetap seorang suami dan ayah.

Jejak Seorang Pejabat yang Bekerja dalam Senyap

Soedharmono meninggal dunia di Jakarta pada 25 Januari 2006. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Namanya mungkin tidak selalu menjadi tokoh yang paling sering dibicarakan ketika sejarah politik Indonesia dibahas. Namun perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa pengabdian kepada negara tidak selalu harus dilakukan melalui sorotan dan panggung besar.

Ia pernah berada di pusat kekuasaan, tetapi jejak yang ditinggalkannya juga berkaitan dengan pekerjaan administratif, pelayanan pemerintahan, serta upaya membuka ruang komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Kisah Soedharmono mengingatkan bahwa ukuran seorang tokoh tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa sering namanya disebut.

Ada orang yang bekerja di tengah sorotan. Ada pula yang menjalankan tugasnya dalam kesunyian.

Soedharmono adalah bagian dari generasi yang mengalami masa perjuangan, memasuki dunia pemerintahan, hingga akhirnya mencapai puncak kepemimpinan nasional.

Ia datang membawa tugas, menjalankan amanah, kemudian meninggalkan jejak sejarah.

Dan mungkin, dari perjalanan hidupnya, ada satu pelajaran sederhana yang tetap relevan: tidak semua orang besar harus banyak bicara. Sebagian memilih bekerja, mengabdi, dan membiarkan waktu yang menceritakan perjalanan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *