Prof. Sugiyono Ubah Royalti Buku dan Honor Jadi Masjid Rp2 Miliar, Wujud Pengabdian Lewat Ilmu
SOROTAN PUBLIK — Perjalanan panjang seorang akademisi tidak selalu berakhir pada gelar, jabatan, atau pencapaian pribadi. Prof. Dr. Sugiyono, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), justru memilih mengubah sebagian hasil perjuangannya dalam dunia pendidikan menjadi manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Melalui royalti buku dan honor sebagai pembicara, Prof. Sugiyono disebut membangun sebuah masjid di Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Masjid tersebut menjadi simbol pengabdian sekaligus wujud rasa syukur atas perjalanan panjangnya sebagai pendidik, penulis, dan akademisi.
Puluhan Tahun Menulis dan Berbagi Ilmu
Pengabdian Prof. Sugiyono melalui dunia pendidikan telah berlangsung selama puluhan tahun.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya pada 1990, ia terus aktif menulis dan membagikan pengetahuan, terutama dalam bidang metode penelitian dan statistik.
Puluhan buku yang ditulisnya kemudian digunakan oleh mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia. Pengetahuan yang dituangkan dalam buku-buku tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan akademiknya.
Produktivitas tersebut juga membawa berbagai penghargaan. Namanya antara lain pernah dikaitkan dengan rekor MURI dalam bidang produktivitas menulis dan kegiatan berbagi ilmu.
Namun, pencapaian tersebut tidak berhenti pada penghargaan maupun keuntungan finansial.
Royalti dan Honor untuk Membangun Masjid
Hasil dari perjalanan panjang sebagai penulis dan pembicara kemudian sebagian diwujudkan dalam bentuk pembangunan masjid.
Masjid yang dibangun di Desa Cindaga tersebut disebut menghabiskan biaya sekitar Rp2 miliar.
Bagi Prof. Sugiyono, ilmu dan kerja keras bukan hanya sarana untuk mencapai kesuksesan pribadi. Apa yang diperoleh dari perjuangan tersebut juga dapat dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk kemanfaatan.
Masjid tersebut diharapkan bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk belajar, berkumpul, serta menjalankan berbagai kegiatan keagamaan.
Dari Buku Menjadi Amal yang Terus Mengalir
Kisah Prof. Sugiyono menghadirkan sebuah perspektif mengenai makna keberhasilan seorang akademisi.
Buku-buku yang ditulisnya membantu mahasiswa dan masyarakat memperoleh pengetahuan. Sementara masjid yang dibangunnya dapat menjadi tempat masyarakat beribadah dan melakukan berbagai aktivitas keagamaan.
Dua bentuk pengabdian tersebut memiliki kesamaan: sama-sama berusaha menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Perjalanan tersebut juga menjadi pengingat bahwa ilmu tidak hanya menghasilkan gelar, jabatan, maupun penghasilan. Ketika ilmu dibarengi dengan ketekunan dan kepedulian sosial, hasilnya dapat dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk yang lebih luas.
Warisan yang Bukan Sekadar Materi
Pada akhirnya, kisah Prof. Sugiyono berbicara tentang warisan.
Buku dapat terus dibaca setelah penulisnya tidak lagi berada di ruang kelas. Masjid dapat terus digunakan masyarakat bahkan ketika orang yang membangunnya telah tiada.
Karena itu, nilai sebuah keberhasilan tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan seseorang, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat ditinggalkan.
Dari lembaran buku hingga bangunan masjid, perjalanan Prof. Sugiyono menunjukkan bahwa ilmu dapat menjadi jalan pengabdian.
Ketika pengetahuan, kerja keras, dan rasa syukur dipadukan dengan kepedulian kepada sesama, kesuksesan pribadi dapat berubah menjadi kebaikan yang manfaatnya terus dirasakan banyak orang.
