Rumpon Portabel ITB dan IPB Permudah Nelayan Tangkap Ikan Pelagis Bernilai Ekonomi Tinggi
TOLI-TOLI – Inovasi baru dari dunia akademik kembali hadir untuk mendukung kemajuan sektor perikanan nasional. Tim pengabdian kepada masyarakat dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama IPB University berhasil mengembangkan rumpon portabel berbasis atraktor suara yang dirancang untuk membantu nelayan meningkatkan hasil tangkapan ikan pelagis bernilai ekonomi tinggi.
Teknologi tersebut dikembangkan sebagai solusi bagi nelayan di Desa Kabetan, Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah, yang selama ini masih mengandalkan metode penangkapan sederhana dengan hasil tangkapan yang didominasi ikan karang di perairan dangkal.
Rumpon Portabel Lebih Praktis dan Ekonomis
Berbeda dengan rumpon konvensional yang dipasang secara permanen di laut, rumpon portabel ini dirancang agar mudah dirakit, dipasang, dibongkar, serta dapat dibawa kembali ke darat setelah digunakan.
Alat tersebut mampu beroperasi hingga kedalaman sekitar 30 meter, memiliki masa pakai hingga tiga tahun, serta diproduksi dengan biaya sekitar Rp10 juta per unit, jauh lebih ekonomis dibandingkan rumpon konvensional yang dapat mencapai Rp25 juta hingga Rp30 juta.
Desain portabel juga dinilai mampu mengurangi risiko kehilangan maupun kerusakan akibat cuaca ekstrem maupun aktivitas di laut.
Atraktor Suara Tarik Ikan Pelagis
Keunggulan utama inovasi ini terletak pada penggunaan atraktor suara yang memancarkan frekuensi sekitar 11.000–15.000 Hz.
Frekuensi tersebut dirancang untuk menarik perhatian ikan pelagis seperti tongkol, cakalang, dan tuna, sehingga ikan berkumpul di sekitar rumpon dan lebih mudah ditangkap oleh nelayan.
Dengan teknologi tersebut, nelayan tidak lagi menghabiskan banyak waktu maupun bahan bakar untuk mencari gerombolan ikan di lautan yang luas.
Hasil uji lapangan menunjukkan penggunaan rumpon portabel mampu meningkatkan jumlah tangkapan sekaligus memperluas jenis ikan yang berhasil diperoleh nelayan.
Dilengkapi Pelatihan dan Pendampingan
Selain menyerahkan perangkat teknologi, tim pengabdian yang dipimpin Dr. Ir. Sri Raharno, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB bersama Dr. Roza Yusfiandayani, S.Pi. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University juga memberikan pelatihan kepada para nelayan.
Materi pelatihan meliputi teknik perakitan rumpon, pengaturan frekuensi suara, perawatan alat, hingga strategi penangkapan ikan yang lebih efektif dan efisien.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan nelayan dalam mengoperasikan teknologi secara mandiri sekaligus menjaga keberlanjutan pemanfaatannya.
Dorong Perikanan Berkelanjutan
Tim pengabdian juga membekali nelayan dengan edukasi mengenai keselamatan kerja di laut serta pentingnya menjaga kelestarian sumber daya perikanan.
Para nelayan didorong menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan serta mematuhi ketentuan penangkapan ikan agar peningkatan produksi tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga ekosistem laut.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat tersebut diharapkan dapat menjadi model pengembangan teknologi tepat guna bagi desa-desa pesisir lainnya di Indonesia.
Ke depan, rumpon portabel berbasis atraktor suara masih memiliki peluang untuk terus dikembangkan, termasuk melalui integrasi sensor pemantau kondisi laut maupun penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya.
Dengan inovasi tersebut, sektor perikanan nasional diharapkan semakin produktif, efisien, dan berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
