ISS Mengelilingi Bumi 16 Kali Sehari, Astronot Saksikan 16 Matahari Terbit dan Terbenam
Stasiun Luar Angkasa Internasional atau International Space Station (ISS) menjadi salah satu laboratorium penelitian paling kompleks yang pernah dibangun manusia di luar Bumi. Berada di orbit sekitar 400 kilometer di atas permukaan Bumi, ISS menjadi tempat penelitian berbagai bidang sains sekaligus laboratorium mikrogravitasi bagi para astronaut dari berbagai negara.
ISS merupakan proyek kerja sama internasional yang melibatkan NASA dari Amerika Serikat, Roscosmos dari Rusia, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), European Space Agency (ESA), dan Canadian Space Agency (CSA). Pembangunan stasiun dilakukan secara bertahap sejak 1998, sementara misi berawak secara permanen dimulai pada 2000.
Salah satu fenomena paling menarik yang dialami penghuni ISS berkaitan dengan kecepatan orbitnya. Stasiun tersebut bergerak mengelilingi Bumi dengan kecepatan sekitar 28.000 kilometer per jam dan menyelesaikan satu putaran orbit dalam kurang lebih 90 menit.
Akibatnya, astronaut di dalam ISS dapat menyaksikan sekitar 16 kali matahari terbit dan 16 kali matahari terbenam dalam satu hari. Siklus siang dan malam yang sangat cepat tersebut menjadi salah satu perbedaan paling mencolok antara kehidupan di orbit dan kehidupan manusia di permukaan Bumi.
ISS Jadi Laboratorium Sains di Luar Angkasa
Kondisi mikrogravitasi di ISS memungkinkan para ilmuwan melakukan penelitian yang sulit atau bahkan tidak dapat dilakukan dengan cara yang sama di Bumi. Eksperimen mencakup bidang biologi, fisika, ilmu material, kesehatan manusia, teknologi, hingga pengembangan sistem pendukung kehidupan.
Penelitian di lingkungan mikrogravitasi juga membantu ilmuwan memahami bagaimana tubuh manusia beradaptasi terhadap perjalanan luar angkasa dalam jangka panjang. Pengetahuan tersebut menjadi penting untuk mempersiapkan misi eksplorasi yang lebih jauh, termasuk misi menuju Bulan dan Mars.
Salah satu tantangan terbesar kehidupan di luar angkasa adalah ketersediaan air. Mengirim air dari Bumi membutuhkan biaya dan kapasitas angkut yang besar. Karena itu, ISS menggunakan sistem Environmental Control and Life Support System (ECLSS) untuk memulihkan dan mendaur ulang air dari berbagai sumber.
Sistem tersebut memungkinkan air dari kelembapan udara, keringat, dan urine diproses kembali sehingga dapat digunakan sebagai air bersih. Teknologi daur ulang air menjadi bagian penting dari sistem pendukung kehidupan karena efisiensi sumber daya sangat menentukan keberlangsungan misi antariksa.
Tubuh Astronaut Berubah Selama di Orbit
Kehidupan dalam mikrogravitasi juga memberikan dampak terhadap tubuh manusia. Tanpa beban gravitasi seperti di Bumi, tulang dan otot astronaut mengalami penurunan massa apabila tidak diimbangi dengan latihan fisik secara rutin.
Karena itu, astronaut ISS menjalani program olahraga harian menggunakan peralatan khusus. Latihan tersebut dirancang untuk membantu mempertahankan kekuatan otot dan kepadatan tulang selama berada di orbit.
Mikrogravitasi juga menyebabkan tulang belakang meregang sehingga sebagian astronaut mengalami peningkatan tinggi badan sementara selama berada di luar angkasa. Setelah kembali ke Bumi dan tubuh kembali beradaptasi dengan gravitasi, tinggi tersebut umumnya kembali mendekati kondisi sebelum penerbangan.
Selain perubahan fisik, astronaut juga dapat mengalami fenomena unik setelah melakukan aktivitas di luar stasiun. Material yang terbawa kembali dari lingkungan luar angkasa pada pakaian dan peralatan dapat menghasilkan aroma yang oleh sejumlah astronaut digambarkan menyerupai logam panas, asap, atau sesuatu yang terbakar.
ISS Jadi Simbol Kerja Sama Antariksa Dunia
Keberadaan ISS tidak hanya penting dari sisi penelitian ilmiah, tetapi juga menjadi simbol kerja sama internasional. Astronaut dari berbagai negara bekerja dalam satu lingkungan yang sama untuk menjalankan eksperimen dan mempertahankan operasional stasiun.
Berbagai teknologi yang dikembangkan dan diuji di ISS juga berpotensi mendukung kehidupan manusia dalam misi antariksa jangka panjang. Sistem pengelolaan air, pemanfaatan sumber daya secara efisien, penelitian kesehatan, serta teknologi pendukung kehidupan menjadi bagian penting dari persiapan eksplorasi luar angkasa generasi berikutnya.
ISS dengan demikian bukan sekadar stasiun yang mengorbit Bumi. Fasilitas tersebut merupakan laboratorium terbang yang memungkinkan manusia mempelajari kehidupan dalam lingkungan luar angkasa sekaligus menguji teknologi yang dibutuhkan untuk perjalanan antariksa yang lebih jauh.
Fenomena 16 kali matahari terbit dan terbenam dalam sehari menjadi salah satu gambaran sederhana betapa berbeda kehidupan di orbit dibandingkan kehidupan di Bumi. Di balik fenomena tersebut terdapat penelitian dan teknologi yang terus dikembangkan untuk memperluas kemampuan manusia menjelajah ruang angkasa.
