Pulang Sebelum Dipulangkan: Renungan Jiwa yang Tenang dalam QS. Al-Fajr Ayat 27–30
JAKARTA – Ada manusia yang baru memahami makna “pulang” ketika kematian sudah berada di hadapannya. Padahal, Al-Qur’an telah lebih dahulu mengingatkan manusia tentang panggilan kepada jiwa yang tenang untuk kembali kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu.”
Ayat tersebut terdapat dalam QS. Al-Fajr ayat 27–28, yang kemudian dilanjutkan dengan ayat 29–30:
“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Pesan tersebut dapat menjadi bahan renungan bahwa ketenangan jiwa tidak selalu identik dengan kehidupan yang bebas dari persoalan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dapat terlihat tenang secara lahiriah, tetapi di dalam dirinya masih berlangsung berbagai pergulatan. Kekhawatiran kehilangan harta, jabatan, pasangan, pengakuan, popularitas, masa depan, bahkan ketakutan terhadap kematian dapat membuat hati terus berada dalam kegelisahan.
Manusia modern sering kali membayangkan ketenangan akan datang setelah seluruh persoalan hidup terselesaikan. Karena itu, berbagai hal kemudian dikejar untuk mendapatkan rasa aman, mulai dari uang, status, popularitas, cinta hingga pengakuan dari orang lain.
Namun, semakin banyak sesuatu yang dianggap sebagai sumber ketenangan untuk digenggam, semakin besar pula ketakutan ketika harus kehilangan.
Pada titik inilah muncul pertanyaan penting: apakah yang sebenarnya ditakuti manusia ketika kehilangan sesuatu?
Bisa jadi bukan sekadar kehilangan benda, uang, jabatan atau status, melainkan kehilangan identitas yang selama ini dibangun berdasarkan hal-hal tersebut.
Dalam perspektif renungan spiritual, ketenangan bukan semata-mata keadaan ketika seluruh keinginan terpenuhi. Ketenangan dapat dimulai ketika hati tidak lagi menjadikan dunia sebagai syarat mutlak untuk merasa utuh.
Pulang Sebelum Dipulangkan
Frasa “irji‘i ilā rabbiki” yang berarti “kembalilah kepada Tuhanmu” dapat menjadi pengingat tentang perjalanan batin manusia.
Pulang tidak hanya bermakna perpindahan tempat. Dalam konteks renungan keagamaan, pulang dapat dimaknai sebagai kembali kepada Allah setelah manusia terlalu jauh mengejar dunia, ego, keinginan, dan berbagai keterikatan.
Manusia diingatkan untuk mengembalikan kehendaknya kepada Allah. Tidak semua yang diinginkan harus terjadi sesuai dengan rencana pribadi.
Manusia juga perlu menyadari bahwa apa yang dimilikinya pada hakikatnya merupakan titipan. Harta, jabatan, popularitas, hubungan, kesehatan dan berbagai kenikmatan dunia memiliki batas waktu.
Kesadaran tersebut bukan berarti seseorang harus berhenti bekerja atau meninggalkan dunia. Justru manusia tetap dituntut untuk berusaha, berkarya dan menjalankan tanggung jawabnya.
Yang perlu dilepaskan adalah keyakinan bahwa segala sesuatu di dunia harus berjalan sesuai kehendak pribadi agar hati dapat merasa tenang.
Ridha dan Berakhirnya Pergulatan Batin
QS. Al-Fajr juga menggambarkan jiwa yang berada dalam keadaan rāḍiyatan marḍiyyah, yakni jiwa yang ridha dan diridhai.
Ridha bukan berarti seseorang berhenti berusaha. Ridha dapat dipahami sebagai sikap menerima ketetapan Allah setelah ikhtiar dilakukan, tanpa menjadikan hasil yang tidak sesuai harapan sebagai alasan untuk berputus asa.
Dalam perjalanan hidup, manusia terkadang lebih banyak bertanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?”
Renungan tersebut mengajak manusia mengubah pertanyaan menjadi, “Apa yang dapat kupelajari dari keadaan ini?”
Perubahan cara memandang persoalan tersebut dapat menjadi bagian dari proses mendewasakan diri dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Apa yang Harus Dimatikan Sebelum Kematian?
Kematian pada akhirnya akan datang kepada setiap manusia. Namun, sebelum kematian datang, ada berbagai hal dalam diri yang perlu ditundukkan.
Kesombongan, keakuan, keterikatan berlebihan terhadap dunia, keinginan untuk selalu menang, kebutuhan untuk selalu dipuji, serta ketakutan berlebihan terhadap kehilangan merupakan bagian dari pergulatan batin yang perlu dihadapi.
Menundukkan ego bukan berarti berhenti menjalani kehidupan.
Manusia tetap dapat bekerja, mencintai, berjuang, menangis dan menghadapi berbagai persoalan. Perbedaannya terletak pada posisi dunia dalam hati.
Dunia dapat berada di tangan seseorang tanpa harus menjadi pusat kehidupannya.
Pulanglah Selagi Masih Ada Kesempatan
Jangan menunggu rambut memutih. Jangan menunggu tubuh melemah. Jangan menunggu seseorang berhadapan dengan batas akhir kehidupannya untuk mulai mengingat Allah.
Selagi masih memiliki kesempatan, manusia dapat memperbaiki hubungan dengan Tuhannya, memperbaiki hubungan dengan sesama, meminta maaf, memaafkan, memperbaiki kesalahan dan melepaskan kesombongan.
Sebab pada akhirnya, tidak ada satu pun kenikmatan dunia yang dapat dibawa ketika manusia meninggalkan kehidupan.
Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan berlalu. Pujian manusia tidak lagi memiliki arti.
Yang tersisa adalah amal dan pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah SWT.
Karena itu, makna “pulang” tidak harus menunggu kematian datang.
Pulanglah kepada Allah selagi kaki masih kuat melangkah, selagi hati masih memiliki kesempatan untuk berubah dan selagi waktu masih diberikan.
Sebab boleh jadi rahasia jiwa yang tenang bukan karena hidupnya terbebas dari badai, melainkan karena di tengah badai kehidupan, ia mengetahui kepada siapa dirinya harus kembali.
“Pulanglah sebelum dipulangkan.”
Penulis: Sutrisno Ginoga
Request: Mulya Efendi
