PSEL Denpasar Raya Resmi Groundbreaking, Investasi Rp3 Triliun Diarahkan Jadi Solusi Sampah dan Energi Hijau Bali

0
IMG-20260722-WA0010

DENPASAR, BALI — Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya resmi memasuki tahap pembangunan setelah groundbreaking digelar di Bali pada Rabu (8/7/2026). Proyek yang didukung investasi sekitar Rp3 triliun tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong pengelolaan sampah modern sekaligus memperkuat pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia.

Pembangunan fasilitas ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) antara PT PLN (Persero) dan PT Weiming Nusantara Bali New Energy sebagai badan usaha pelaksana proyek.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa proyek tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah di Indonesia.

Menurutnya, keberadaan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi diharapkan dapat memberikan solusi konkret terhadap persoalan timbulan sampah sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat.

Fasilitas yang berlokasi di Desa Pedungan, Denpasar, itu dirancang untuk mengolah sekitar 1.500 ton sampah setiap hari atau lebih dari 500.000 ton per tahun. Kapasitas tersebut diproyeksikan mampu menangani sebagian signifikan dari timbulan sampah di Bali.

Dengan masa konstruksi sekitar 18 bulan, fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027. Kehadiran proyek ini diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap tempat pemrosesan akhir sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah di kawasan Denpasar Raya dan sekitarnya.

Teknologi yang digunakan berupa moving grate incinerator, yang telah diterapkan di berbagai fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di sejumlah negara. Proyek ini juga dirancang dengan mengacu pada standar pengendalian emisi yang ketat, termasuk standar lingkungan Uni Eropa melalui European Industrial Emissions Directive atau EU IED.

CEO Danantara Investment Management Pandu Sjahrir mengatakan proses pemilihan mitra proyek dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan tenaga ahli yang memiliki pengalaman dalam pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi di tingkat internasional.

Menurutnya, tata kelola proyek dan penerapan standar teknologi menjadi faktor penting untuk memastikan fasilitas dapat beroperasi secara efektif sekaligus memenuhi aspek keselamatan dan perlindungan lingkungan.

Dari sisi energi, fasilitas PSEL Denpasar Raya diproyeksikan menghasilkan listrik yang dapat memenuhi kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga di Bali. Dengan demikian, sampah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui proses pengolahan yang terukur.

Proyek ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi beban emisi dari tempat pemrosesan akhir serta menekan emisi karbon. Pengelolaan sampah melalui teknologi termal dinilai dapat menjadi salah satu bagian dari strategi transisi menuju sistem pengelolaan sampah dan energi yang lebih berkelanjutan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai pembangunan fasilitas tersebut memiliki arti strategis bagi Bali, terutama dalam mendukung sektor pariwisata. Bali merupakan salah satu destinasi wisata utama Indonesia dengan jumlah kunjungan wisatawan yang tinggi dan menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar.

Pengelolaan sampah yang efektif menjadi semakin penting untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus mempertahankan daya tarik Bali sebagai destinasi wisata berkelas dunia.

Dengan adanya fasilitas PSEL, pemerintah berharap sebagian timbulan sampah dapat diolah menjadi energi sehingga mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan akhir sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.

Proyek tersebut juga telah ditetapkan sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional berdasarkan kebijakan pemerintah terkait percepatan pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah dan energi ramah lingkungan.

Selain manfaat lingkungan dan energi, pembangunan proyek diperkirakan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Aktivitas konstruksi dan operasional fasilitas berpotensi membuka lapangan pekerjaan serta menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.

Pemerintah juga mendorong agar pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi turut memperhatikan keterlibatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di sekitar lokasi proyek.

Ke depan, pemerintah berencana mengembangkan model pengolahan sampah menjadi energi di sejumlah kawasan aglomerasi perkotaan lainnya. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya nasional untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan.

PSEL Denpasar Raya diharapkan dapat menjadi salah satu contoh penerapan teknologi pengolahan sampah yang terintegrasi dengan sistem energi. Keberhasilan proyek ini akan menjadi penting dalam menentukan efektivitas pengembangan fasilitas serupa di daerah lain.

Bagi Bali, proyek tersebut bukan hanya pembangunan fasilitas pengolahan sampah. Kehadirannya diharapkan menjadi bagian dari transformasi pengelolaan lingkungan yang lebih modern, sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pariwisata dan kualitas hidup masyarakat.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, BUMN, investor, dan masyarakat, pengelolaan sampah diharapkan tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai peluang untuk menghasilkan energi dan menciptakan nilai ekonomi.

Pembangunan PSEL Denpasar Raya menjadi langkah awal menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Jika berjalan sesuai target dan memenuhi standar lingkungan yang ditetapkan, proyek ini berpotensi menjadi salah satu model penting dalam upaya Indonesia membangun pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus memperkuat agenda transisi energi hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *