Perkuat Ketahanan Pangan, Lapas Muara Tebo Panen Telur dari 300 Ayam Petelur

0
IMG-20260825-WA0016

MUARA TEBO — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Muara Tebo terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) melalui kegiatan peternakan yang produktif. Salah satunya diwujudkan melalui panen telur dari peternakan ayam petelur di area perkebunan Lapas Muara Tebo pada Kamis (22/8/2026).

Kegiatan panen dilaksanakan oleh Kasubsi Giatja dan staf bimbingan kerja bersama warga binaan serta anak magang. Dari peternakan yang memiliki sekitar 300 ekor ayam petelur tersebut, diperoleh hasil produksi sekitar 5 hingga 7 karpet telur dengan kualitas baik dan layak konsumsi.

Peternakan Jadi Sarana Pembinaan Warga Binaan

Kegiatan peternakan ayam petelur menjadi bagian dari upaya Lapas Muara Tebo memberikan keterampilan kerja kepada WBP sekaligus mendukung program ketahanan pangan.

Selain dimanfaatkan untuk kebutuhan internal, sebagian hasil produksi juga dipasarkan oleh Lapas Muara Tebo. Hasil produksi selanjutnya turut digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur Lapas sebagai bahan konsumsi warga binaan.

Langkah tersebut menjadi bentuk optimalisasi hasil pembinaan sekaligus mendukung keberlanjutan dan kemandirian program peternakan yang dikelola di lingkungan lapas.

“Program peternakan ini bukan hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga menjadi sarana pembinaan bagi warga binaan agar memiliki keterampilan yang dapat bermanfaat setelah selesai menjalani masa pidana. Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan mampu memberikan dampak positif bagi ketahanan pangan di Lapas Muara Tebo,” ujar Kepala Lapas Kelas IIB Muara Tebo, Mukhlisin Fardi.

Hasil Panen Dimanfaatkan untuk Kebutuhan Dapur Lapas

Seluruh hasil panen kemudian diserahkan kepada dapur Lapas Kelas IIB Muara Tebo untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan dalam penyediaan menu konsumsi bagi WBP.

Kasubsi Kegiatan Kerja, Munawir, mengatakan pihaknya terus berupaya menjaga kualitas hasil peternakan agar tetap baik dan layak konsumsi.

“Kami berupaya menjaga kualitas hasil peternakan agar tetap baik dan layak konsumsi, sehingga hasil pembinaan ini benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh warga binaan maupun lingkungan lapas,” ujar Munawir.

Program peternakan ayam petelur tersebut menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya menjadi tempat menjalani pembinaan, tetapi juga dapat berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan.

Melalui keterampilan yang diperoleh selama mengikuti program, warga binaan diharapkan memiliki bekal untuk hidup mandiri dan produktif setelah kembali ke tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *