Masya Allah, Eks Geng Motor Bangun Masjid di Bawah Tol Buah Batu Bandung, Jadi Oase bagi Musafir dan Warga
BANDUNG — Tidak semua perjalanan menuju kebaikan dimulai dari kehidupan yang sempurna. Ada yang justru lahir dari penyesalan, kehilangan, dan keberanian untuk meninggalkan masa lalu.
Kisah tersebut tergambar dalam perjalanan Saepul Rohmat, yang dalam sejumlah kisah juga disebut Saiful Rahman. Pria yang pernah dikenal sebagai bagian dari komunitas geng motor Brigez di kawasan Buahbatu Bandung pada awal 2000-an itu kemudian memilih jalan berbeda dalam hidupnya.
Ia mendirikan Masjid Hijrah BJTB (Bawah Jembatan Tol Buahbatu), sebuah masjid yang berdiri di bawah struktur jalan tol di kawasan Buahbatu, Bandung.
Masjid tersebut bukan sekadar tempat melaksanakan salat. Bagi Saepul, keberadaannya menjadi simbol perubahan hidup sekaligus upaya mengubah tempat yang sebelumnya identik dengan aktivitas negatif menjadi ruang yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kehilangan Sang Anak Menjadi Titik Balik
Perjalanan hijrah Saepul tidak terlepas dari pengalaman kehilangan yang sangat mendalam.
Kepergian putra sulungnya membuat Saepul merenungkan kembali kehidupan dan kematian. Peristiwa tersebut menjadi titik balik yang mendorongnya untuk meninggalkan kehidupan jalanan dan mencari ketenangan melalui jalan yang berbeda.
Masa lalu yang pernah dijalani tidak ingin terus dibawa ke masa depan.
Keinginan untuk berhijrah kemudian diwujudkan bukan hanya melalui perubahan pribadi, tetapi juga dengan menghadirkan sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Dari sanalah gagasan membangun masjid mulai tumbuh.
Dari Kolong Tol yang Rawan Menjadi Tempat Ibadah
Lokasi Masjid Hijrah BJTB berada di bawah jembatan Tol Padaleunyi sekitar kilometer 142.
Sebelum berubah menjadi tempat ibadah dan ruang sosial, kawasan tersebut disebut pernah dikenal sebagai lokasi yang rawan berbagai aktivitas negatif.
Bagi Saepul, kondisi tersebut justru menjadi alasan untuk menghadirkan perubahan.
Ia memilih lokasi yang tidak biasa untuk sebuah masjid. Bukan di tengah kawasan permukiman yang sudah tertata, melainkan di ruang bawah jembatan tol yang selama ini jauh dari kesan sebagai tempat ibadah.
Keputusan tersebut tentu tidak langsung berjalan mulus.
Saepul harus menghadapi berbagai persoalan di lapangan, termasuk gesekan dengan pihak-pihak yang sebelumnya menguasai atau memanfaatkan kawasan tersebut.
Pendekatan yang dilakukan bukan dengan kekerasan, melainkan melalui komunikasi dan pendekatan humanis kepada tokoh masyarakat serta penghuni kawasan.
Bermula dari Lahan Sederhana
Gagasan pembangunan masjid mulai diwujudkan pada 1 Ramadan 1443 Hijriah atau sekitar 2022.
Dengan lahan sekitar 6 x 12 meter dan kondisi awal yang sangat sederhana, pembangunan perlahan dimulai.
Tidak ada kemewahan di awal perjalanan tersebut.
Menurut kisah yang berkembang, Saepul juga tidak mengandalkan proposal formal untuk menggalang dana pembangunan. Bantuan justru datang secara bertahap dari para dermawan yang mengetahui perjuangan tersebut.
Sedikit demi sedikit, bangunan masjid kemudian berkembang.
Dari tempat yang awalnya hanya berupa ruang sederhana, lahirlah sebuah masjid yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar.
Masjid Tanpa Kubah di Bawah Jalan Tol
Masjid Hijrah BJTB memiliki karakter yang sangat berbeda dibandingkan masjid pada umumnya.
Tidak terdapat kubah besar yang menjadi penanda dari kejauhan. Bagian atas bangunan justru langsung berada di bawah struktur beton jalan tol yang aktif digunakan kendaraan.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghilangkan fungsi utama masjid.
Bangunan yang relatif terbuka itu dilaporkan mampu menampung hingga sekitar 250 jamaah dalam kondisi tertentu.
Kesederhanaan justru menjadi identitasnya.
Masjid tersebut memperlihatkan bahwa tempat ibadah tidak selalu harus berdiri dengan arsitektur megah. Di ruang yang terbatas sekalipun, ibadah dan kegiatan sosial tetap dapat tumbuh selama ada kepedulian dan semangat gotong royong.
Bukan Hanya Tempat Salat
Yang menarik, fungsi Masjid Hijrah BJTB tidak berhenti sebagai tempat ibadah.
Kawasan tersebut juga dikembangkan sebagai ruang singgah bagi masyarakat yang sedang melakukan perjalanan.
Tersedia fasilitas seperti tempat beristirahat, kopi gratis, tempat mengisi daya telepon seluler, hingga bengkel mini.
Kehadiran fasilitas tersebut membuat masjid menjadi tempat yang dekat dengan kehidupan masyarakat jalanan.
Pengemudi ojek online, sopir truk, musafir, hingga warga yang melintas dapat menggunakan kawasan tersebut untuk beristirahat sekaligus menunaikan ibadah.
Di tempat seperti inilah masjid tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga ruang sosial.
Dari Masa Lalu Kelam Menuju Jalan Pengabdian
Perjalanan Saepul memberikan pesan bahwa seseorang tidak selamanya harus didefinisikan oleh masa lalunya.
Kehidupan manusia dapat berubah ketika muncul kesadaran untuk memperbaiki diri.
Masjid Hijrah BJTB menjadi simbol dari proses tersebut.
Tempat yang sebelumnya dipandang sebagai kawasan rawan kemudian berusaha diubah menjadi tempat orang-orang datang untuk beribadah, beristirahat, berbagi, dan mendapatkan ketenangan.
Bagi mereka yang singgah, masjid tersebut mungkin hanya sebuah tempat kecil di bawah jalan tol.
Namun bagi Saepul, tempat itu merupakan bagian dari perjalanan panjang untuk menebus masa lalu melalui kebaikan.
Kisahnya mengajarkan bahwa hijrah bukan sekadar mengganti penampilan atau meninggalkan lingkungan lama.
Hijrah juga berarti mengubah energi kehidupan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Ketika Pertobatan Menjadi Manfaat
Kisah Saepul Rohmat pada akhirnya bukan hanya tentang seorang mantan anak jalanan yang kemudian membangun masjid.
Lebih jauh, ini adalah cerita tentang kehilangan, perenungan, keberanian mengambil keputusan, dan usaha mengubah ruang yang sebelumnya dipandang negatif menjadi tempat yang memberikan manfaat.
Masjid Hijrah BJTB berdiri dengan segala kesederhanaannya di bawah beton jalan tol.
Tidak megah. Tidak luas. Namun di tempat tersebut, orang datang membawa berbagai cerita kehidupan.
Ada yang datang untuk salat, ada yang beristirahat setelah bekerja, ada musafir yang membutuhkan tempat berteduh, dan ada pula mereka yang sekadar mencari secangkir kopi sambil mengisi daya telepon.
Di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang melintas di atasnya, masjid itu menghadirkan suasana yang berbeda.
Sebuah pengingat bahwa kebaikan dapat tumbuh di tempat mana pun.
Dan terkadang, jalan menuju perubahan justru dimulai ketika seseorang berani mengakui bahwa dirinya pernah salah, lalu memilih untuk memperbaikinya.
Masya Allah. Dari bawah jembatan tol, sebuah perjalanan hijrah menemukan bentuknya: bukan sekadar membangun masjid, tetapi berusaha membangun kembali kehidupan.
