Karhutla Meluas di Tengah Musim Kemarau, BNPB Catat Puluhan Hektare Lahan Terbakar dari Aceh hingga Sulawesi

0
IMG-20260720-WA0066

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada periode Minggu hingga Senin, 19–20 Juli 2026. Di tengah musim kemarau, kebakaran dilaporkan terjadi di sejumlah daerah di Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi dengan luas lahan terdampak mencapai puluhan hektare.

Di Provinsi Aceh, karhutla terjadi di Kampung Kuyun Uken, Kecamatan Celala, Kabupaten Aceh Tengah, pada Minggu (19/7/2026) sekitar pukul 01.15 WIB. Tim terkait langsung melakukan koordinasi dan penanganan di lokasi. Sekitar 1 hektare lahan terdampak kebakaran tanpa menimbulkan korban jiwa.

Api berhasil dipadamkan dan kondisi di lokasi dinyatakan terkendali. BPBD bersama instansi terkait tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali titik api.

Karhutla juga dilaporkan terjadi di wilayah Aceh Barat dan Kabupaten Nagan Raya. Di Nagan Raya, kebakaran dilaporkan melanda lahan HGU dengan luas area terdampak mencapai sekitar 40 hektare. Kebakaran tersebut disebut masih dalam proses penanganan. Sementara itu, kejadian di Aceh Barat diduga berkaitan dengan aktivitas pembukaan dan pembersihan lahan menggunakan metode pembakaran.

Di Provinsi Jambi, kebakaran lahan terjadi di Desa Batin, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batang Hari, pada Minggu (19/7) sekitar pukul 06.00 WIB. Kebakaran menghanguskan lahan seluas kurang lebih 2,5 hektare. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut dan api telah berhasil dipadamkan.

Pasca kejadian, Komandan Korem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin selaku Pelaksana Harian Dansatgas Karhutla Provinsi Jambi melaksanakan patroli udara untuk memantau sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran. Pemantauan dilakukan untuk memastikan efektivitas penanganan di lapangan, termasuk pelaksanaan pemadaman melalui water bombing serta memastikan titik api yang telah ditangani benar-benar padam.

Sementara itu, di Jawa Timur, kebakaran lahan terjadi di Desa Randegansari, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, pada Sabtu (18/7) sekitar pukul 13.45 WIB. Kebakaran melanda lahan kosong di kawasan Perumahan Sentraland dengan luas area terdampak sekitar 3 hektare.

BPBD Provinsi Jawa Timur berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan instansi terkait dalam penanganan kejadian tersebut. BPBD Kabupaten Gresik juga melakukan asesmen dan bersama tim pemadam berupaya mengendalikan api.

Jawa Timur sendiri tengah berada dalam Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan yang berlaku sejak 26 Mei hingga 6 Oktober 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat musim kemarau dapat meningkatkan risiko kebakaran di kawasan yang memiliki vegetasi kering dan mudah terbakar.

Di Kalimantan Selatan, karhutla terjadi di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu, pada Minggu (19/7) sekitar pukul 13.30 WIB. Data sementara menunjukkan sekitar 5 hektare lahan terdampak kebakaran.

BPBD Kabupaten Tanah Bumbu bersama berbagai unsur terkait melakukan upaya pemadaman. Penanganan melibatkan BPBD Tanah Bumbu, Damkar Simpang Empat, Rescue Jhonlin, Security Jhonlin, serta karyawan Jhonlin. Dari luas area yang terdampak, sekitar 2 hektare telah berhasil ditangani, sementara proses pengendalian masih berlangsung.

Kebakaran lahan juga terjadi di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, pada Minggu (19/7) sekitar pukul 15.00 WIB. Kebakaran dilaporkan terjadi di tiga kelurahan, yakni Kelurahan Harapan Baru di Kecamatan Loa Janan Ilir, Kelurahan Mugirejo di Kecamatan Sungai Pinang, dan Kelurahan Bukit Pinang di Kecamatan Samarinda Ulu.

Total luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 35,2 hektare. Rinciannya sekitar 5 hektare berada di Kecamatan Loa Janan Ilir, 30 hektare di Kecamatan Sungai Pinang, dan 0,2 hektare di Kecamatan Samarinda Ulu.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. BPBD Kota Samarinda melakukan pengecekan dan asesmen sekaligus berkoordinasi dengan Disdamkarmat Kota Samarinda, Katana Kelurahan Simpang Tiga, serta relawan untuk melakukan pemadaman. Penanganan terus dilakukan guna mencegah kebakaran meluas.

Dari wilayah Sulawesi, karhutla dilaporkan terjadi di Desa Atue, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pada Minggu (19/7) sekitar pukul 18.00 WITA. Kebakaran menghanguskan lahan seluas kurang lebih 1 hektare tanpa menimbulkan korban jiwa.

BPBD Kabupaten Luwu Timur bersama Dinas Pemadam Kebakaran melakukan penanganan dengan melibatkan TRC BPBD, Damkar, Manggala Agni, Dinas Perhubungan, TNI, Polri, pemerintah desa dan kecamatan, serta masyarakat setempat. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.00 WITA dan kondisi di lokasi dinyatakan terkendali.

Selain mencatat kejadian karhutla, BNPB juga melaporkan sejumlah bencana lain di berbagai daerah. Di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, banjir bandang terjadi di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, pada Sabtu (18/7) sekitar pukul 19.45 WIB. Bencana tersebut dipicu hujan dengan intensitas tinggi dan pendangkalan Sungai Batang Tumayo.

Sebanyak 90 kepala keluarga atau sekitar 450 jiwa terdampak dan mengungsi sementara. BNPB juga mencatat konflik sosial di Kecamatan Adonara Timur, Nusa Tenggara Timur, yang mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan tujuh orang mengalami luka.

Rangkaian kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa musim kemarau membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih tinggi dari seluruh pihak. Risiko karhutla dapat meningkat ketika kondisi lahan dan vegetasi mengering, sementara aktivitas manusia yang tidak terkendali dapat memperbesar potensi munculnya titik api.

BNPB mengimbau pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang memiliki potensi karhutla tinggi. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan menjadi bagian penting dalam memutus rantai kebakaran sejak dari sumbernya. Setiap titik api yang berhasil dicegah berarti satu langkah untuk melindungi hutan, lahan, udara, serta keselamatan masyarakat dari dampak bencana yang dapat meluas dengan cepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *