Harga Minyak Brent Tembus US$96 per Barel, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Global
NEW YORK — Harga minyak mentah dunia kembali mengalami tekanan kenaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Minyak mentah Brent sempat menembus level US$96 per barel pada 23 Juli 2026 setelah eskalasi konflik di kawasan dan meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran energi di Laut Merah serta Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global.
Brent sempat naik sekitar 2,3 persen hingga berada di kisaran US$96,27 per barel dalam perdagangan 23 Juli. Pergerakan tersebut terjadi setelah pasar merespons serangkaian perkembangan keamanan di kawasan, termasuk serangan yang diklaim kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker Saudi di Laut Merah. Pada hari yang sama, harga Brent bahkan sempat bergerak menembus level US$100 per barel dalam perdagangan, menunjukkan tingginya sensitivitas pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi.
Konflik Timur Tengah Dorong Premi Risiko Minyak
Pasar minyak global sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik karena sebagian besar jalur perdagangan energi dunia melewati kawasan Timur Tengah.
Ketika konflik meningkat dan keamanan jalur pelayaran terganggu, pelaku pasar biasanya memasukkan premi risiko ke dalam harga minyak. Kekhawatiran tersebut dapat mendorong perusahaan pelayaran mengubah rute, meningkatkan biaya asuransi, dan memperpanjang waktu pengiriman.
Situasi menjadi semakin kompleks ketika ancaman muncul secara bersamaan di sejumlah jalur strategis.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi dunia. Sementara itu, kawasan Bab el-Mandeb dan Laut Merah menjadi jalur penting yang menghubungkan perdagangan antara kawasan Timur Tengah, Asia, dan Eropa.
Gangguan terhadap salah satu jalur tersebut saja dapat memberikan tekanan terhadap pasar. Jika gangguan terjadi secara bersamaan, risiko terhadap stabilitas pasokan dan biaya logistik global menjadi lebih besar.
Serangan Houthi terhadap Kapal Saudi Jadi Sorotan
Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan di Laut Merah.
Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan mengklaim serangan terhadap dua kapal tanker Saudi. Peristiwa tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengancam jalur pelayaran energi yang selama ini menjadi salah satu bagian penting dari perdagangan global.
Ancaman terhadap kapal tanker dapat memaksa operator pelayaran mengambil langkah pengamanan tambahan. Jika risiko dianggap terlalu tinggi, kapal dapat memilih menghindari wilayah tertentu dan menggunakan jalur alternatif.
Perubahan rute tersebut berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar, asuransi, dan waktu perjalanan. Pada akhirnya, biaya tambahan tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga energi dan barang yang dikirim melalui jalur laut.
Harga Minyak Sempat Menembus US$100
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah Brent sempat bergerak di atas level US$100 per barel pada 23 Juli.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar menilai risiko gangguan pasokan semakin serius. Namun, harga minyak tetap sangat volatil dan dapat berubah dengan cepat mengikuti perkembangan konflik serta prospek diplomasi.
Kenaikan harga minyak juga tidak selalu berarti pasokan global langsung terputus. Dalam banyak kasus, pasar terlebih dahulu merespons potensi gangguan sebelum dampak fisik terhadap produksi atau distribusi benar-benar terjadi.
Karena itu, perkembangan keamanan di jalur pelayaran menjadi faktor penting yang terus dipantau investor.
Selat Hormuz Jadi Titik Risiko Utama
Selain Laut Merah, perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Setiap ancaman terhadap kelancaran pelayaran di kawasan itu dapat memicu kekhawatiran mengenai kemampuan pasar untuk mempertahankan pasokan minyak dan gas.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran telah meningkatkan risiko geopolitik di kawasan tersebut. Ketegangan tersebut kemudian diperburuk oleh meningkatnya ancaman terhadap pelayaran di Laut Merah.
Kombinasi dua risiko tersebut menjadi perhatian serius pasar energi karena dapat menciptakan gangguan pada lebih dari satu jalur perdagangan strategis.
Dampak Terhadap Inflasi dan Ekonomi Global
Kenaikan harga minyak berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian global.
Minyak merupakan komponen penting dalam biaya transportasi dan produksi. Ketika harga minyak meningkat secara signifikan, biaya distribusi barang dapat ikut naik.
Kenaikan biaya energi juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak.
Bagi negara-negara pengimpor energi, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor dan memberikan tekanan terhadap nilai tukar maupun neraca perdagangan.
Jika kenaikan harga berlangsung lama, bank sentral juga dapat menghadapi tantangan baru dalam mengendalikan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kebijakan suku bunga dan prospek pertumbuhan ekonomi.
Risiko Harga Minyak Kembali Melonjak
Pasar kini menghadapi dua kemungkinan utama.
Jika konflik mereda dan jalur pelayaran kembali normal, tekanan terhadap harga minyak dapat berkurang. Pasar akan kembali fokus pada fundamental seperti produksi, permintaan, dan persediaan minyak dunia.
Sebaliknya, jika konflik terus meningkat dan gangguan terhadap jalur pelayaran semakin luas, risiko kenaikan harga minyak akan semakin besar.
Analis juga memperingatkan bahwa gangguan pada dua titik strategis sekaligus dapat memberikan tekanan yang lebih besar dibandingkan gangguan pada satu jalur perdagangan saja.
Kondisi tersebut membuat harga minyak berpotensi tetap volatil dalam jangka pendek.
Pasar Energi Dunia Masuk Periode Penuh Ketidakpastian
Kenaikan harga Brent hingga menembus US$96 per barel dan pergerakannya yang kemudian sempat melewati US$100 menunjukkan betapa kuatnya pengaruh geopolitik terhadap pasar energi dunia.
Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa harga minyak dapat berbalik dengan cepat apabila muncul tanda-tanda deeskalasi. Pada 26 Juli, setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan jeda serangan untuk membuka ruang diplomasi, harga Brent turun sekitar 6 persen ke kisaran US$90,93 per barel. Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa pasar minyak saat ini sangat bergantung pada perkembangan keamanan dan diplomasi di Timur Tengah.
Situasi tersebut menjadi peringatan bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, untuk memperkuat ketahanan energi dan mengantisipasi volatilitas harga minyak dunia.
Pemerintah dan pelaku usaha perlu memantau perkembangan geopolitik secara cermat karena perubahan harga minyak dapat berdampak terhadap biaya transportasi, harga energi, inflasi, serta aktivitas ekonomi.
Pada akhirnya, arah harga minyak dunia dalam beberapa pekan mendatang akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik di Timur Tengah. Jika ketegangan kembali meningkat dan jalur pelayaran utama terganggu, tekanan kenaikan harga dapat muncul kembali.
Sebaliknya, jika jalur diplomasi berhasil meredakan konflik dan aktivitas pelayaran berangsur normal, premi risiko geopolitik dapat menurun dan memberikan ruang bagi harga minyak untuk kembali terkoreksi.
Pasar energi global kini berada di persimpangan penting. Setiap perkembangan di Selat Hormuz dan Laut Merah dapat menjadi pemicu perubahan harga yang cepat, sementara dunia menunggu apakah diplomasi mampu meredakan konflik sebelum gangguan pasokan energi berkembang menjadi krisis ekonomi global yang lebih luas.
