Groundbreaking Blok Masela Resmi Dilakukan, Mengakhiri Penantian 28 Tahun

0
IMG-20260719-WA0034

Presiden Prabowo Subianto secara resmi melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis (16/7/2026). Peresmian dilaksanakan secara hibrida dari Istana Merdeka, Jakarta, dan lokasi proyek, menandai dimulainya pembangunan salah satu proyek energi terbesar di Indonesia yang telah dinantikan selama hampir 28 tahun.

Proyek LNG Abadi Masela merupakan investasi strategis senilai sekitar 20,95 miliar dolar Amerika Serikat atau setara kurang lebih Rp390 triliun. Pengembangannya dipimpin oleh konsorsium INPEX Masela Ltd sebagai operator dengan kepemilikan hak partisipasi sebesar 65 persen, bersama PT Pertamina Hulu Energi sebesar 20 persen dan Petronas Malaysia sebesar 15 persen.

Kilang LNG Abadi Masela dirancang memiliki kapasitas produksi mencapai 9,5 juta ton liquefied natural gas (LNG) per tahun. Selain itu, proyek ini juga akan menghasilkan pasokan gas pipa untuk kebutuhan domestik sebesar 150 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) serta memproduksi kondensat sekitar 35.000 barel per hari.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pemerintah menetapkan sedikitnya 60 persen produksi gas dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sementara sisanya dapat dipasarkan ke luar negeri. Gas tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung program hilirisasi industri, termasuk sektor pupuk, kelistrikan, jaringan gas nasional, dan berbagai industri strategis lainnya.

LNG Abadi Masela juga menjadi proyek LNG pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai upaya mengurangi emisi karbon. Penerapan teknologi tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam mendukung transisi energi dan pembangunan industri yang lebih ramah lingkungan.

Selama tahap konstruksi, proyek ini diperkirakan mampu menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja. Setelah memasuki masa operasi, kebutuhan tenaga kerja diproyeksikan mencapai antara 800 hingga 1.000 orang. Pemerintah menegaskan akan memprioritaskan tenaga kerja lokal, khususnya dari Provinsi Maluku dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Selain memperkuat ketahanan energi nasional, proyek ini diproyeksikan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional melalui penerimaan negara dan pajak. Pemerintah memperkirakan proyek tersebut akan menghasilkan penerimaan negara puluhan miliar dolar Amerika Serikat sepanjang masa operasionalnya.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan Blok Masela menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam mempercepat hilirisasi sumber daya alam, memperkuat kemandirian energi nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia Timur. Pemerintah menargetkan proyek LNG Abadi Masela mulai berproduksi pada periode 2029 hingga 2030 sehingga mampu menjadi salah satu pilar utama ketahanan energi Indonesia di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *