Empat Makhluk dalam Kisah Turunnya dari Surga: Apa yang Dijelaskan Al-Qur’an dan Mana yang Berasal dari Riwayat Tafsir?

0
1786675824090

JAKARTA — Kisah Nabi Adam AS, Siti Hawa, Iblis, dan ular dalam cerita tentang turunnya makhluk dari surga ke bumi telah lama menjadi bagian dari khazanah tafsir dan literatur keislaman. Namun, tidak semua detail yang beredar di tengah masyarakat memiliki kedudukan yang sama dalam sumber-sumber Islam.

Al-Qur’an secara tegas menjelaskan bahwa Nabi Adam AS dan istrinya ditempatkan di dalam surga, kemudian keduanya digoda oleh setan hingga memakan dari pohon yang dilarang Allah. Setelah itu, Allah memerintahkan mereka turun ke bumi untuk menjalani kehidupan yang telah ditetapkan-Nya.

Sementara itu, sejumlah cerita mengenai ular sebagai perantara masuknya Iblis ke surga serta lokasi tertentu tempat Adam, Hawa, Iblis, dan ular diturunkan ke bumi berasal dari riwayat tafsir yang statusnya tidak sama dengan keterangan Al-Qur’an.

Karena itu, memahami kisah tersebut membutuhkan kehati-hatian agar antara wahyu yang pasti, penjelasan tafsir, dan riwayat yang diperselisihkan tidak tercampur menjadi satu.

Adam dan Hawa Ditempatkan di Surga

Al-Qur’an mengisahkan bahwa Allah memerintahkan Adam dan istrinya untuk tinggal di surga dan menikmati berbagai kenikmatan di dalamnya. Namun, Allah memberikan satu larangan: keduanya tidak boleh mendekati sebuah pohon tertentu.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 35, Allah berfirman agar Adam dan istrinya tinggal di surga dan menikmati makanan yang tersedia, tetapi tidak mendekati pohon yang telah dilarang.

Al-Qur’an tidak menyebut jenis pohon tersebut secara spesifik.

Karena itu, berbagai penyebutan tentang jenis buah atau pohon tertentu tidak dapat dipastikan sebagai fakta berdasarkan Al-Qur’an.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, pembahasan mengenai pohon tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan pendapat mengenai hakikat pohon yang dimaksud.

Iblis Menolak Perintah Allah

Sebelum peristiwa godaan terhadap Adam dan Hawa, Al-Qur’an telah menggambarkan pembangkangan Iblis ketika Allah memerintahkan para malaikat bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan dan kepatuhan terhadap perintah-Nya.

Iblis menolak.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa Iblis berasal dari golongan jin. Ia membangkang karena kesombongan dan merasa dirinya lebih tinggi daripada Adam.

Dalam Surah Al-Kahfi ayat 50, Al-Qur’an secara jelas menyebut bahwa Iblis adalah dari golongan jin dan kemudian menyimpang dari perintah Tuhannya. Ibnu Katsir juga menegaskan berdasarkan ayat tersebut bahwa Iblis bukan malaikat, meskipun sebelumnya berada di tengah-tengah mereka dan termasuk pihak yang terkena perintah untuk bersujud.

Kesombongan itulah yang menjadi salah satu pelajaran utama dalam kisah Adam dan Iblis.

Godaan Iblis dan Pohon yang Dilarang

Setelah Adam dan istrinya berada di surga, Iblis menggoda keduanya.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa setan membujuk mereka dengan tipu daya dan bahkan bersumpah bahwa dirinya memberikan nasihat.

Dalam Surah Al-A’raf ayat 20–22, setan membisikkan kepada Adam dan istrinya bahwa pohon tersebut dilarang agar mereka tidak menjadi malaikat atau tidak kekal di dalam surga.

Dalam Surah Taha ayat 120, godaan tersebut disebut sebagai ajakan menuju syajaratul-khuld, yang secara umum diterjemahkan sebagai pohon keabadian.

Yang penting, Al-Qur’an tidak menyatakan bahwa Hawa adalah pihak yang terlebih dahulu memakan buah tersebut.

Narasi yang menyalahkan Hawa sebagai pihak pertama yang memakan buah kemudian membujuk Adam tidak dapat dijadikan kesimpulan langsung dari Al-Qur’an.

Al-Qur’an menggambarkan keduanya sama-sama tergoda dan sama-sama memakan dari pohon tersebut.

Setelah memakan buah itu, aurat keduanya terlihat dan mereka berusaha menutupinya dengan daun-daun dari surga. Gambaran tersebut disebut secara jelas dalam Surah Al-A’raf ayat 22.

Lalu, Bagaimana dengan Ular?

Di sinilah kisah yang beredar di masyarakat mulai memasuki wilayah riwayat tafsir.

Sebagian cerita menyebutkan bahwa setelah diusir, Iblis menggunakan ular untuk masuk kembali ke surga dan kemudian menggoda Adam serta Hawa.

Ada pula riwayat yang menggambarkan ular pada masa itu memiliki bentuk yang berbeda dengan ular yang dikenal manusia sekarang.

Namun, penting dicatat bahwa Al-Qur’an tidak menyebut ular sebagai pihak yang membantu Iblis masuk ke surga.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan Surah Al-Baqarah ayat 36 memang menyebut sejumlah riwayat tentang ular dan bagaimana Iblis dikisahkan masuk ke surga. Namun, ia menjelaskan bahwa riwayat-riwayat tersebut berasal dari sejumlah ulama terdahulu dan menyebutnya dalam konteks berita Israiliyyat. Ia juga mencatat beberapa kemungkinan mengenai bagaimana Iblis melakukan godaan tersebut.

Dengan demikian, kisah ular sebaiknya ditempatkan sebagai riwayat dalam literatur tafsir, bukan sebagai fakta akidah yang ditegaskan secara eksplisit oleh Al-Qur’an.

Adam dan Hawa Diperintahkan Turun ke Bumi

Setelah peristiwa tersebut, Allah memerintahkan mereka turun dari surga.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa kehidupan di bumi menjadi tempat tinggal, kenikmatan sementara, sekaligus ruang bagi manusia untuk menjalani ujian kehidupan.

Surah Al-Baqarah ayat 36 menyebut bahwa setan menyebabkan keduanya tergelincir sehingga mereka dikeluarkan dari keadaan yang sebelumnya mereka nikmati. Allah kemudian menyatakan bahwa sebagian mereka akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain dan bumi menjadi tempat tinggal serta kesenangan hingga waktu tertentu.

Dalam Surah Taha ayat 123, Allah kembali menyampaikan perintah agar Adam dan istrinya turun bersama, sekaligus menjelaskan bahwa petunjuk dari Allah akan datang kepada manusia.

Siapa yang mengikuti petunjuk tersebut tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.

Ayat ini memberikan perspektif penting: turunnya Adam ke bumi dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita tentang hukuman, tetapi juga menjadi awal perjalanan manusia menjalani kehidupan di bumi dengan petunjuk Allah.

Apakah Adam Diturunkan di India dan Hawa di Jeddah?

Cerita mengenai lokasi turunnya Adam dan Hawa juga sangat populer.

Sebagian riwayat menyebut Adam diturunkan di wilayah India atau Sri Lanka, sedangkan Hawa disebut turun di wilayah Jeddah. Ada pula riwayat yang menyebut keduanya kemudian bertemu di Arafah.

Namun, Al-Qur’an tidak menyebut lokasi geografis tersebut.

Bahkan dalam pembahasan tafsir Ibnu Katsir, berbagai riwayat mengenai lokasi turunnya Adam disebut dengan jalur dan pendapat yang berbeda. Salah satu riwayat yang dinukil menyebut Adam diturunkan di Shafa dan Hawa di Marwah.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa lokasi geografis turunnya Adam dan Hawa bukan bagian dari informasi yang dapat dipastikan hanya berdasarkan Al-Qur’an.

Karena itu, menyebut India, Sri Lanka, Jeddah, Arafah, Irak, atau Isfahan sebagai lokasi pasti perlu dihindari kecuali dijelaskan secara tegas bahwa hal tersebut merupakan riwayat atau pendapat sebagian ulama, bukan keterangan Al-Qur’an yang definitif.

Bukan Sekadar Kisah tentang Kejatuhan

Jika dibaca secara lebih mendalam, kisah Adam, Hawa, dan Iblis bukan hanya cerita tentang pelanggaran terhadap larangan.

Ada beberapa pesan besar yang dapat ditemukan.

Pertama, manusia memiliki keterbatasan dan dapat tergelincir.

Kedua, kesombongan dapat membawa kehancuran. Iblis bukan jatuh karena tidak mengetahui perintah Allah, melainkan karena menolak perintah tersebut dengan kesombongan.

Ketiga, godaan dapat datang melalui tipu daya yang dibungkus dengan janji-janji.

Keempat, kesalahan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti kembali kepada Allah.

Al-Qur’an bahkan menggambarkan Adam menerima kalimat-kalimat dari Tuhannya dan kemudian Allah menerima taubatnya.

Dengan demikian, kisah Adam juga memuat dimensi tentang taubat, ampunan, tanggung jawab, dan harapan.

Pelajaran Terbesar: Jangan Mencampur Wahyu dengan Riwayat

Popularitas kisah empat makhluk yang disebut turun dari surga menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap cerita-cerita penciptaan manusia dan awal kehidupan di bumi.

Namun, semakin populer sebuah kisah, semakin penting pula sikap kritis dalam menyampaikannya.

Informasi mengenai Adam dan Hawa yang disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an memiliki kedudukan berbeda dengan cerita tambahan yang muncul dalam tafsir atau riwayat dari generasi terdahulu.

Begitu pula kisah tentang ular.

Ia dapat dibahas sebagai bagian dari sejarah literatur tafsir, tetapi tidak tepat jika setiap detailnya dipastikan sebagai ajaran Al-Qur’an.

Sikap semacam ini bukan berarti mengurangi keindahan kisah tersebut.

Justru sebaliknya, membedakan antara dalil yang kuat dan riwayat yang diperselisihkan merupakan bentuk penghormatan terhadap ilmu dan tradisi keislaman itu sendiri.

Kisah Adam dan Awal Perjalanan Manusia

Pada akhirnya, inti kisah Adam AS bukan terletak pada perdebatan mengenai di mana tepatnya ia diturunkan atau bagaimana Iblis memasuki surga.

Pesan utamanya jauh lebih mendasar.

Manusia diciptakan untuk menjalani kehidupan di bumi.

Manusia akan menghadapi godaan.

Manusia dapat melakukan kesalahan.

Namun, pintu taubat dan petunjuk Allah tetap terbuka.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa permusuhan antara manusia dan setan merupakan bagian dari ujian kehidupan. Karena itu, manusia diperintahkan mengikuti petunjuk Allah agar tidak tersesat.

Kisah Adam AS dengan demikian bukan hanya kisah tentang masa lalu.

Ia adalah cermin kehidupan manusia hari ini: tentang kesombongan dan kerendahan hati, tentang godaan dan pilihan, tentang kesalahan dan taubat, serta tentang bagaimana manusia menjalani amanah kehidupan di bumi.

Dan di situlah pesan paling penting dari kisah turunnya Adam dari surga: manusia tidak hanya diwarisi bumi sebagai tempat tinggal, tetapi juga diberi tanggung jawab untuk menjalani kehidupan dengan petunjuk dan ketaatan kepada Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *