BPH Migas Pastikan Pasokan Gas Bumi Jawa Timur Tetap Terjaga, Realisasi Capai 440,33 BBTUD
SURABAYA — Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan pasokan gas bumi di Jawa Timur tetap terjaga dan termanfaatkan secara optimal. Kepastian tersebut disampaikan dalam rangkaian kunjungan kerja spesifik Komisi XII DPR RI ke Surabaya, Jumat (10/8/2026).
Pasokan Gas Bumi untuk Industri dan Masyarakat
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengungkapkan kestabilan produksi gas bumi dan keandalan penyaluran menjadi faktor penting untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan energi bagi sektor industri maupun masyarakat.
Pemanfaatan gas bumi juga sejalan dengan upaya pemerintah mendorong gas sebagai salah satu sumber energi penting dalam proses transisi energi.
Realisasi penyaluran gas bumi di wilayah Jawa Timur tercatat mencapai 440,33 BBTUD pada akhir 2025. Angka tersebut menunjukkan tingginya tingkat pemanfaatan gas bumi di wilayah Jawa Timur.
Sumber pasokan utama gas bumi berasal dari Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) dan Banyu Urip yang dioperasikan Pertamina EP Cepu, serta Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited. Total suplai dari sumber tersebut disebut mencapai sekitar 172 BBTUD.
“BPH Migas mengedepankan integrasi mengenai kestabilan produksi gas yang ada di Jawa Timur, sehingga utilitas dan reliability-supply sangat terjamin serta tidak terjadi gangguan pada konsumen pengguna,” ujar Wahyudi.
Infrastruktur Pipa Terus Dioptimalkan
Keandalan pasokan gas bumi di Jawa Timur mencakup seluruh rantai proses, mulai dari produksi hingga distribusi kepada berbagai kelompok pengguna.
Pemanfaatan gas bumi mencakup kebutuhan rumah tangga, pelanggan kecil, UMKM, sektor komersial hingga industri.
Infrastruktur pipa transmisi gas bumi di Pulau Jawa juga disebut telah terintegrasi. Kapasitas yang tersedia masih dapat terus dioptimalkan untuk meningkatkan pengangkutan gas dari lapangan di Jawa Timur dan Jawa Tengah menuju konsumen di Jawa Barat.
Wahyudi mengatakan pemanfaatan gas bumi untuk jaringan gas perlu diperluas sepanjang ruas pipa transmisi yang terintegrasi dari Pagerungan, Gresik, Semarang, Batang hingga setelah gas bumi dari proyek Cisem Tahap II mengalir.
“Dengan optimalnya pemakaian gas bumi ini, dapat mengurangi penyediaan bahan bakar khususnya LPG yang saat ini dominasinya masih impor,” jelasnya.
BPH Migas juga mendorong SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama untuk terus meningkatkan produksi gas bumi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Komisi XII DPR Dorong Ketahanan Energi
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menilai pasokan dari Lapangan Banyu Urip dan Jambaran Tiung Biru memiliki peran penting terhadap suplai energi nasional.
“Untuk JTB, produksi gas yang ditargetkan di tahun 2026 ke atas, kurang lebih 192 MMSCFD,” ucapnya.
Sekretaris SKK Migas Luky Yusgiantoro turut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung target swasembada energi pada 2030.
Sinergi antara BPH Migas, Komisi XII DPR RI, SKK Migas, dan badan usaha diharapkan mampu menjaga keandalan pasokan gas bumi di Jawa Timur sekaligus mengoptimalkan pemanfaatannya untuk kebutuhan industri, rumah tangga dan sektor ekonomi lainnya.
Optimalisasi gas bumi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah proses transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
