“Biasanya Kami Hanya Bisa Ngintip dari Balik Pagar Besi”, Momen Dedi Mulyadi Buka Gerbang Gedung Sate untuk Rakyat

0
1787047908086

BANDUNG — Suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Gedung Sate, Bandung, berlangsung berbeda. Masyarakat umum mendapat kesempatan menyaksikan langsung parade budaya dan defile pasukan dari jarak dekat setelah gerbang utama Gedung Sate dibuka bagi warga.

Kebijakan tersebut dilakukan atas arahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi setelah rangkaian upacara formal selesai. Warga yang sebelumnya berada di luar pagar kemudian dipersilakan memasuki area halaman dan menempati sejumlah titik yang memungkinkan mereka melihat jalannya defile dengan lebih jelas.

“Duduk di depan, jangan selfie dulu! Biar semua bisa melihat pasukan defile lewat dengan jelas di barisan paling depan,” ujar Dedi Mulyadi saat mengarahkan warga yang mulai memadati halaman utama.

Sekat Gedung Sate dan Rakyat Dibuka

Pembukaan gerbang tersebut sontak mengubah suasana yang sebelumnya sangat protokoler menjadi lebih terbuka. Warga dari berbagai kalangan dapat menyaksikan parade budaya dan defile pasukan secara lebih dekat.

Bagi sebagian warga, kesempatan masuk ke halaman Gedung Sate menjadi pengalaman yang tidak biasa.

“Biasanya kami hanya bisa mengintip dari luar pagar besi,” demikian ungkapan warga yang menggambarkan pengalaman mereka menyaksikan kegiatan kenegaraan dari luar kawasan Gedung Sate.

Momentum tersebut juga memperlihatkan pendekatan yang lebih dekat antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam perayaan Hari Kemerdekaan.

Petani, Nelayan hingga Pekerja Lapangan Dapat Tempat Terhormat

Selain membuka akses bagi masyarakat, rangkaian kegiatan juga memberikan ruang kepada kelompok pekerja yang sehari-hari berada di lapangan.

Petani, nelayan, petugas kebersihan hingga pekerja konstruksi disebut mendapat kesempatan menempati area yang biasanya identik dengan tamu undangan pemerintahan.

Salah satu momen yang menarik perhatian terjadi ketika barisan pekerja lapangan Dinas Pekerjaan Umum melintas dalam rangkaian defile. Mereka tampil dengan pakaian kerja dan perlengkapan keselamatan yang menjadi identitas pekerjaan sehari-hari.

Para pekerja tersebut mendapat penghormatan dari jajaran pimpinan daerah dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Tepuk tangan warga pun terdengar ketika barisan pekerja lapangan melintas di hadapan para pejabat dan masyarakat.

Kemerdekaan Dimaknai dengan Mendekat kepada Rakyat

Penghormatan terhadap pekerja lapangan menjadi salah satu pesan kuat dalam rangkaian peringatan kemerdekaan di Gedung Sate.

Mereka yang sehari-hari bekerja menjaga infrastruktur, kebersihan, pelayanan, serta berbagai kebutuhan masyarakat mendapat ruang untuk tampil di tengah perayaan yang biasanya didominasi oleh pejabat dan tamu kehormatan.

Pendekatan tersebut menggambarkan pesan bahwa peringatan kemerdekaan bukan hanya milik pejabat atau kelompok tertentu, tetapi juga milik seluruh rakyat yang ikut menjaga dan membangun Jawa Barat.

Pembukaan gerbang Gedung Sate kepada masyarakat pun menjadi simbol bahwa gedung pemerintahan tidak semestinya menghadirkan jarak yang terlalu jauh dengan rakyat.

Di tengah suasana HUT ke-81 RI, pesan yang muncul sederhana: kemerdekaan akan terasa lebih bermakna ketika rakyat tidak hanya menjadi penonton dari balik pagar, tetapi dapat hadir lebih dekat dan menjadi bagian dari perayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *