Belajar dari KH Hasan Abdullah Sahal: Ulama yang Menasihati Umara dan Berdiri untuk Semua Golongan

0
1789953647184

JAKARTA — Sosok KH Hasan Abdullah Sahal dikenal luas sebagai salah satu ulama dan pendidik yang menekankan pentingnya keteguhan prinsip, kemandirian sikap, serta keberanian menyampaikan kebenaran dengan tetap menjaga adab.

Salah satu ungkapan yang kerap dikaitkan dengan pemikiran beliau menggambarkan posisi ideal seorang ulama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara:

“Duduk sama rata, berdiri tidak kalah tinggi. Ulama yang menasihati umara, yang menyatakan kebenaran, bukan yang membenarkan kenyataan. Berdiri di atas dan untuk semua golongan.”

Ungkapan tersebut merefleksikan pandangan bahwa ulama memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan nasihat kepada siapa pun, termasuk kepada para pemegang kekuasaan.

Dalam perspektif tersebut, hubungan ulama dan umara bukan semata-mata hubungan kedekatan dengan kekuasaan. Ulama memiliki ruang untuk menyampaikan nasihat, mengingatkan ketika diperlukan, serta menjaga agar nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan masyarakat tetap menjadi perhatian.

Pesan itu juga mengandung makna tentang pentingnya independensi sikap. Seorang ulama diharapkan tidak sekadar membenarkan keadaan karena kepentingan tertentu, melainkan berani menyampaikan apa yang diyakininya benar berdasarkan ilmu, prinsip, dan tanggung jawab moral.

Namun, keberanian menyampaikan kebenaran tidak harus diwujudkan melalui permusuhan.

Keteguhan prinsip dapat berjalan bersama dengan kesantunan, ketulusan, dan penghormatan terhadap perbedaan. Karena itu, ungkapan “berdiri di atas dan untuk semua golongan” dapat dimaknai sebagai ajakan agar seorang ulama tidak terjebak pada kepentingan kelompok tertentu dan tetap mampu menjadi rujukan bagi masyarakat secara luas.

Dari sosok KH Hasan Abdullah Sahal, banyak pelajaran yang dapat direnungkan, terutama mengenai pentingnya kejernihan hati dan kepekaan nurani dalam menjalani kehidupan.

Kebenaran membutuhkan keberanian, tetapi keberanian juga membutuhkan ilmu. Keteguhan membutuhkan prinsip, tetapi prinsip perlu disampaikan dengan adab. Sementara ketulusan membutuhkan hati yang tidak mudah dikuasai prasangka maupun kepentingan sesaat.

Nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan dalam kehidupan masyarakat yang memiliki beragam pandangan, latar belakang, dan pilihan.

Di tengah perbedaan tersebut, peran ulama tidak hanya sebatas memberikan pengetahuan keagamaan, tetapi juga menghadirkan keteladanan dalam bersikap: teguh ketika prinsip harus dipertahankan, rendah hati ketika berhadapan dengan sesama, dan bijaksana ketika menghadapi perbedaan.

Harapan dan doa pun disampaikan agar KH Hasan Abdullah Sahal senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam menjalankan pengabdian.

“Yaa Rabb, karuniakanlah kesehatan yang paripurna, keberkahan yang meluas, serta umur panjang yang lekat dengan keberkahan bagi guru kami, KH Hasan Abdullah Sahal.”

Doa tersebut menjadi ungkapan penghormatan sekaligus harapan agar ilmu, nasihat, dan keteladanan beliau terus memberikan manfaat bagi umat dan generasi penerus.

Pada akhirnya, pesan yang dapat dipetik bukan hanya tentang bagaimana seorang ulama berdiri di hadapan penguasa, tetapi juga bagaimana seseorang mempertahankan kebenaran tanpa kehilangan ketulusan, menyampaikan nasihat tanpa kehilangan adab, serta berdiri untuk kemaslahatan bersama tanpa membeda-bedakan golongan.

Sebab, dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, kebenaran tidak seharusnya menjadi milik satu kelompok saja. Ia harus diperjuangkan dengan ilmu, disampaikan dengan hikmah, dan dijalankan dengan ketulusan.

Semoga KH Hasan Abdullah Sahal senantiasa diberikan kesehatan, umur yang panjang dalam keberkahan, serta kekuatan untuk terus mengabdi melalui ilmu dan pendidikan.

Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *