Muhammadiyah Perkuat Jejaring dengan Iran, Sains dan Teknologi Jadi Jalan Baru Kerja Sama Dunia Islam
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah semakin memperluas jejaring internasionalnya. Hubungan dengan Iran menjadi salah satu perkembangan yang menarik perhatian, terutama karena ruang kerja sama yang dibicarakan tidak berhenti pada hubungan keagamaan, tetapi mulai diarahkan pada pendidikan, riset, sains, teknologi, dan penguatan kapasitas akademik.
Langkah tersebut mendapat momentum ketika perwakilan PP Muhammadiyah ikut dalam rombongan delegasi Indonesia yang melakukan kunjungan ke Iran pada Juli 2026. Kunjungan itu berlangsung dalam rangka menyampaikan takziah atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni menjadi perwakilan Muhammadiyah dalam rombongan yang juga melibatkan Ketua MPR RI, Menteri Luar Negeri RI, Ketua Umum PBNU, serta Duta Besar RI untuk Iran.
Dari Diplomasi Keagamaan Menuju Kolaborasi Sains
Perkembangan hubungan Muhammadiyah dengan Iran kemudian bergerak ke ruang yang lebih konkret.
Pada Agustus 2026, PP Muhammadiyah menerima Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta Muhammad Sharifani. Pertemuan tersebut membahas peluang memperkuat hubungan Muhammadiyah dan Iran, terutama dalam bidang pendidikan, akademik, ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebudayaan.
Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni menyebut perguruan tinggi sebagai salah satu pintu penting untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret. Salah satu bidang yang dinilai potensial adalah STEM atau Science, Technology, Engineering and Mathematics, termasuk pertukaran pengetahuan dan pengembangan teknologi.
Artinya, hubungan tersebut tidak semata-mata diletakkan dalam kerangka simbolik. Ada peluang untuk menerjemahkannya menjadi kerja sama penelitian, pertukaran akademisi, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, hingga inovasi teknologi.
Indonesia-Iran Juga Membuka Ruang Teknologi Baru
Arah tersebut sejalan dengan perkembangan hubungan Indonesia dan Iran secara lebih luas.
Pada Agustus 2026, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Brian Yuliarto bertemu Wakil Menteri Sains, Riset, dan Teknologi Iran Masoud Shams-Bakhsh. Kedua pihak membahas perluasan kerja sama sains dan akademik, termasuk penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta pengembangan teknologi baru.
Kerja sama juga dibicarakan dalam bidang perubahan iklim, ketahanan pangan, energi terbarukan, agrikultur, beasiswa, hingga peluang keterlibatan perguruan tinggi Iran dalam jaringan universitas BRICS.
Dalam konteks itu, hubungan Muhammadiyah dengan Iran dapat dibaca sebagai bagian dari diplomasi masyarakat sipil yang membuka jalur kolaborasi di luar hubungan antarpemerintah.
Muhammadiyah sendiri sebelumnya telah menerima kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi pada April 2026. Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menekankan pentingnya perdamaian dan kemanusiaan di tengah konflik yang terjadi di kawasan.
Mojtaba Khamenei dan Babak Baru Iran
Perkembangan hubungan tersebut berlangsung ketika Iran berada dalam fase kepemimpinan baru.
Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran pada Maret 2026 setelah Ayatollah Ali Khamenei wafat. Penunjukan tersebut dilakukan oleh Majelis Ahli Iran melalui mekanisme konstitusional negara tersebut.
Karena itu, setiap komunikasi internasional dengan Iran saat ini memiliki dimensi geopolitik yang lebih kompleks. Kerja sama pendidikan, sains, teknologi, dan kemanusiaan dapat menjadi jalur diplomasi masyarakat yang relatif berbeda dari diplomasi politik dan keamanan.
Namun, penting untuk membedakan antara fakta hubungan kelembagaan yang telah diumumkan secara terbuka dengan berbagai klaim mengenai sikap atau dukungan personal terhadap kepemimpinan Iran. Sampai sejauh ini, sumber resmi yang tersedia lebih jelas menunjukkan pembicaraan mengenai pendidikan, sains, teknologi, kemanusiaan, dan perdamaian daripada dukungan politik khusus kepada Mojtaba Khamenei.
Bagi Muhammadiyah, ruang kolaborasi tersebut sekaligus menjadi ujian bagaimana jejaring internasional dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata: penelitian bersama, peningkatan kualitas pendidikan, penguasaan teknologi, pertukaran ilmuwan, dan penguatan kemandirian intelektual.
Jika kerja sama itu benar-benar bergerak dari meja diplomasi menuju laboratorium, kampus, pusat riset, dan inovasi teknologi, maka hubungan Indonesia–Iran tidak hanya berbicara mengenai geopolitik.
Ia juga dapat menjadi bagian dari ikhtiar membangun kekuatan pengetahuan dan teknologi dunia Islam.
Rakyat berhak tahu. Rakyat cerdas. Rakyat berdaulat.
