Iran Klaim Hancurkan Radar THAAD dan Sistem Patriot AS di Yordania-Kuwait, Balas 12 Malam Serangan

0
IMG-20260725-WA0033

KONFLIK DUNIA — Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania dan Kuwait pada Kamis (23/7/2026). Serangan tersebut disebut sebagai respons atas 12 malam berturut-turut serangan udara AS terhadap wilayah Iran.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Garda Revolusi Iran atau IRGC mengklaim berhasil menghancurkan radar sistem pertahanan rudal THAAD milik Amerika Serikat di sebuah pangkalan militer AS di Yordania.

IRGC juga mengklaim serangan tersebut menghancurkan satu sistem pertahanan udara Patriot dan satu radar C-RAM di lokasi yang sama.

Selain sistem pertahanan udara, serangan di Yordania disebut menimbulkan kerusakan pada sejumlah fasilitas pendukung militer. Iran mengklaim tangki bahan bakar terbakar serta gudang peralatan helikopter dan fasilitas perbaikan serta pemeliharaan helikopter mengalami kerusakan.

Iran Klaim Serang Tiga Pangkalan AS di Kuwait

Secara terpisah, Angkatan Darat Iran mengumumkan fase ke-23 dari apa yang disebut sebagai “Operasi Kilat”.

Dalam operasi tersebut, Iran mengklaim melancarkan serangan drone terhadap tiga fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait.

Sejumlah sasaran yang disebut menjadi target antara lain gudang amunisi dan logistik di Pangkalan Doha, tangki bahan bakar di Pangkalan Udara Ali Al Salem, serta gudang amunisi di Kamp Arifjan.

IRGC juga mengklaim telah menyerang Pangkalan Udara Ali Al Salem dan menghancurkan sistem pertahanan udara Patriot, gudang peralatan militer, serta hanggar yang disebut menampung drone MQ-9 Reaper.

Serangan lainnya dilaporkan menyasar fasilitas akomodasi personel militer AS dan hanggar helikopter di Barak Al-Adiri.

IRGC menyatakan serangan tersebut merupakan respons terhadap serangan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran.

Dalam pernyataannya, Garda Revolusi Iran juga menyatakan menghormati kedaulatan Yordania dan Kuwait serta menegaskan bahwa sasaran serangan mereka adalah fasilitas yang digunakan oleh pasukan Amerika Serikat.

AS Sebelumnya Klaim Serang Target Militer Iran

Klaim serangan balasan Iran tersebut muncul setelah Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengonfirmasi serangkaian serangan terhadap target militer Iran.

Menurut laporan yang disampaikan pihak AS, serangan tersebut menyasar kemampuan maritim Iran, fasilitas penyimpanan rudal dan drone, pos pengawasan pesisir, serta sejumlah aset pertahanan udara.

Media Iran juga melaporkan adanya serangan AS di sejumlah wilayah, termasuk Ahvaz, Ramshir, dan Andimeshk.

Dalam salah satu laporan, serangan rudal AS di kawasan perbatasan Shalamcheh antara Iran dan Irak disebut menyebabkan dua orang meninggal dunia dan sebelas lainnya mengalami luka-luka.

Situasi tersebut semakin memperlihatkan meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap keamanan kawasan Asia Barat.

Yordania dan Kuwait Laporkan Aktivitas Serangan

Di tengah meningkatnya ketegangan, Kuwait dan Yordania juga melaporkan adanya serangan atau aktivitas militer di wilayah mereka.

Tentara Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi serangan drone dan memastikan kepada masyarakat bahwa suara ledakan yang terdengar berkaitan dengan upaya sistem pertahanan melakukan intersepsi.

Sementara itu, militer Yordania mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menembak jatuh tiga rudal pada Kamis pagi.

Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik Iran dan Amerika Serikat dapat semakin meluas dan melibatkan wilayah negara-negara lain di kawasan.

Meski Iran mengklaim telah menghancurkan radar THAAD, sistem Patriot, radar C-RAM, serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania dan Kuwait, hingga kini klaim mengenai tingkat kerusakan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Belum ada pula konfirmasi resmi yang secara independen membenarkan seluruh klaim Iran mengenai kerusakan fasilitas militer AS dari pihak militer Amerika Serikat maupun pemerintah Yordania dan Kuwait.

Perkembangan selanjutnya masih menjadi perhatian dunia, terutama karena meningkatnya intensitas serangan antara Iran dan Amerika Serikat dapat memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan Asia Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *