AS Lancarkan Serangan Malam ke-12 ke Iran, Trump Ancam Hancurkan Jembatan dan Pembangkit Listrik

0
IMG-20260725-WA0032

KONFLIK DUNIA — Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah menyelesaikan serangkaian serangan baru terhadap sejumlah sasaran militer Iran pada Rabu malam (22/7). Serangan tersebut menjadi rangkaian serangan ke-12 berturut-turut yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran di tengah konflik yang semakin memanas.

Dalam keterangannya, CENTCOM menyebut serangan terbaru menargetkan kemampuan maritim Iran, fasilitas penyimpanan rudal dan drone, pos pengawasan pesisir, serta aset pertahanan udara.

Menurut CENTCOM, operasi tersebut ditujukan untuk mengurangi kemampuan Iran dalam menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal komersial yang melintasi perairan kawasan.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan rudal Amerika Serikat menyasar sejumlah lokasi di sekitar Ahvaz, Ramshir, dan Andimeshk di wilayah barat Iran.

Serangan juga dilaporkan menghantam sebuah pembangkit listrik di sekitar kawasan pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran selatan.

Selain itu, media Iran melaporkan dua orang tewas dalam serangan di wilayah Shalamcheh, dekat perbatasan Iran dan Irak.

Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran

Di tengah eskalasi serangan militer tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran.

Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menargetkan infrastruktur Iran setiap kali Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz.

Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social.

Trump memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap kapal di Selat Hormuz, baik menggunakan rudal, roket, drone maupun senjata lainnya, akan dibalas dengan serangan terhadap satu jembatan atau pembangkit listrik di Iran.

Ia juga menyebut kemungkinan sasaran serangan dapat berada di sekitar maupun di dalam wilayah ibu kota Teheran.

Ancaman tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik antara Washington dan Teheran dapat berkembang menjadi perang yang menyasar infrastruktur vital dan fasilitas sipil.

Iran Ancam Balik Serang Infrastruktur Energi

Peringatan Trump langsung mendapat respons keras dari pihak Iran.

Panglima Angkatan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, Seyed Majid Mousavi, memperingatkan bahwa serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran dapat memicu serangan balasan terhadap infrastruktur negara-negara yang menjadi sekutu Amerika Serikat di kawasan.

Sementara itu, Komando Pusat Khatam Al-Anbiya Iran menyatakan bahwa jika Amerika Serikat benar-benar menyerang infrastruktur vital Iran, Teheran akan merespons dengan menargetkan infrastruktur minyak, gas, ekonomi, dan pembangkit listrik di berbagai wilayah Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan bahwa Iran akan menerapkan doktrin pertahanan yang disebutnya sebagai prinsip “mata ganti mata”.

Menurut Araghchi, setiap agresi terhadap Iran, termasuk serangan terhadap infrastruktur nasional, akan mendapatkan respons yang kuat dan tegas.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf turut memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat berdampak luas terhadap keamanan kawasan dan perdagangan energi global.

Ia menegaskan bahwa apabila Iran tidak dapat mengekspor minyak, maka negara-negara lain di kawasan juga berpotensi menghadapi gangguan terhadap aktivitas ekspor energi.

Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas

Ketegangan terbaru juga berpusat pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim telah menghentikan tiga kapal tanker minyak yang berusaha melintasi Selat Hormuz.

Menurut klaim IRGC, salah satu kapal dilaporkan mengalami ledakan dan terbakar, sementara dua kapal lainnya berbalik arah.

IRGC juga memperingatkan kapal-kapal lain agar tidak melintasi jalur tersebut tanpa mengikuti ketentuan yang diberlakukan Iran.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran dan kelancaran pasokan energi global. Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dapat memberikan dampak besar terhadap pasar minyak dan perdagangan internasional.

AS dan Iran Saling Balas Serangan

Iran disebut telah merespons serangan Amerika Serikat dengan melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas dan pangkalan militer AS di beberapa negara di kawasan.

Sementara itu, puluhan ribu personel militer Amerika Serikat masih ditempatkan di berbagai lokasi di Timur Tengah dalam kondisi siaga tinggi.

Militer Amerika Serikat juga dilaporkan telah mengubah rute sejumlah kapal komersial sebagai bagian dari upaya mencegah kapal-kapal memasuki maupun meninggalkan pelabuhan di Iran.

Eskalasi ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya berdampak terhadap kedua negara, tetapi juga meningkatkan risiko terhadap negara-negara lain di kawasan serta jalur perdagangan internasional.

Meski ketegangan militer terus meningkat, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa Washington masih membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Namun, pihak Amerika Serikat menilai Iran belum menunjukkan keseriusan yang cukup untuk kembali ke meja perundingan.

Di tengah ancaman serangan terhadap infrastruktur vital, ancaman pembalasan terhadap fasilitas energi, serta ketegangan di Selat Hormuz, konflik Iran dan Amerika Serikat kini menjadi salah satu krisis geopolitik paling mengkhawatirkan.

Jika eskalasi terus berlanjut, dampaknya berpotensi meluas dari konflik militer menjadi krisis energi dan perdagangan global. Dunia kini menantikan apakah jalur diplomasi masih mampu menghentikan siklus serangan dan pembalasan sebelum konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *