Yusril Ihza Mahendra Sampaikan Orasi Ilmiah di Habibie Memorial Lecture, Satukan Gagasan IPTEK Habibie dan IMTAQ Natsir

0
1788507119313

Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menyampaikan orasi ilmiah tunggal dalam The 5th B.J. Habibie Memorial Lecture yang digelar di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, pada 2 September.

Bagi Yusril, kesempatan tersebut bukan sekadar forum akademik. Ia menyebutnya sebagai ruang refleksi sejarah sekaligus kesaksian personal atas kedekatannya dengan dua tokoh penting dalam perjalanan pemikiran Indonesia, yakni Bacharuddin Jusuf Habibie dan Mohammad Natsir.

Yusril mengatakan dirinya memiliki ikatan emosional dan historis dengan kedua tokoh tersebut. Ia mengaku berkesempatan tumbuh dan berguru dalam lingkungan pemikiran yang dibentuk oleh keteladanan keduanya.

Mempertemukan Gagasan Habibie dan Natsir

Dalam orasi ilmiahnya, Yusril menguraikan benang merah pemikiran Habibie dan Natsir. Menurut dia, gagasan Habibie mengenai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi atau IPTEK dapat dipadukan dengan fondasi etika peradaban serta keimanan dan ketakwaan atau IMTAQ yang diperjuangkan Natsir.

Bagi Yusril, kemajuan sebuah bangsa tidak cukup hanya diukur dari kemampuan menguasai teknologi dan menghasilkan inovasi. Kemajuan tersebut juga membutuhkan landasan moral, etika, hukum, demokrasi, serta tanggung jawab terhadap masyarakat.

Sintesis antara penguasaan ilmu pengetahuan, tegaknya hukum dan demokrasi, serta integritas moral dinilai menjadi salah satu pijakan penting dalam mempersiapkan Indonesia menuju 2045.

IPTEK dan IMTAQ sebagai Fondasi Indonesia Emas

Gagasan tersebut menempatkan pembangunan manusia sebagai bagian penting dari agenda kemajuan nasional. Penguasaan sains dan teknologi diperlukan agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa, sementara nilai moral dan etika diperlukan agar kemajuan tersebut tetap berada dalam koridor kepentingan masyarakat.

Dalam perspektif tersebut, warisan pemikiran Habibie dan Natsir dapat dibaca sebagai dua dimensi yang saling melengkapi: penguatan kapasitas intelektual dan teknologi di satu sisi, serta pembentukan karakter, etika, dan tanggung jawab moral di sisi lainnya.

Keduanya menjadi relevan ketika Indonesia menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045, terutama dalam membangun negara yang maju secara teknologi sekaligus memiliki institusi hukum dan demokrasi yang kuat.

Merawat Warisan Pemikiran Dua Tokoh Bangsa

Yusril berharap pemikiran dan keteladanan Habibie serta Natsir terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

Bagi bangsa Indonesia, warisan seorang tokoh tidak hanya terletak pada jabatan yang pernah diemban atau karya yang ditinggalkan, tetapi juga pada gagasan yang mampu terus dibicarakan dan dikembangkan lintas generasi.

Melalui forum memorial lecture tersebut, Yusril menempatkan pemikiran Habibie dan Natsir dalam satu kerangka besar pembangunan Indonesia: ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju, hukum dan demokrasi yang tegak, serta masyarakat yang memiliki integritas moral.

Warisan itulah yang diharapkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan menjadi energi intelektual dan moral dalam perjalanan Indonesia menuju 2045.

Al-Fatihah untuk B.J. Habibie dan Mohammad Natsir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *