Warga Karet Kuningan Sulap Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar, 1 Kg Diklaim Hasilkan 0,9 Liter

0
1792463291929-1

JAKARTA — Warga RW 01 Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, mengembangkan inovasi pengolahan sampah plastik dan styrofoam menjadi bahan bakar alternatif melalui program Bank Sampah berbasis masyarakat.

Inisiatif tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi timbunan sampah rumah tangga, tetapi juga menghasilkan bahan bakar yang dimanfaatkan untuk mendukung operasional pengelolaan sampah di lingkungan setempat.

Program ini melibatkan warga dari 12 rukun tetangga (RT) yang melakukan pemilahan sampah plastik dan styrofoam dari rumah masing-masing. Sampah yang terkumpul kemudian dibawa ke pos RW untuk diproses menggunakan mesin pirolisis.

Berawal dari Kebijakan Pengelolaan Sampah Mandiri

Menurut laporan CNBC Indonesia, program tersebut berkembang setelah terbitnya Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 pada April 2026, yang mendorong pengelolaan sampah secara mandiri di lingkungan permukiman.

Warga RW 01 Karet Kuningan merespons kebijakan tersebut dengan membangun sistem pengumpulan dan pengolahan sampah berbasis komunitas.

Melalui sistem ini, sampah plastik yang sebelumnya berpotensi menambah beban tempat pembuangan akhir dapat diolah menjadi produk alternatif yang memiliki nilai guna.

Pengelolaan dari tingkat lingkungan juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah, sehingga proses pengumpulan dan pengolahan menjadi lebih terorganisasi.

Satu Kilogram Plastik Diklaim Menghasilkan 0,9 Liter

Pengurus Bank Sampah RW 01 Karet Kuningan, Dadang, menyebut pengolahan tersebut mampu menghasilkan sekitar 0,9 liter bahan bakar dari satu kilogram sampah plastik.

Pernyataan itu disampaikan kepada CNBC Indonesia pada Senin (19/10/2026).

Bahan bakar hasil pengolahan tersebut dikenal dengan sebutan Petasol. Meski memiliki nilai guna, pengurus menegaskan bahwa tujuan utama program tetap mengurangi volume sampah yang dihasilkan masyarakat.

Klaim hasil produksi tersebut perlu dipahami sebagai angka yang dilaporkan pengelola. Besaran hasil aktual dapat berbeda bergantung pada jenis dan komposisi plastik, kondisi bahan baku, serta teknologi dan parameter pengolahan yang digunakan.

Petasol Dimanfaatkan untuk Operasional Bank Sampah

Hasil pengolahan sampah plastik itu dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan operasional di lingkungan RW 01 Karet Kuningan.

Bahan bakar tersebut dilaporkan digunakan untuk menggerakkan kendaraan bermotor pengangkut sampah warga. Selain itu, Petasol dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi mesin pencacah botol plastik di lokasi pengolahan.

Pemanfaatan tersebut memberikan nilai tambah bagi program Bank Sampah karena sebagian kebutuhan operasional dapat ditopang dari hasil pengolahan limbah yang dikumpulkan masyarakat sendiri.

Namun, penggunaan bahan bakar hasil pirolisis tetap perlu memperhatikan kesesuaian mesin, kualitas bahan bakar, keselamatan operasional, serta ketentuan lingkungan yang berlaku.

Pirolisis Bukan Berarti Bebas Risiko Lingkungan

Teknologi pirolisis mengolah bahan melalui pemanasan pada kondisi dengan oksigen sangat terbatas. Pada jenis plastik tertentu, proses ini dapat menghasilkan minyak atau bahan bakar cair, gas, dan residu padat.

Meski menawarkan peluang pemanfaatan limbah, teknologi tersebut memerlukan pengendalian proses dan emisi yang memadai. Pengolahan plastik yang tidak tepat dapat menimbulkan pencemaran udara maupun menghasilkan residu yang harus ditangani secara aman.

Karena itu, keberhasilan program pengolahan sampah tidak cukup diukur dari jumlah bahan bakar yang dihasilkan. Pengurangan sampah, keselamatan pekerja, pengendalian emisi, dan pengelolaan residu juga perlu menjadi bagian dari evaluasi.

Inovasi Komunitas untuk Mengurangi Beban Sampah Jakarta

Inisiatif warga Karet Kuningan memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan terkecil melalui pemilahan, pengumpulan, dan pemanfaatan kembali limbah.

Model berbasis komunitas seperti ini berpotensi membantu mengurangi sampah yang harus diangkut ke tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya.

Ke depan, pengembangan program serupa perlu disertai pendampingan teknis, pengawasan lingkungan, dan evaluasi manfaat ekonomi agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

Langkah warga Karet Kuningan menjadi contoh bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Dengan pengelolaan yang tepat dan aman, limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat membuka peluang pemanfaatan baru bagi lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *