Vela Alpha, Taksi Terbang Buatan Indonesia Resmi Dipamerkan, Target Uji Terbang Akhir 2026

0
1788100842214

JAKARTA — Sorotan Publik — Industri kedirgantaraan Indonesia memasuki babak baru dengan diperkenalkannya prototipe fisik skala penuh Vela Alpha, kendaraan udara lepas landas dan mendarat secara vertikal atau electric vertical takeoff and landing (eVTOL) yang dikembangkan PT Vela Prima Nusantara melalui merek Vela Aero.

Prototipe Vela Alpha diluncurkan dalam ajang Heli Expo Asia (HEXIA) 2026 di Cengkareng Heliport, Jakarta. Kehadiran prototipe skala penuh tersebut menjadi tahapan penting dalam perjalanan pengembangan kendaraan udara yang dirancang untuk mendukung konsep Advanced Air Mobility (AAM) di Indonesia.

Peluncuran ini sekaligus menandai pergeseran pengembangan dari tahap desain konseptual menuju persiapan kampanye uji terbang dan proses sertifikasi kelaikudaraan.

Mengusung 9 Motor Listrik

Vela Alpha dikembangkan menggunakan konfigurasi Lift-and-Cruise dengan teknologi Distributed Electric Propulsion (DEP).

Platform tersebut menggunakan sembilan motor listrik independen yang dirancang untuk mendukung kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal.

Vela Aero merancang Vela Alpha dengan konfigurasi satu pilot dan enam penumpang. Pesawat ini juga dikembangkan dalam dua pilihan sistem penggerak.

Varian pertama merupakan eVTOL listrik murni dengan target jangkauan sekitar 150 kilometer yang diarahkan untuk kebutuhan mobilitas perkotaan.

Sementara varian kedua adalah hVTOL hybrid yang ditargetkan memiliki jangkauan hingga 500 kilometer dengan dukungan turbogenerator dan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Kedua varian tersebut dirancang memiliki kecepatan jelajah hingga 250 kilometer per jam.

Target Uji Terbang Perdana Akhir 2026

Vela Aero menargetkan uji terbang perdana Vela Alpha dapat dilakukan pada kuartal IV 2026.

Perusahaan juga menargetkan memperoleh lisensi Design Organization Approval (DOA) Class D dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan RI pada akhir 2026.

Tahapan berikutnya akan diarahkan pada proses sertifikasi pada periode 2027-2028 sebelum mencapai Type Certification (TC) penuh.

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai peta jalan perusahaan, Vela Alpha ditargetkan memasuki layanan komersial atau Entry Into Service (EIS) pada awal 2029.

Target tersebut menunjukkan bahwa Vela Alpha saat ini masih berada dalam fase pengembangan dan persiapan menuju sertifikasi, sehingga belum dapat disebut sebagai layanan taksi terbang komersial yang telah beroperasi.

Vela Aero Klaim Kantongi 160 LOI

Dari sisi komersial, Vela Aero menyebut telah mengakumulasi 160 Letter of Intent (LOI) dari pasar domestik maupun internasional.

Perusahaan juga menyebut adanya nota kesepahaman strategis dengan Whitesky Aviation untuk rencana pengadaan 50 unit Vela Alpha.

Pesawat tersebut direncanakan untuk sejumlah kebutuhan, mulai dari taksi udara, penghubung bandara atau airport feeder, pariwisata premium hingga layanan logistik.

Namun, Letter of Intent maupun MoU perlu dibedakan dari pesanan pembelian final. Salah satu fokus perusahaan hingga 2029 adalah mengonversi LOI tersebut menjadi firm purchase orders.

Selain produksi pesawat, Vela Aero juga menyiapkan pengembangan ekosistem pendukung, termasuk vertiport, fasilitas maintenance, repair and overhaul (MRO), serta kemitraan dengan berbagai pihak dalam industri.

Dorong Indonesia Menjadi Pemain AAM Asia Tenggara

Jajaran eksekutif PT Vela Prima Nusantara menyatakan kehadiran prototipe fisik Vela Alpha menjadi bukti pengembangan kemampuan rekayasa dan manufaktur domestik.

Perusahaan juga menargetkan pengembangan ekosistem Advanced Air Mobility secara terintegrasi serta penguasaan intellectual property (IP) teknologi kedirgantaraan.

Jika peta jalan pengembangan, pengujian dan sertifikasi dapat dicapai sesuai target, Vela Alpha berpotensi menjadi salah satu proyek teknologi penerbangan Indonesia yang memasuki tahap komersialisasi pada akhir dekade ini.

Perkembangan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa industri kedirgantaraan nasional mulai mengeksplorasi teknologi baru di luar pesawat konvensional, termasuk kendaraan udara listrik dan hybrid yang diproyeksikan untuk mobilitas perkotaan, konektivitas antarkawasan, pariwisata dan logistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *