Tempo Scan dan Raksasa Farmasi China Bentuk Joint Venture, Menko Airlangga: Langkah Strategis Kurangi Ketergantungan Impor Obat
Tempo Scan dan Raksasa Farmasi China Bentuk Joint Venture, Menko Airlangga: Langkah Strategis Kurangi Ketergantungan Impor Obat
Pemerintah terus mendorong penguatan industri farmasi nasional melalui peningkatan kapasitas produksi dalam negeri dan pengembangan obat-obatan inovatif. Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara PT Tempo Scan Pacific Tbk dan Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group Co., Ltd. (CTTQ), anak perusahaan Sino Biopharmaceutical Limited (SBP Group), yang membentuk perusahaan patungan atau joint venture bernama PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) di Jakarta.
Peresmian perusahaan patungan tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Menko Airlangga menilai kerja sama antara perusahaan farmasi Indonesia dan mitra strategis dari China tersebut dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat kemandirian industri obat nasional, khususnya dalam pengembangan produk biofarmasi dan specialty pharmaceutical.
Airlangga berharap kolaborasi tersebut mampu mendorong pengembangan serta penyediaan produk biofarmasi untuk berbagai penyakit yang menjadi perhatian kesehatan masyarakat. Penguatan industri dalam negeri dinilai penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada pasokan obat-obatan dari luar negeri.
Joint Venture Tempo Scan dan CTTQ Dorong Kemandirian Farmasi
Indonesia masih menghadapi tantangan berupa ketergantungan terhadap produk farmasi impor, terutama obat-obatan inovatif dan produk biologis bernilai tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan kemampuan industri farmasi nasional dari sisi riset, teknologi, produksi, hingga penguasaan bahan baku.
Melalui pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia, Tempo Scan dan CTTQ akan mengembangkan platform specialty pharmaceutical dan innovative healthcare di Indonesia.
Struktur kepemilikan perusahaan patungan tersebut terdiri atas 51 persen saham yang dimiliki SBP Group melalui CTTQ dan 49 persen oleh Tempo Scan. Skema joint venture ini diharapkan dapat membuka ruang bagi investasi jangka panjang, transfer teknologi, serta pengembangan kapasitas produksi farmasi di dalam negeri.
Kerja sama tersebut juga diarahkan untuk mendorong pembangunan fasilitas produksi active ingredient biofarmasi di Indonesia. Pengembangan kemampuan produksi bahan aktif di dalam negeri dinilai strategis karena selama ini Indonesia masih menghadapi keterbatasan dalam memproduksi sejumlah bahan baku obat berteknologi tinggi.
Produksi Obat Dalam Negeri Diharapkan Tekan Ketergantungan Impor
Executive Chairman and Co-founder Tempo Scan Group, Handojo S. Muljadi, menyebut pembentukan joint venture tersebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat bisnis bioteknologi dan specialty pharmaceutical di Indonesia.
Kemitraan ini juga dinilai menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang. Perusahaan patungan tersebut menargetkan peluncuran sejumlah produk inovatif secara bertahap dalam beberapa tahun mendatang, termasuk produk yang telah memperoleh persetujuan maupun yang masih berada dalam proses registrasi.
Jika pengembangan produksi berjalan sesuai rencana, keberadaan fasilitas farmasi di dalam negeri diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Selain itu, produksi lokal juga berpotensi memperluas akses masyarakat terhadap obat-obatan modern dan berkualitas.
Menko Airlangga juga menyoroti potensi dampak produksi dalam negeri terhadap keterjangkauan harga obat. Dengan sebagian produk farmasi yang sebelumnya bergantung pada impor dapat diproduksi di Indonesia, biaya distribusi dan sejumlah komponen biaya lainnya diharapkan dapat ditekan sehingga akses masyarakat terhadap obat menjadi lebih luas, termasuk melalui sistem jaminan kesehatan nasional.
BPOM Dorong Inovasi dan Investasi Industri Farmasi
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan pentingnya dukungan regulasi yang kredibel dalam mendorong kemajuan industri farmasi nasional. BPOM terus memperkuat perannya melalui pengawasan, percepatan inovasi, dan penciptaan iklim investasi yang mendukung pengembangan industri kesehatan.
Pengalaman pandemi COVID-19 menjadi salah satu pelajaran penting mengenai kebutuhan Indonesia untuk memiliki kapasitas produksi obat dan vaksin yang lebih kuat. Ketahanan sektor kesehatan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga kemampuan industri dalam negeri menyediakan obat, vaksin, dan produk biologis ketika terjadi krisis.
Pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia menjadi salah satu langkah yang diharapkan dapat memperkuat ekosistem biofarmasi nasional. Kolaborasi antara perusahaan Indonesia dan mitra internasional juga membuka peluang transfer teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta pengembangan produk farmasi dengan standar global.
Dalam jangka panjang, kerja sama tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan industri kesehatan Indonesia. Tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap impor, pengembangan industri biofarmasi juga berpotensi meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai pasok kesehatan global.
Dengan dukungan pemerintah, regulator, pelaku industri, dan investor, joint venture Tempo Scan dan CTTQ diharapkan menjadi bagian dari transformasi industri farmasi nasional menuju ekosistem yang lebih mandiri, inovatif, dan kompetitif. Langkah ini sekaligus memperkuat upaya Indonesia dalam memastikan ketersediaan obat berkualitas bagi masyarakat serta membangun ketahanan kesehatan nasional untuk menghadapi tantangan di masa depan.
