Teguh Aktivis Pati: “Memalukan!” Banyak Pakar Pandai Berteori, tetapi Minim Aksi Nyata untuk Perbaikan Negeri
PATI — Kritik keras terhadap budaya diskusi tanpa tindak lanjut kembali disuarakan aktivis asal Pati, Teguh. Ia menilai persoalan bangsa tidak akan pernah selesai apabila energi publik hanya dihabiskan untuk berdebat, menyampaikan teori, maupun melahirkan berbagai rekomendasi tanpa diikuti tindakan nyata.
Bagi Teguh, keberadaan banyak pakar dan ahli seharusnya menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan. Namun, kepakaran menurutnya kehilangan makna apabila berbagai gagasan hanya berhenti di ruang diskusi dan tidak pernah diterjemahkan menjadi kerja konkret di lapangan.
“Memalukan,” menjadi salah satu penilaian keras yang ia lontarkan terhadap kondisi tersebut.
Bukan Lagi Saatnya Berhenti di Ruang Diskusi
Menurut Teguh, masyarakat saat ini tidak hanya membutuhkan wacana.
Masyarakat membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan, keberanian menghadapi persoalan, serta tindakan nyata yang mampu menghasilkan perubahan.
Forum diskusi, seminar, kajian, maupun perdebatan publik memang memiliki tempat penting dalam kehidupan demokrasi. Dari ruang-ruang tersebut, gagasan dapat diuji dan berbagai perspektif dapat dipertemukan.
Namun, persoalan muncul ketika seluruh proses berhenti pada kata-kata.
Pertanyaan yang kemudian harus dijawab adalah sederhana:
Setelah semua teori disampaikan, apa yang benar-benar dilakukan?
Bagi Teguh, pertanyaan tersebut menjadi penting karena persoalan masyarakat berlangsung di dunia nyata. Masyarakat berhadapan langsung dengan persoalan ekonomi, hukum, pelayanan publik, ketimpangan, pendidikan, kesehatan, dan berbagai masalah sosial lainnya.
Semua itu tidak dapat diselesaikan hanya dengan pernyataan yang terdengar hebat.
Pakar Harus Mampu Mengubah Gagasan Menjadi Solusi
Kritik Teguh tidak diarahkan semata-mata kepada kalangan akademisi atau para ahli.
Justru, ia melihat ilmu pengetahuan dan kepakaran seharusnya menjadi modal penting untuk melakukan perubahan.
Seorang ahli tidak cukup hanya mampu menjelaskan mengapa sebuah persoalan terjadi.
Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan tersebut digunakan untuk mencari jalan keluar.
Sebab masyarakat membutuhkan solusi yang dapat dirasakan, bukan sekadar istilah akademik yang sulit dipahami tetapi tidak memberikan perubahan terhadap kehidupan sehari-hari.
Ketika berbagai ahli telah berkumpul, berbagai data telah dibahas, dan berbagai rekomendasi telah disampaikan, maka tahap berikutnya adalah implementasi.
Di sinilah kualitas sebuah gagasan diuji.
Apakah mampu diwujudkan atau kembali berhenti sebagai dokumen dan pernyataan?
Kritik Bukan untuk Saling Menjatuhkan
Teguh juga menekankan bahwa kritik terhadap pihak yang dinilai tidak mampu menjalankan tanggung jawab merupakan bagian dari kepedulian terhadap kondisi bangsa.
Namun, kritik menurutnya seharusnya tidak berhenti sebagai aktivitas saling menyalahkan.
Kritik harus menjadi pintu masuk bagi evaluasi.
Evaluasi harus melahirkan perbaikan.
Dan perbaikan harus menghasilkan tindakan yang dapat diukur dampaknya.
Dengan demikian, perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menyerang secara personal.
Sebaliknya, perbedaan pandangan harus digunakan untuk menemukan solusi yang lebih baik.
Indonesia Membutuhkan Orang yang Berani Bertindak
Pesan yang disampaikan Teguh pada dasarnya mengarah pada satu persoalan mendasar: kesenjangan antara gagasan dan tindakan.
Negeri ini tidak kekurangan orang pintar.
Indonesia memiliki akademisi, profesional, aktivis, praktisi, birokrat, pengusaha, dan berbagai kelompok masyarakat dengan pengalaman serta pengetahuan yang luas.
Persoalannya adalah bagaimana seluruh kapasitas tersebut dapat dipertemukan menjadi kekuatan perubahan.
Masyarakat tidak membutuhkan tokoh yang hanya muncul ketika kamera menyala.
Masyarakat membutuhkan orang yang tetap bekerja ketika sorotan kamera telah hilang.
Bukan hanya pandai berbicara, tetapi mampu bekerja.
Bukan hanya mampu berteori, tetapi berani mengambil tindakan.
Bukan hanya aktif dalam forum, tetapi hadir ketika masyarakat membutuhkan solusi.
Perubahan Tidak Lahir dari Banyaknya Kata
Pada akhirnya, kritik Teguh membawa pesan sederhana tetapi fundamental.
Perubahan tidak lahir dari banyaknya kata-kata. Perubahan lahir ketika gagasan diwujudkan menjadi tindakan nyata.
Karena itu, setiap diskusi seharusnya memiliki tindak lanjut.
Setiap rekomendasi seharusnya memiliki langkah implementasi.
Dan setiap kritik seharusnya membuka jalan menuju perbaikan.
Jika tidak, ruang publik hanya akan dipenuhi perdebatan tanpa akhir sementara persoalan masyarakat terus berjalan.
Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan bukan seberapa banyak seseorang berbicara tentang perubahan.
Ukuran sebenarnya adalah seberapa besar perubahan yang mampu diwujudkannya.
Sebab pada akhirnya, negeri ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu mengatakan apa yang salah.
Indonesia membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan:
“Ini masalahnya. Ini solusinya. Dan ini yang akan kami kerjakan.”
