Tak Punya Laptop, Sahrul B. Musa Andalkan Pinjaman Teman hingga Berhasil Raih Gelar Sarjana
Keterbatasan fasilitas tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih pendidikan dan mengejar cita-cita. Kisah tersebut tercermin dari perjalanan Sahrul B. Musa, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di STKIP Muhammadiyah Kalabahi, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berasal dari keluarga petani yang belum mampu membelikannya laptop, Sahrul harus mencari cara agar tetap dapat mengikuti perkuliahan sekaligus menyelesaikan tugas akademiknya.
Alih-alih menyerah karena keterbatasan fasilitas, ia memilih memanfaatkan apa yang tersedia di sekitarnya.
Bergantung pada Laptop Pinjaman Teman
Sepanjang menjalani pendidikan hingga memasuki tahap penyusunan skripsi, Sahrul mengandalkan laptop milik teman-temannya.
Ia meminjam perangkat tersebut secara bergantian dengan menyesuaikan waktu ketika pemiliknya sedang tidak menggunakannya.
Kondisi itu tentu tidak mudah. Pengerjaan tugas maupun skripsi harus menyesuaikan dengan ketersediaan perangkat yang dipinjam.
Namun, keterbatasan tersebut tidak membuat Sahrul berhenti mengejar target pendidikannya.
Setiap kesempatan yang tersedia dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas, menyusun penelitian, memperbaiki tulisan, hingga mempersiapkan diri menghadapi ujian skripsi.
Perjuangan Berbuah Gelar Sarjana
Perjuangan panjang tersebut akhirnya mencapai titik yang membahagiakan.
Sahrul berhasil mempertahankan skripsinya di hadapan para penguji hingga dinyatakan berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana.
Tangis haru pun pecah setelah perjuangan panjang yang dijalaninya akhirnya membuahkan hasil.
Kisah Sahrul kemudian dibagikan melalui media sosial dan menjadi inspirasi karena memperlihatkan bagaimana keterbatasan ekonomi dan fasilitas tidak selalu menentukan hasil akhir sebuah perjuangan.
Cerita tersebut pertama kali dibagikan melalui akun TikTok @bustami.kaibana.
Bukan Soal Seberapa Lengkap Fasilitas
Perjalanan Sahrul memberikan pesan sederhana tentang pendidikan: fasilitas memang penting, tetapi tekad, kegigihan, dan kemampuan memanfaatkan kesempatan juga memiliki peran besar dalam mencapai tujuan.
Tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan belajar dengan fasilitas yang lengkap. Ada yang harus berbagi perangkat, bekerja sambil kuliah, menempuh perjalanan jauh, atau menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi.
Namun, keterbatasan tersebut tidak selalu harus menjadi alasan untuk berhenti.
Kisah Sahrul menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju keberhasilan terkadang ditempuh dengan cara yang jauh lebih panjang dan tidak mudah.
Laptop yang dipinjam bergantian mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi Sahrul, perangkat tersebut menjadi salah satu jembatan yang membantunya menyelesaikan pendidikan.
Pada akhirnya, gelar sarjana yang diraihnya bukan hanya menjadi tanda selesainya masa kuliah. Gelar tersebut juga menjadi simbol dari sebuah perjuangan panjang—tentang seorang anak petani yang memilih terus melangkah meski fasilitas yang dimilikinya terbatas.
Sebab terkadang, yang membawa seseorang sampai ke garis akhir bukanlah fasilitas yang paling lengkap, melainkan tekad untuk tidak berhenti berjalan.
