Sandiaga Uno Ungkap Konsep Awal MBG: Libatkan UMKM, Emak-Emak, Dapur Sekolah, dan Kantin agar Ekonomi Rakyat Bergerak
JAKARTA — Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, mengungkapkan pandangannya mengenai konsep awal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam podcast Marshall Plan yang, menurut informasi yang beredar, diunggah melalui akun Instagram @marshallplanpodcast pada 21 Oktober 2026.
Dalam perbincangan tersebut, Sandiaga menyoroti pentingnya pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), orang tua murid, dapur sekolah, serta kantin di lingkungan pendidikan agar manfaat ekonomi program MBG dapat dirasakan lebih luas.
Menurutnya, pelaksanaan program seharusnya mampu menciptakan perputaran ekonomi di tingkat lokal, bukan hanya berfokus pada penyediaan dan pembagian makanan kepada para penerima manfaat.
Sandiaga Soroti Pelibatan UMKM dan Ekonomi Rakyat
Sandiaga mengungkapkan bahwa konsep awal MBG yang dibicarakan sebelumnya melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk pelaku UMKM dan perempuan yang memiliki usaha di sekitar sekolah.
“Dulu waktu kita rancang, ini akan terlibat emak-emak, yang akan terlibat UMKM, yang akan terlibat dapur-dapur sekolah, kantin-kantin, UMK di tengah-tengah sekolah sehingga perekonomiannya ekonomi rakyatnya muter, tidak pernah dirancang seperti ini,” ungkap Sandiaga sebagaimana dikutip dalam materi pemberitaan.
Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya desain pelaksanaan program pemerintah yang tidak hanya berorientasi pada hasil utama, tetapi juga mempertimbangkan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Apabila pelaku usaha lokal memperoleh kesempatan menjadi pemasok bahan pangan, penyedia jasa, atau mitra pelaksanaan program sesuai ketentuan, perputaran belanja pemerintah berpotensi memberikan manfaat tambahan bagi perekonomian daerah.
Namun, pelibatan UMKM juga perlu disertai standar yang jelas mengenai kualitas bahan pangan, kapasitas produksi, ketepatan distribusi, kebersihan, dan keamanan makanan.
Dengan demikian, pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan seiring dengan tujuan utama MBG, yaitu mendukung pemenuhan kebutuhan gizi penerima manfaat.
MBG Seharusnya Menjadi Gerakan Kolaborasi
Sandiaga juga menekankan bahwa MBG semestinya dibangun sebagai gerakan kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak, bukan semata-mata dipandang sebagai proyek untuk mencari keuntungan.
“Eksekusinya ya ini bukan program tapi ini sebuah gerakan, jadi ya kalau program itu jangan diduitin dong, dicari betul-betul kolaborasinya,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, pelaku usaha, petani, pedagang, dan masyarakat sekitar.
Dalam pelaksanaannya, transparansi pengadaan dan penggunaan anggaran juga menjadi unsur penting agar program berjalan sesuai tujuan serta memberikan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pengawasan diperlukan untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga, anggaran digunakan secara tepat, dan peluang ekonomi tidak hanya dinikmati oleh segelintir pihak.
Bahan Pangan Lokal dan Kearifan Daerah
Selain pelibatan UMKM, Sandiaga menyoroti pentingnya pemanfaatan bahan pangan yang berasal dari lingkungan sekitar sekolah penerima manfaat.
Menurut gagasan yang disampaikannya, pengadaan bahan makanan dari produsen lokal dapat membuka peluang pasar bagi petani, peternak, nelayan, pedagang, dan usaha pangan di daerah.
“Beras yang diambil juga dari sekitar sekolah, di mana anak-anak tersebut mendapatkan makanan, ada kearifan lokal juga, di mana sebagian daripada wadah yang dipakai juga disediakan oleh para pengrajin lokal, tentunya sesuai dengan standar dan kaidah dari keselamatan dan keamanan pangan,” ujar Sandiaga.
Pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu cara menghubungkan program pemenuhan gizi dengan penguatan rantai pasok pangan daerah.
Jika dirancang dengan baik, kebutuhan bahan makanan untuk sekolah dapat menciptakan permintaan yang lebih terukur bagi produsen lokal. Pengrajin setempat juga berpotensi memperoleh kesempatan menyediakan perlengkapan pendukung sepanjang memenuhi persyaratan yang berlaku.
Meski demikian, pengadaan lokal perlu mempertimbangkan ketersediaan bahan pangan, kestabilan harga, kemampuan pemasok memenuhi kebutuhan, distribusi, dan standar keamanan pangan.
Tujuannya bukan sekadar membeli produk dari daerah sekitar, melainkan membangun sistem pasokan yang efisien, transparan, dan berkelanjutan.
Mengukur Keberhasilan MBG dari Manfaat bagi Masyarakat
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak sebagai penerima manfaat.
Namun, gagasan yang disoroti Sandiaga memperluas pembahasan mengenai bagaimana pelaksanaan MBG juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang dibagikan. Aspek kualitas gizi, keamanan pangan, ketepatan sasaran, efisiensi anggaran, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat juga layak menjadi bagian dari evaluasi.
Pemerintah perlu memastikan bahwa pelaksanaan program memberikan ruang yang adil bagi pelaku usaha lokal tanpa mengabaikan standar kualitas dan akuntabilitas.
Evaluasi yang terbuka dapat membantu mengidentifikasi kendala pelaksanaan sekaligus memperbaiki sistem pengadaan dan distribusi agar manfaat program semakin optimal.
Menjaga Tujuan Gizi sekaligus Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Pandangan Sandiaga Uno menempatkan MBG dalam konteks yang lebih luas: program pemenuhan gizi dapat dirancang agar memberikan manfaat sosial dan ekonomi secara bersamaan.
Keterlibatan UMKM, petani, pedagang, orang tua murid, dapur sekolah, dan kantin berpotensi memperkuat hubungan antara anggaran program dengan perekonomian masyarakat setempat.
Pada saat yang sama, pengawasan dan evaluasi tetap diperlukan agar tujuan pemenuhan gizi tidak tergeser oleh kepentingan bisnis.
Bagi masyarakat, persoalan utamanya adalah memastikan bahwa program pemerintah benar-benar memberikan manfaat nyata bagi penerima makanan sekaligus membuka kesempatan ekonomi yang transparan dan berkelanjutan.
Dengan pelaksanaan yang terukur, MBG berpotensi menjadi instrumen pembangunan yang tidak hanya mendukung kebutuhan gizi anak, tetapi juga memperkuat rantai pasok pangan dan menggerakkan ekonomi rakyat.
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan materi pemberitaan yang diberikan. Kutipan langsung, tanggal unggahan podcast, dan konteks pernyataan Sandiaga Uno perlu dicocokkan dengan rekaman asli sebelum dipublikasikan.
