Rizkan Soroti Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras: Jangan Campurkan yang Sakral dengan Hadiah yang Kontroversial

0
file_000000006110820bba048a8ccb2deb43

RIZKAN — Sebuah video yang memperlihatkan challenge membaca atau menghafal ayat Al-Qur’an dengan hadiah berupa minuman beralkohol memicu perdebatan luas di ruang publik. Peristiwa tersebut menjadi sorotan karena mempertemukan dua hal yang memiliki makna sosial sangat berbeda: teks keagamaan yang dianggap sakral oleh umat Islam dan minuman beralkohol sebagai hadiah dalam sebuah permainan.

Dalam percakapan publik yang berkembang, challenge tersebut disebut berlangsung dalam rangkaian acara musik The Sounds Project. Sejumlah unggahan dan diskusi warganet menyebut peserta diminta melafalkan Surah Ad-Dhuha dan apabila berhasil disebut memperoleh satu botol Newport.

Namun, terdapat pula perdebatan mengenai siapa yang sebenarnya menggagas challenge tersebut dan sejauh mana keterlibatan pihak penyelenggara maupun merek yang berada di lokasi. Karena itu, menyebut kejadian tersebut sebagai strategi promosi resmi sebuah perusahaan tanpa klarifikasi dari pihak terkait merupakan kesimpulan yang terlalu dini.

Di tengah polemik tersebut, tokoh pers dan jurnalis Muslim Rizkan Al Mubarok menyampaikan keprihatinannya.

Menurut Rizkan, persoalan utama dalam peristiwa tersebut bukan sekadar soal sebuah permainan, hadiah, atau siapa yang memegang mikrofon. Ada persoalan etika yang jauh lebih mendasar, yakni bagaimana sebuah simbol keagamaan ditempatkan dalam konteks hiburan dan pemberian hadiah.

“Jangan campurkan sesuatu yang sakral dengan hadiah yang kontroversial. Al-Qur’an bukan sekadar materi untuk membuat sebuah challenge terlihat menarik. Bagi umat Islam, Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat mulia,” ujar Rizkan.

Ketika Hiburan Bersentuhan dengan Simbol Keagamaan

Menurut Rizkan, ruang hiburan dan industri kreatif pada dasarnya memiliki kebebasan untuk menciptakan berbagai bentuk permainan. Kreativitas bahkan menjadi salah satu unsur penting dalam membangun interaksi dengan penonton.

Namun, kebebasan kreatif tidak berarti seluruh bentuk kreativitas bebas dari pertimbangan etika.

Ketika sebuah aktivitas hiburan menggunakan simbol, teks, atau praktik keagamaan, konteksnya berubah. Sesuatu yang mungkin dianggap sebagai permainan ringan oleh sebagian orang dapat dipersepsikan sangat berbeda oleh kelompok masyarakat yang memiliki keterikatan spiritual dengan simbol tersebut.

Di sinilah pentingnya prinsip kehati-hatian.

Rizkan berpandangan bahwa ukuran keberhasilan sebuah acara tidak seharusnya hanya dilihat dari seberapa ramai penonton atau seberapa cepat sebuah video menjadi viral. Ada ukuran lain yang tidak kalah penting, yaitu apakah kreativitas tersebut tetap menghormati nilai dan keyakinan masyarakat.

“Viral bukan ukuran bahwa sebuah gagasan itu benar. Engagement bukan ukuran bahwa sebuah tindakan itu pantas. Kreativitas harus berjalan bersama tanggung jawab,” katanya.

Jangan Terburu-buru Menuduh, Tetapi Jangan Mengabaikan Etika

Rizkan juga menekankan pentingnya membedakan kritik etis dengan tuduhan hukum.

Menurutnya, masyarakat berhak mempertanyakan kepantasan sebuah tindakan, tetapi proses penentuan apakah terdapat pelanggaran hukum harus diserahkan kepada aparat yang berwenang berdasarkan bukti dan prosedur yang berlaku.

Sikap tersebut, kata dia, penting agar kritik terhadap kejadian tersebut tidak berubah menjadi penghakiman terhadap pihak yang belum tentu memiliki peran sebagaimana dituduhkan di media sosial.

“Kalau ada dugaan pelanggaran hukum, silakan diproses sesuai hukum. Tetapi sebelum sampai pada kesimpulan, semua pihak harus diberi ruang untuk memberikan klarifikasi. Pers tidak boleh menggantikan pengadilan,” ujarnya.

Pandangan tersebut sekaligus menjadi garis penting dalam membaca kasus yang viral di media sosial. Sebab, potongan video sering kali hanya memperlihatkan beberapa detik dari sebuah peristiwa, sementara konteks sebelum dan sesudahnya belum tentu terlihat.

Dalam diskusi publik mengenai kasus tersebut, sejumlah warganet juga mempertanyakan apakah challenge benar-benar dirancang oleh pihak booth atau muncul secara spontan dari orang yang berada di lokasi. Ada pula perdebatan mengenai peran MC dan bagaimana situasi tersebut dapat berlangsung di atas panggung.

Karena itu, verifikasi menjadi kunci.

Persoalan Ini Lebih Besar daripada Sebotol Minuman

Jika dilihat secara lebih luas, kontroversi tersebut menghadirkan pertanyaan penting mengenai batas antara kreativitas, hiburan, komersialisasi, dan penghormatan terhadap nilai agama.

Sebuah challenge dapat berlangsung hanya dalam hitungan menit. Tetapi dampaknya dapat bertahan jauh lebih lama karena rekaman video dapat tersebar ke jutaan pengguna media sosial.

Dalam perspektif komunikasi publik, hal tersebut menunjukkan bahwa setiap tindakan di ruang terbuka memiliki potensi menjadi pesan publik, bahkan ketika pihak yang melakukannya tidak bermaksud menjadikannya sebagai pernyataan resmi.

Karena itu, menurut Rizkan, penyelenggara kegiatan, pengisi acara, kru, maupun pihak yang terlibat dalam aktivitas panggung harus memiliki sensitivitas yang memadai terhadap keberagaman masyarakat Indonesia.

“Indonesia adalah negara yang sangat beragam. Kita memiliki kebebasan berekspresi, tetapi kita juga memiliki tanggung jawab untuk menghormati keyakinan orang lain. Itu bukan kelemahan kreativitas, justru tanda bahwa kita memiliki kedewasaan,” katanya.

Viralitas Tidak Boleh Mengalahkan Akal Sehat

Peristiwa tersebut juga memperlihatkan satu persoalan yang semakin penting di era media sosial: dorongan untuk menciptakan momen yang kontroversial demi mendapatkan perhatian.

Dalam ekonomi perhatian, sesuatu yang mengejutkan lebih mudah direkam, dibagikan, dan diperbincangkan. Namun, ketika sebuah gagasan sengaja atau tidak sengaja menyentuh wilayah sensitif, konsekuensinya tidak lagi sebatas angka penonton.

Rizkan menilai industri hiburan dan komunikasi publik perlu belajar dari kasus tersebut.

Menurutnya, kreativitas yang benar-benar kuat tidak membutuhkan kontroversi yang merendahkan nilai tertentu untuk mendapatkan perhatian.

“Kalau ingin membuat challenge, buatlah sesuatu yang lucu, edukatif, kreatif, dan menghibur. Tidak perlu menggunakan sesuatu yang sakral sebagai alat untuk mendapatkan reaksi publik,” tegasnya.

Bagi Rizkan, kritik terhadap kejadian tersebut juga bukan ajakan untuk membangun permusuhan terhadap pihak tertentu. Sebaliknya, ia mendorong agar kasus tersebut menjadi bahan evaluasi bersama.

“Jangan jadikan kasus ini sebagai alasan untuk saling membenci. Kita justru harus mengambil pelajaran. Yang salah harus diproses secara proporsional jika memang terbukti melanggar hukum, sementara yang tidak terlibat jangan dikorbankan oleh asumsi,” ujarnya.

Pelajaran bagi Industri Hiburan dan Publik

Kontroversi challenge hafalan Al-Qur’an dengan hadiah minuman beralkohol pada akhirnya memberikan pelajaran yang lebih luas.

Di satu sisi, masyarakat perlu menjaga kebebasan berekspresi dan tidak mudah menjatuhkan vonis hanya berdasarkan potongan video. Di sisi lain, pelaku industri hiburan harus menyadari bahwa kebebasan kreatif selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial.

Bagi Rizkan Al Mubarok, titik temu keduanya sederhana: kreativitas boleh seluas mungkin, tetapi penghormatan terhadap keyakinan orang lain tidak boleh ditinggalkan.

Sebab, dalam masyarakat yang plural seperti Indonesia, ukuran sebuah karya atau hiburan bukan hanya seberapa keras ia mendapatkan perhatian, melainkan juga seberapa matang ia memahami batas kepatutan.

“Jangan sampai kita mengejar viralitas dengan mengorbankan sesuatu yang bagi orang lain sangat suci. Kita boleh berbeda dalam hiburan, tetapi jangan kehilangan rasa hormat,” tutup Rizkan.

Pada akhirnya, fakta mengenai siapa penggagas challenge, siapa yang bertanggung jawab, dan apakah terdapat unsur pelanggaran hukum harus ditentukan melalui klarifikasi serta proses yang dapat dipertanggungjawabkan.

Namun secara etika, satu prinsip tampaknya sulit dibantah: ketika sesuatu yang dianggap sakral oleh jutaan orang ditempatkan dalam sebuah permainan dengan hadiah yang kontroversial, kehati-hatian bukan lagi pilihan tambahan, melainkan sebuah keharusan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *