Rizkan Al Mubarrok: Pemimpin yang Dicintai Rakyat Bukan yang Paling Banyak Membuat Aturan, Tetapi yang Paling Banyak Menghadirkan Solusi
JAMBI – Ketua Dewan Perwakilan Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Sumatera Raya yang juga menjabat Ketua AWNI Provinsi Jambi, Rizkan Al Mubarrok, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak semata-mata dilihat dari banyaknya kebijakan yang dibuat, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
Menurut Rizkan, masyarakat pada dasarnya selalu mendukung setiap program pemerintah yang bertujuan membangun daerah, meningkatkan pelayanan publik, dan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Namun dukungan tersebut harus dibarengi dengan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada kebutuhan rakyat.
“Pemimpin yang dicintai rakyat bukan yang paling banyak membuat aturan, tetapi yang paling banyak menghadirkan solusi,” tegas Rizkan Al Mubarrok kepada wartawan, Rabu (24/6/2026).
Tokoh pers independen Jambi tersebut menilai bahwa pemerintah daerah memiliki kewenangan besar dalam mengelola sumber daya dan anggaran yang dimiliki daerah. Karena itu, setiap kebijakan harus dirancang dengan mempertimbangkan kondisi riil masyarakat serta dampak ekonomi yang ditimbulkannya.
Menurut Rizkan, kepala daerah idealnya berperan layaknya seorang manajer profesional yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan daerah, membuka peluang investasi, serta menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat luas.
“Seorang kepala daerah harus berpikir bagaimana rakyat semakin terbantu, bagaimana ekonomi daerah tumbuh, bagaimana pelayanan publik semakin baik, dan bagaimana masyarakat merasakan manfaat pembangunan secara langsung,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat saat ini menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang tidak ringan. Oleh karena itu, pemerintah perlu menghadirkan lebih banyak kebijakan yang memberikan kemudahan dan keringanan kepada masyarakat.
Sebagai contoh, Rizkan mendorong lahirnya program-program kreatif yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat, seperti diskon layanan publik pada momentum tertentu, bantuan sosial berbasis kebutuhan masyarakat, maupun berbagai bentuk insentif yang dapat membantu meringankan beban warga.
Menurutnya, pembangunan yang berhasil bukan hanya pembangunan yang terlihat megah secara fisik, tetapi pembangunan yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara nyata.
“Kota yang maju bukan hanya kota yang terlihat indah. Kota yang maju adalah kota yang mampu membuat masyarakatnya hidup lebih nyaman, lebih sejahtera, dan lebih bahagia,” katanya.
Rizkan menegaskan bahwa rakyat tidak pernah menuntut kemewahan dari pemerintah. Yang diharapkan masyarakat adalah kehadiran negara dan pemerintah daerah yang mampu memberikan solusi terhadap persoalan yang mereka hadapi setiap hari.
Karena itu, ia berharap setiap kebijakan yang lahir ke depan semakin mengedepankan prinsip keberpihakan kepada rakyat, sehingga pembangunan tidak hanya menjadi angka dalam laporan, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Pada akhirnya, kekuatan sebuah daerah bukan terletak pada gedung-gedung yang berdiri megah, melainkan pada kesejahteraan rakyatnya. Jika rakyat merasakan manfaat pembangunan, maka kepercayaan kepada pemerintah akan tumbuh dengan sendirinya,” pungkas Rizkan Al Mubarrok.
