Rizkan Al Mubarok Soroti Video Viral Aksi Hari Tani Bengkulu: Aparat Wajib Profesional, Publik Jangan Terprovokasi

0
1790407864431-1

SOROTAN PUBLIK — Video yang memperlihatkan seorang pria berbaju hitam melakukan gestur tertentu ke arah massa dalam aksi Hari Tani Nasional di depan Kantor Gubernur Bengkulu menjadi sorotan publik. Rekaman tersebut viral di media sosial karena pria tersebut terlihat berada di tengah barisan aparat yang melakukan pengamanan.

Peristiwa yang terjadi dalam aksi pada Kamis (24/9/2026) itu turut mendapat perhatian Ketua Dewan Perwakilan AWNI Sumatera Raya sekaligus Ketua AWNI Provinsi Jambi, Rizkan Al Mubarok.

Rizkan mengatakan, setiap personel yang bertugas mengamankan aksi penyampaian pendapat harus menjaga profesionalitas, sikap humanis, dan pengendalian diri.

“Kalau benar seseorang yang berada di barisan pengamanan melakukan gestur yang dianggap mengejek atau memprovokasi massa, tentu hal itu perlu diperiksa secara serius. Aparat yang bertugas membawa nama institusi negara, sehingga sikap dan tindakannya harus mencerminkan profesionalitas,” ujar Rizkan Al Mubarok.

Namun, Rizkan juga meminta masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan mengenai identitas maupun motif pria yang terekam dalam video tersebut.

“Video yang beredar harus diperiksa secara utuh. Jangan sampai potongan video langsung dijadikan dasar untuk menghakimi seseorang. Kita harus membedakan antara apa yang terlihat dalam rekaman dengan kesimpulan mengenai siapa orang tersebut dan apa maksud tindakannya,” katanya.

Polda Bengkulu sendiri telah menyatakan akan melakukan pendalaman dan evaluasi terhadap rangkaian kejadian dalam pengamanan aksi Hari Tani. Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Pol Imam Wijayanto mengatakan kepolisian tidak ingin berspekulasi dan akan mencermati video serta informasi yang beredar secara objektif.

Rizkan menilai langkah pendalaman tersebut penting agar persoalan tidak berkembang menjadi kesimpulan yang keliru.

“Kalau memang ada pelanggaran disiplin atau tindakan yang tidak sesuai prosedur, silakan diperiksa dan diberikan tindakan sesuai aturan. Tetapi kalau belum jelas identitas dan konteksnya, jangan pula masyarakat membuat vonis sendiri,” ujar Rizkan.

Menurutnya, hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum harus dihormati. Pada saat yang sama, pengamanan oleh aparat juga diperlukan agar aksi berlangsung aman dan tidak berkembang menjadi kericuhan.

Dalam aksi Hari Tani di Bengkulu, massa yang terdiri dari kelompok tani, mahasiswa, organisasi kepemudaan dan elemen masyarakat menyampaikan sejumlah aspirasi mengenai persoalan agraria, termasuk konflik lahan, transparansi data Hak Guna Usaha (HGU), serta kepastian hukum dalam persoalan pertanahan.

“Petani, mahasiswa dan masyarakat punya hak menyampaikan aspirasi. Aparat punya kewajiban menjaga keamanan. Dua-duanya harus berjalan bersama. Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan,” kata Rizkan.

Rizkan juga mengingatkan media dan masyarakat agar tidak memperbesar persoalan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Pers harus memberitakan fakta. Jangan menjadikan video viral sebagai vonis. Tetapi jangan pula mengabaikan kalau memang ditemukan tindakan yang tidak profesional. Periksa, verifikasi, kemudian beritakan secara berimbang,” tegasnya.

Ia menilai profesionalitas aparat dan kebebasan masyarakat menyampaikan aspirasi merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan dalam negara demokrasi.

“Polisi harus dihormati karena menjalankan tugas negara, tetapi profesionalitas juga harus dijaga. Masyarakat harus menghormati aparat, aparat juga harus menghormati masyarakat yang menyampaikan aspirasi. Kuncinya adalah hukum, profesionalitas dan pengendalian diri,” ujar Rizkan.

Rizkan berharap pendalaman Polda Bengkulu dapat memberikan kejelasan mengenai rangkaian kejadian, termasuk identitas pria dalam video, posisinya dalam pengamanan, serta konteks gestur yang terekam.

“Jangan ada yang ditutup-tutupi, tetapi jangan pula ada yang disimpulkan sebelum pemeriksaan selesai. Kalau benar, katakan benar. Kalau ternyata konteksnya berbeda, jelaskan juga kepada publik. Rakyat berhak mendapatkan informasi yang utuh,” pungkas Rizkan Al Mubarok.

Hingga saat ini, Polda Bengkulu masih melakukan pendalaman terhadap rangkaian kejadian dan rekaman video yang beredar. Kepolisian juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *