Orasi Ilmiah di Masjid Istiqlal: Kader Ulama Harus Tangguh Hadapi Distorsi Informasi dan Perubahan Zaman
JAKARTA – Peran ulama dinilai semakin penting di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi yang berkembang melalui teknologi digital. Tantangan tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam orasi ilmiah bertema “Peran Ulama dalam Mewujudkan Kemashlahatan Umum, Negara, dan Global” pada acara Wisuda Pengukuhan Kader Ulama Masjid Istiqlal ke-III di lantai utama Masjid Istiqlal, Jakarta.
Dalam orasi tersebut disampaikan bahwa tugas ulama dan kader dakwah ke depan semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi, termasuk penggunaan gawai atau gadget, dinilai menghadirkan tantangan baru dalam menjaga umat dari informasi yang menyesatkan maupun pembelokan nilai.
Kader ulama karena itu dinilai membutuhkan kekuatan spiritual, kedalaman ilmu, kepekaan terhadap kondisi sosial, ketangguhan serta keikhlasan sebagai bekal dalam menjalankan tugas dakwah.
“Setan gepeng” disebut sebagai istilah untuk menggambarkan gadget yang dapat menjadi sarana masuknya berbagai informasi kepada masyarakat tanpa batas. Karena itu, kemampuan menyaring informasi menjadi bagian penting dari ketahanan umat di era digital.
Dalam orasi tersebut, kader ulama disebut perlu memiliki lima kualitas utama.
Pertama, ilmu pengetahuan yang luas dan berkualitas.
Ulama dan kader dakwah dituntut memiliki penguasaan ilmu yang memadai agar mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat. Kedalaman ilmu menjadi fondasi dalam menjalankan tugas dakwah dan memberikan panduan kepada umat.
Kedua, memahami situasi dan kondisi.
Pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar membutuhkan pemahaman terhadap keadaan masyarakat. Dakwah tidak hanya membutuhkan keberanian menyampaikan kebenaran, tetapi juga kemampuan membaca situasi dan kondisi agar pesan yang disampaikan dapat diterima secara tepat.
Ketiga, memiliki kepekaan dan bashirah.
Kader ulama diharapkan mempunyai bashirah atau kejernihan pandangan untuk membedakan berbagai arus informasi, termasuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital yang memungkinkan berbagai pandangan, informasi dan narasi beredar dengan sangat cepat.
Keempat, memiliki ketangguhan dan daya tahan.
Kader ulama harus memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk upaya pembelokan dan penyesatan. Ketangguhan tersebut diperlukan agar kader dakwah tidak mudah goyah dalam menjalankan amanah.
Resilience atau ketahanan menjadi salah satu bekal penting bagi ulama dan kader dakwah untuk menghadapi perubahan sosial serta tantangan informasi di era digital.
Kelima, ikhlas dalam perjuangan.
Kader ulama diharapkan menjalankan perjuangan dakwah dengan keikhlasan, semata-mata karena Allah SWT dan demi kemuliaan Islam.
Selain menyampaikan lima kualitas tersebut, orasi ilmiah juga menekankan dua tugas utama ulama dalam kehidupan umat.
Pertama, Himayatun Ummah wa Wiqayatun Ummah, yakni menjaga dan melindungi umat dari berbagai upaya pembelokan.
Kedua, Al-Islah wal-I’adah, yakni memperbaiki dan mengembalikan mereka yang telah terpengaruh atau mengalami pembelokan.
Dua tugas tersebut menunjukkan bahwa peran ulama tidak berhenti pada penyampaian ilmu agama. Ulama juga memiliki tanggung jawab untuk membimbing, menjaga dan membantu masyarakat menghadapi berbagai perubahan yang dapat memengaruhi kehidupan keagamaan dan sosial.
Di tengah perkembangan teknologi digital, kader ulama dituntut mampu memahami perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan spiritual dan keilmuan.
Kedalaman ilmu, kemampuan membaca keadaan, kejernihan dalam melihat persoalan, ketangguhan serta keikhlasan menjadi bekal yang diharapkan dapat memperkuat peran kader ulama dalam memberikan manfaat bagi umat, negara dan masyarakat global.
Pesan tersebut disampaikan dalam momentum Wisuda Pengukuhan Kader Ulama Masjid Istiqlal ke-III yang menjadi bagian dari upaya mempersiapkan kader ulama untuk menghadapi tantangan dakwah dan kehidupan masyarakat yang terus berkembang.
