NU Itu Baik-Baik Saja, Kok. Namanya Juga Rumah Besar, Mau Hajatan Memang Sering Gegeran

0
1787551888635

JAKARTA — Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) kembali menjadi perhatian menjelang hajatan besar organisasi. Perbedaan pandangan, silang pendapat, adu gagasan hingga perdebatan keras kerap muncul ketika organisasi sebesar NU memasuki momentum penting.

Namun, keramaian tersebut tidak serta-merta dapat diartikan sebagai tanda bahwa NU sedang terpecah.

NU merupakan organisasi kemasyarakatan Islam dengan basis warga yang sangat besar dan latar belakang yang beragam. Di dalamnya terdapat kiai, santri, akademisi, aktivis, pengusaha, politisi hingga warga Nahdliyin di berbagai daerah.

Dengan jumlah anggota dan keragaman pemikiran tersebut, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang sulit dihindari.

Rumah Besar Memang Tidak Pernah Sepi

NU bukan organisasi kecil yang hanya memiliki sedikit penghuni dengan satu pandangan.

Sebagai rumah besar, NU memiliki banyak kelompok, tokoh dan jaringan yang masing-masing memiliki pengalaman serta perspektif berbeda. Ketika memasuki momentum besar seperti Muktamar, dinamika internal pun menjadi lebih terlihat.

Karena itu, perdebatan tidak selalu berarti perpecahan.

Justru organisasi yang sehat membutuhkan ruang untuk menyampaikan kritik, menguji gagasan dan memperdebatkan arah kebijakan. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan tersebut berubah menjadi konflik yang merusak persaudaraan.

Fenomena seperti ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam perjalanan NU. Organisasi tersebut telah melewati berbagai dinamika kepemimpinan, perbedaan pilihan politik, perubahan zaman hingga pergulatan gagasan di internalnya.

Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan NU Pecah

Setiap kali muncul ketegangan internal, selalu ada narasi yang menggambarkan seolah-olah NU berada di ambang kehancuran.

Satu perbedaan dapat dibaca sebagai perang. Satu perdebatan dianggap sebagai keretakan. Padahal, bisa saja dinamika tersebut merupakan bagian dari proses organisasi dalam menentukan pilihan.

Perbedaan pandangan menjelang sebuah hajatan besar justru dapat menunjukkan bahwa banyak pihak memiliki perhatian terhadap masa depan organisasi.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perbedaan tersebut dikelola setelah kontestasi selesai.

Dalam tradisi sosial-keagamaan NU, hubungan antarkiai, santri, pesantren, jaringan keilmuan dan ikatan kultural memiliki dimensi yang panjang. Perbedaan pilihan dalam sebuah momentum tidak selalu menghapus hubungan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Hari ini berbeda pandangan, besok bisa kembali duduk bersama.

Kemarin berdebat, hari ini bisa ngopi dan berdiskusi kembali.

Setelah Hajatan, Rumahnya Tetap Sama

Karena itu, dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU sebaiknya tidak hanya dilihat dari seberapa keras perdebatan yang terjadi.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah seluruh pihak mampu menjaga persaudaraan setelah proses organisasi selesai.

Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Kritik dan adu gagasan bahkan diperlukan agar organisasi tidak berjalan tanpa kontrol.

Namun, terdapat batas yang harus dijaga, yaitu persaudaraan.

NU telah berulang kali melewati masa-masa penuh dinamika. Pergantian kepemimpinan dan perbedaan pilihan tidak otomatis membuat seluruh warga Nahdliyin meninggalkan rumah yang sama.

Karena itu, terlalu cepat menyimpulkan bahwa setiap keramaian merupakan tanda kehancuran NU juga tidak tepat.

Bisa jadi, keramaian tersebut hanya menunjukkan bahwa sebuah rumah besar sedang mempersiapkan hajatan.

Silakan berbeda pendapat. Silakan adu gagasan. Silakan mengkritik dan saling mengingatkan. Tetapi perbedaan tersebut tetap perlu ditempatkan dalam semangat persaudaraan.

NU boleh ramai di ruang tamu. Perdebatan boleh terdengar sampai dapur. Namun, selama fondasi persaudaraan tetap dijaga, dinamika tersebut tidak serta-merta berarti rumah besar itu runtuh.

Dan bagi siapa pun yang berharap NU benar-benar pecah hanya karena sedang ramai, sejarah organisasi ini menunjukkan bahwa persaudaraan warga Nahdliyin memiliki daya tahan yang panjang.

Setelah hajatan selesai, mereka yang berbeda pandangan bisa kembali duduk bersama.

Rumahnya tetap satu. Persaudaraannya tetap ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *