Nanopartikel Aktif Cahaya Bantu Bedah dan Hancurkan Sel Kanker Otak Glioblastoma

0
IMG-20260807-WA0034(1)

JAKARTA – Terobosan baru dalam nanomedicine membuka peluang untuk meningkatkan presisi penanganan glioblastoma, salah satu jenis kanker otak paling agresif dan sulit diobati. Tim peneliti dari University of Technology Sydney (UTS), Harvard University, dan Henan University mengembangkan nanopartikel yang dapat diaktifkan menggunakan cahaya untuk membantu ahli bedah mengidentifikasi jaringan tumor sekaligus menghancurkan sel kanker yang tersisa setelah operasi.

Teknologi tersebut dikembangkan sebagai platform nanozyme dengan konsep “double-punch”. Satu platform nanopartikel dirancang untuk menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni membantu visualisasi tumor selama pembedahan dan memberikan terapi tertarget setelah jaringan tumor utama diangkat.

Penemuan ini menjadi penting karena salah satu tantangan terbesar dalam pengobatan glioblastoma adalah sulitnya memastikan seluruh sel kanker terangkat tanpa merusak jaringan otak yang sehat.

Nanopartikel Bantu Ahli Bedah Melihat Tumor Lebih Presisi

Glioblastoma dikenal memiliki karakter infiltratif. Sel kanker dapat menyusup ke jaringan otak di sekitar tumor utama sehingga batas antara jaringan tumor dan jaringan sehat tidak selalu mudah dibedakan selama operasi.

Dalam penelitian tersebut, platform nanozyme menggunakan lembaran ultratipis yang direkayasa pada tingkat atom. Teknologi ini dirancang agar dapat membantu pencitraan tumor selama prosedur pembedahan sekaligus digunakan kembali untuk terapi setelah operasi.

Pewarna fluoresen pada nanopartikel memungkinkan jaringan tumor terlihat dengan lebih jelas. Dalam pengujian, teknologi tersebut mampu membantu mengidentifikasi klaster sel tumor berukuran hingga sekitar 44 mikrometer.

Nanopartikel juga dilengkapi molekul penarget yang dirancang untuk membantu mencapai jaringan glioma dan meningkatkan akumulasi partikel pada sel tumor.

Profesor Shi Bingyang dari UTS menggambarkan teknologi tersebut sebagai alat yang dapat berfungsi seperti panduan presisi bagi ahli bedah selama operasi, kemudian digunakan sebagai terapi pembersihan terhadap sel kanker yang masih tersisa setelah pembedahan.

Aktif Kembali dengan Sinar Inframerah-dekat

Keunggulan lain platform ini terletak pada kemampuannya menggunakan cahaya inframerah-dekat sebagai pemicu terapi.

Setelah operasi, nanopartikel yang telah berada di sekitar sel tumor dapat kembali diaktifkan menggunakan cahaya. Aktivasi tersebut dirancang untuk menghasilkan efek terapeutik yang dapat merusak sel kanker yang tersisa.

Pendekatan tersebut menawarkan konsep terapi yang lebih terarah. Alih-alih menggunakan satu pendekatan untuk seluruh proses pengobatan, nanopartikel yang sama dirancang untuk membantu dokter mengenali target selama operasi sekaligus menjalankan fungsi terapeutik setelah pembedahan.

Strategi ini berpotensi membantu mengatasi salah satu persoalan utama glioblastoma, yakni tingginya risiko kekambuhan akibat masih adanya sel tumor mikroskopis yang tertinggal setelah operasi.

Glioblastoma Masih Menjadi Tantangan Besar

Glioblastoma merupakan salah satu kanker otak paling agresif. Selain kemampuannya menyusup ke jaringan di sekitarnya, pengobatannya juga menghadapi hambatan berupa sawar darah-otak atau blood-brain barrier.

Sawar tersebut berfungsi melindungi otak dari berbagai zat berbahaya, tetapi pada saat yang sama dapat membatasi kemampuan sejumlah obat untuk mencapai jaringan otak dalam konsentrasi yang dibutuhkan.

Kondisi tersebut membuat kombinasi pembedahan, radioterapi, dan terapi obat masih menghadapi tantangan besar. Bahkan setelah tumor utama berhasil diangkat, sel kanker yang tersisa dapat berkembang kembali.

Karena itu, teknologi yang mampu membantu dokter melihat batas tumor dengan lebih baik sekaligus menargetkan sisa sel kanker menjadi salah satu bidang penelitian yang terus berkembang.

Masih Tahap Penelitian, Belum Menjadi Terapi untuk Pasien

Meski hasil awal penelitian menunjukkan potensi menjanjikan, teknologi nanopartikel tersebut belum dapat dianggap sebagai terapi kanker otak yang siap digunakan pada manusia.

Pengujian yang dilaporkan sejauh ini dilakukan pada model mencit. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan keamanan, efektivitas, distribusi nanopartikel, respons jaringan otak, serta kemampuan teknologi tersebut bekerja secara konsisten pada manusia.

Tahapan penelitian dan uji klinis akan menjadi faktor penting sebelum teknologi ini dapat dipertimbangkan untuk penggunaan medis secara luas.

Jika keamanan dan efektivitasnya nantinya terbukti dalam penelitian pada manusia, platform nanozyme berbasis cahaya tersebut berpotensi menghadirkan pendekatan baru dalam penanganan glioblastoma.

Teknologi ini sekaligus menunjukkan bagaimana nanomedicine, pencitraan medis, dan terapi berbasis cahaya mulai dipadukan untuk menghadirkan pengobatan yang semakin presisi.

Namun, bagi pasien dan keluarga yang menghadapi glioblastoma, temuan ini masih merupakan perkembangan penelitian, bukan pengganti terapi yang telah direkomendasikan dokter. Konsultasi dengan tenaga medis tetap menjadi langkah utama dalam menentukan pilihan pengobatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *